SURABAYAONLINE.CO – Surabaya kembali menjadi saksi perjalanan kreatif Ren Katili, seorang arsitek yang kini merambah dunia sastra melalui novel perdananya berjudul BUGARU (Bukan Garis Lurus). Setelah sukses diluncurkan di Jakarta dan Yogyakarta, Surabaya menjadi kota ketiga dalam rangkaian acara Launching & Bedah Buku Novel BUGARU.
Acara ini berlangsung di Aps3 Social Hub Kampi Hotel Surabaya, pada Rabu (4/2/2026). Dihadiri oleh teman-teman kecil, sahabat sekolah, hingga rekan sesama arsitek yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan karier Ren Katili.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat Ren Katili mengundang Mbak Pipit, sahabatnya sejak SMP, ke atas panggung. Keduanya kini memiliki profesi yang sama sebagai arsitek. Tidak hanya nostalgia, momen ini juga menandai kolaborasi profesional, di mana Ren Katili secara terbuka mengajak Mbak Pipit untuk mengerjakan beberapa proyek arsitektur di Surabaya dan Jakarta.
Sebelum menulis, Ren Katili yang akrab disapa eng juga mempunyai panutan. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh gaya penulisan Aditya Mulya, yang menjadi salah satu referensinya dalam menulis novel ini.
“Ini novel pertama saya. Saya harus punya panduan. Dari semua buku yang saya baca, baru satu novel yang bikin saya bisa nangis, ketawa, dan senang bareng—itu yang jadi acuan.”
Sebagai arsitek, Ren Katili mengakui proses menulis BUGARU bukanlah hal mudah. Ia bukan penulis profesional dan menyadari tulisannya mungkin tidak sempurna. Namun justru di situlah keunikan novel ini lahir.
“Kalau saya menulis, itu seperti memutar film di kepala,” jelasnya.
“Tantangannya adalah bagaimana menuangkan bayangan itu menjadi kata-kata, dialog yang punya emosi. Kata-kata itu dirancang, seperti merancang ruang.”
Ren menyamakan proses menulis dengan merancang arsitektur—ada ruang yang langsung terasa romantis, ada ruang yang membuat orang hening, marah, atau tersentuh.
“Saya ingin tulisan juga punya efek seperti itu.”
Pendekatan ini membuat BUGARU terasa visual, reflektif, dan emosional. Bahkan, salah satu arsitek yang telah membaca novel ini berkomentar,
“Mas, ini kayaknya bukan novel, ini perspektif.”
Ren Katili menegaskan bahwa BUGARU (Bukan Garis Lurus) bukanlah novel yang menawarkan solusi hidup instan. Tidak ada tokoh antagonis yang jelas, karena menurutnya, antagonis dalam cerita ini adalah kehidupan itu sendiri.
“Ini bukan buku yang bilang hidup kamu harus begini atau begitu,” ujarnya.
“Ini lebih ke preferensi, bagaimana ketika hidup memberi sesuatu, ya dihadapi saja. Ini tentang keikhlasan.”
BUGARU (Bukan Garis Lurus) adalah novel yang mengangkat perjalanan hidup seorang arsitek lintas kota dan lintas fase kehidupan. Cerita ini memadukan dunia arsitektur, relasi manusia, memori kota, aroma, dan pencarian makna hidup yang tidak selalu berjalan lurus.
Melalui acara Launching & Bedah Buku BUGARU, Ren Katili membuka ruang diskusi tentang hubungan antara ruang, kota, profesi, dan perjalanan personal manusia. Novel ini juga digadang-gadang memiliki potensi sebagai intellectual property (IP) yang dapat berkembang ke medium lain.
Dengan gaya penceritaan yang reflektif dan arsitektural, BUGARU hadir sebagai karya unik yang tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan.


