SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Pemkot Surabaya berkolaborasi dengan Koso Nippon dalam Program Review Pendampingan Pengembangan Usaha Mikro yang digelar di Ruang Praban Lantai 3, Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Jumat (13/2). Koso Nippon merupakan lembaga independen asal Jepang yang berfokus pada reformasi kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, serta pendampingan evaluasi program berbasis partisipasi masyarakat.
Kerja sama ini menjadi wujud nyata kemitraan internasional yang berorientasi pada peningkatan kapasitas, penguatan UMKM, serta pengembangan ekonomi lokal. Sebagai kota perdagangan dan jasa, Surabaya terus memperluas jejaring global guna meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus kualitas sumber daya manusia.
Kepala Bappeda Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menegaskan bahwa pendekatan review yang melibatkan warga sebagai penilai merupakan praktik baik dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan.
“Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting untuk memastikan kebijakan dan program yang dirancang benar-benar responsif terhadap kebutuhan di lapangan. Evaluasi yang jujur, terbuka, dan konstruktif akan menjadi dasar perbaikan berkelanjutan,” ujar Irvan.
Irvan juga menilai diskusi pengembangan UMKM bersama mitra Jepang menjadi momentum penting untuk memperkuat akses pasar, meningkatkan kualitas produk, serta membuka peluang kolaborasi investasi. Pemkot Surabaya, kata dia, berkomitmen mengintegrasikan hasil evaluasi dan masukan ke dalam proses perencanaan pembangunan daerah agar program ke depan semakin terukur, efektif, dan berdampak luas.
Setiap tahun, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Koso Nippon untuk melakukan review kebijakan maupun program. Dua tahun lalu, evaluasi dilakukan terhadap program permakanan, tahun berikutnya pada program lansia, dan tahun ini difokuskan pada pendampingan UMKM.
“Saat ini terdapat 13.329 UMKM yang didampingi, dengan target seluruhnya memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) serta memperoleh pendampingan pengembangan usaha dan peningkatan kelas agar omzet terus meningkat,” jelasnya.
Salah satu contoh keberhasilan pendampingan terlihat dari digitalisasi UMKM melalui aplikasi e-Peken. Transaksi dari Oktober 2021 hingga Januari 2026, dalam kurun empat tahun, omzet e-Peken telah menembus sekitar Rp223,2 miliar dan sukses memberdayakan 4.852 usaha masyarakat.
Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinkopumdag Surabaya Tatik Lely Juwita menyatakan bahwa kegiatan review ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya masukan, saran, dan kritik sebagai kunci agar program pendampingan tetap relevan dan tepat sasaran. Tujuan utama dari pendampingan tersebut adalah mendorong usaha mikro agar semakin mandiri dan memiliki daya saing.
Sementara itu, Program Manager Koso Nippon Taki Kitada menyampaikan bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak lama. Enam tahun lalu, Surabaya menjadi salah satu daerah uji coba program review di Indonesia. Menurutnya, Surabaya sebagai kota besar dengan tantangan besar dapat menjadi benchmark bagi daerah lain jika program ini berhasil. “Inisiatif pendampingan UMKM tahun ini sepenuhnya berasal dari Pemkot Surabaya, kami membantu proses review dan monitoring,” jelas Kitada. (*)


