SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Pemkot Surabaya menggandeng perguruan tinggi untuk merumuskan strategi menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi heptahelix dalam mewujudkan visi Surabaya 2025-2029 menuju kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi (rakor) yang digelar di Graha Sawunggaling, Gedung Pemkot Surabaya, Rabu (14/1). Rakor ini diikuti para kepala perangkat daerah (PD) bersama lebih dari 100 rektor atau perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Surabaya.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menegaskan peran perguruan tinggi sangat strategis dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi ke depan.
Agus menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi kata kunci utama. Menurutnya, arah kebijakan nasional juga menargetkan pertumbuhan yang tinggi dalam beberapa tahun ke depan. “Jadi, kata kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi tidak boleh rendah. Bahkan diharapkan dalam waktu sampai dengan 4 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo bisa mencapai angka 8 persen,” katanya.
Agus menjelaskan, Pemkot Surabaya telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah (TP2ID) yang didukung Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil kajian tim tersebut menunjukkan bahwa tantangan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tidak bersifat tunggal.
Menurut Agus, riset mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 selalu berangkat dari persoalan. Jika informasi kebutuhan daerah dan kampus dapat dikolaborasikan, hal itu diyakininya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Surabaya.
Di waktu yang sama, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, memaparkan capaian indikator makro pembangunan sekaligus arah sinergi Surabaya depan. Utamanya, dalam pengembangan ekonomi kreatif dan peran generasi Z.
Irvan menyampaikan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya pada 2025 meningkat menjadi 85,65 dari sebelumnya 84,69. Nilai investasi juga naik dari Rp40,48 triliun pada 2024 menjadi Rp43,6 triliun pada 2025.
Pada tahun 2026, Pemkot Surabaya telah menetapkan sejumlah target makro pembangunan, antara lain tingkat Kemiskinan 3,48 persen dan TPT 4,47 persen. Sedangkan IPM ditargetkan mencapai 85,26, Indeks Gini berada pada rentang 0,348-0,375, dan Pertumbuhan Ekonomi sebesar 5,80 persen.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya Arrief Chandra Setiawan, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.
“Perguruan tinggi berperan penting dalam perekonomian Kota Surabaya. Maka dalam penyusunan perekonomian, BPS mengajak perguruan tinggi berpartisipasi dalam survei BPS dengan mengisi mandiri yang telah dikirimkan pada email perguruan tinggi,” ujar Arrief.(*)


