SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Ratusan massa aksi penolakan relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke Tambak Oso Wilangun (TOW) membubarkan diri dari Balai Kota Surabaya sekitar pukul 13.30 WIB, Selasa (13/1). Namun, massa mengancam akan kembali menggelar aksi lanjutan pada Rabu (14/1).
Para pedagang dan jagal RPH Pegirian berencana melakukan aksi selama empat hari berturut-turut. Jika pada hari sebelumnya massa membawa sapi, maka mulai besok mereka akan membawa peralatan memasak hingga tenda.
“Bawa peralatan dapur, peralatan salat, bawa tenda. Besok kita akan demo lagi. Kita kompak. Tolong ibu-ibunya tolong besok bawa kompor, alat nasi, kita makan di sini sampai tuntutan kita dipenuhi, biar tidak ada akses. Daripada anarkis besok kita kembali ke sini,” kata orator di depan gerbang Balai Kota Surabaya, Selasa (13/1).
Massa memilih membubarkan diri setelah situasi sempat memanas karena tidak ditemui Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Meski demikian, para pedagang dan jagal Pegirian menegaskan tidak akan berhenti melakukan aksi hingga tuntutan mereka direspon. “Sekarang kita tidak diberikan jawaban. Mungkin besok dikasih info, walaupun sedikit,” ujarnya.
Sebelumnya, Koordinator Jagal dan Pedagang Daging Sapi se-Kota Surabaya, Abdullah Mansyur, menegaskan aksi akan berlangsung selama empat hari, terhitung sejak Senin (12/1). “Aksinya itu selama empat hari,” tegas Mansyur.
Sementara itu, Pemkot Surabaya menerima aspirasi jagal RPH Pegirian yang menolak pindah. Aspirasi tersebut diterima secara langsung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, M. Fikser dan Direktur Utama (Dirut) PT RPH Surabaya Perseroda Fajar Arifianto Isnugroho di Balai Kota, pada Senin (12/1).
Fikser mengatakan, kali ini Pemkot Surabaya menerima 10 orang perwakilan jagal yang menggelar aksi demonstrasi di balai kota. Fikser menyampaikan, para jagal tersebut menolak pindah dari RPH Pegirian ke RPH Osowilangun.
Fikser menegaskan, bahwa rencana pemindahan RPH ini sudah disosialisasikan sejak tahun 2016. Pemindahan RPH tersebut juga bagian dari rencana pembangunan Kota Surabaya dalam penataan kawasan wisata religi Ampel.
“Mereka minta untuk tidak dipindah, tapi kami coba jelaskan bahwa program ini sudah sejak tahun 2016 dan sudah direncanakan dalam rencana pembangunan kota. Kemudian pemerintah kota juga saat ini lagi melakukan penataan kota untuk kawasan Religi,” tegas Fikser.
Fikser menerangkan, meskipun ada penolakan pemkot tetap menerima aspirasi dan melakukan pendekatan-pendekatan, agar ditemukan solusi terbaik. Dalam pertemuan tersebut, lanjut Fikser, pemkot juga menyampaikan kesiapan dalam melakukan pemindahan RPH Pegirian ke RPH Osowilangun.
Sementara itu, Dirut PT RPH Surabaya Perseroda Fajar Arifianto Isnugroho menambahkan, secara fungsi RPH Osowilangun sudah siap digunakan. Fajar juga menyebutkan bahwa yang berpindah ke Osowilangun adalah hanya RPH saja. Sedangkan Pasar Arimbi sebagai sentra daging terbaik di Surabaya tidak pindah tempat.
“Kami memberi kesempatan kepada para jagal sampai akhir Idul Fitri, terakhir akhir Maret. Setelah itu semua jagal berpindah ke Osowilangun. Jadi selama Januari, Februari, Maret, RPH memanfaatkan dua RPH sekaligus secara paralel, tujuannya untuk mengecek apakah RPH yang sudah sesuai atau tidak,” paparnya.(*)


