SURABAYAONLINE.CO, Banyuwangi – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Ketua Kwarda Pramuka Jatim dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim Arum Sabil melaksanakan panen jagung hasil tanam kuartal IV tahun 2025. Kegiatan ini diadakan di Pusat Pelatihan Pertanian Taruna Bumi, Green Farm, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (28/2).

Total lahan panen seluas 50 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 10 hektare telah memasuki masa panen dengan estimasi produktivitas 8-10 ton per hektare.

Bukan sembarangan. Jagung yang dipanen merupakan jagung hibrida jenis Jenderal dengan sistem panen glondong. Tanaman tersebut ditanam pada 9 November 2025 dan dipanen pada hari ini, mencerminkan proses budi daya yang terencana dan pengelolaan yang disiplin.

Secara khusus, Gubernur Khofifah mengapresiasi kuatnya sinergi antara Polda Jawa Timur, Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Timur, dan HKTI Jawa Timur dalam kegiatan panen jagung tahun 2026

Menurut Khofifah, kolaborasi lintas sektor tersebut merupakan wujud nyata penguatan kedaulatan pangan daerah. Sekaligus kontribusi strategis Jawa Timur dalam menjadi lumbung pangan nasional serta menjaga ketahanan pangan nasional.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polda Jatim, Kwarda Pramuka Jatim, dan HKTI Jatim yang telah menunjukkan sinergi produktif dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan,” ujar Khofifah.

Khofifah menjelaskan bahwa Jawa Timur saat ini tercatat sebagai produsen jagung terbesar nasional. Berdasarkan data BPS tahun 2025, total produksi jagung Jawa Timur mencapai 4,59 juta ton atau berkontribusi sebesar 28,39 persen terhadap produksi nasional, dengan luas panen 758.469 hektare dan menjadi yang tertinggi di Indonesia.

“Namun capaian ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Keberlanjutan harus dijaga melalui regenerasi petani dan modernisasi pertanian agar produksi terus meningkat dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga fondasi stabilitas sosial dan ekonomi. Di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika perdagangan global, sektor pertanian memerlukan strategi komprehensif dan kolaborasi lintas sektor.

Khofifah juga menyoroti peran strategis Gerakan Pramuka dalam menjawab tantangan regenerasi petani. Melalui keterlibatan langsung dalam proses budi daya, anggota Pramuka mendapatkan pembelajaran kontekstual dari hulu hingga hilir.

Khofifah berharap model sinergi antara aparat kepolisian, organisasi kepemudaan, organisasi petani, dan pemerintah daerah ini dapat terus diperkuat dan direplikasi di seluruh kabupaten-kota di Jawa Timur.(*)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version