SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Kota Surabaya memiliki ikon baru di wilayah Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Ikon tersebut berupa monumen Ayam Jago yang dijadikan sebagai tetenger, atau penanda sejarah dari perjuangan Joko Berek alias Raden Sawunggaling yang menjadi legenda di Kota Pahlawan.
Camat Lakarsantri Yongky Kuspriyanto Wibowo mengatakan, monumen Ayam Jago ini sebagai penanda cikal bakal berdirinya Kota Surabaya. Yongky menyebutkan, menurut cerita para sesepuh di wilayah Kecamatan Lakarsantri, Joko Berek atau yang biasa dikenal Raden Sawunggaling merupakan anak dari Adipati Jayengrono, seorang raja yang berkuasa di Kadipaten Surabaya pada zaman dulu.
Kala itu, Yongky menjelaskan, bahwa Joko Berek memiliki hobi memelihara dan adu ayam jago. Singkat cerita, Joko Berek yang saat itu hanya tinggal bersama Ibunya, yakni Biyung Dewi Sangkrah, menanyakan keberadaan ayahnya. Dewi Sangkrah lantas menjawab pertanyaan Joko Berek, bahwa ayahnya adalah seorang Adipati bernama Jayengrono.
“Saat itu Joko Berek diberi ibunya (Dewi Sangkrah) sehelai selendang warna kuning. Katanya, kalau ingin mencari keberadaan ayahnya, agar membawa selendang kuning itu ke Kadipaten Surabaya, tempat kerajaan Jayengrono,” jelas Yongky, Selasa (9/9).
Monumen Ayam Jago ini diletakkan di antara ruas Jalan Raya Menganti, Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya. Letaknya tak jauh dari kawasan Makam Raden Sawunggaling di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri.
Dirinya berharap, adanya monumen tersebut wisata sejarah sekaligus religi di kawasan Lidah Wetan bisa terus meningkat ke depannya. Untuk saat ini, ia menyebutkan, akan terus meningkatkan infrastruktur penunjang lainnya agar kawasan wisata tersebut semakin menarik untuk dikunjungi ke depannya.
Di samping itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan, M. Andi Bocor mengatakan, berdasarkan cerita dari para leluhur di kawasan Lidah Wetan, sebelumnya monumen ayam jago itu sudah ada. Namun, pada saat zaman kolonial Belanda monumen itu hilang.
Karena monumen yang dibangun oleh leluhur warga Lidah Wetan hilang, lanjut Andi, akhirnya warga menggelar napak tilas berjalan kaki menuju ke Balai Kota Surabaya. “Nah, saat di balai kota saat itu ditemui oleh Wali Kota (Eri Cahyadi) akhirnya warga serempak meminta dibangunkan kembali benteng atau monumen ayam jago. Karena sebelumnya sudah pernah ada, zaman Belanda dulu, dibangun oleh leluhur,” kata Andi.
Andi mengungkapkan, tinggi monumen yang lama tidak setinggi monumen Ayam Jago yang baru saat ini. Monumen yang ada saat ini tingginya mencapai 7 meter. Pembuatan monumen ini juga melibatkan seniman asal Kota Surabaya. “Melibatkan seniman Kota Surabaya, pembuatannya kurang lebih sekitar 2-3 minggu,” ujarnya.
Ia berharap, adanya monumen ini bisa mendongkrak wisata seni budaya tradisional di kawasan Surabaya barat. Selain itu, ia juga berharap, setelah monumen ini jadi akan ada pembangunan infrastruktur penunjang secara bertahap ke depannya.
“Ketika monumen ini nanti dibuat sebuah wisata edukasi anak-anak itu kan juga membutuhkan tempat dan lahan yang tersedia. Karena kearifan lokal itu bisa bisa juga menjadi sarana wisata sejarah, di situ juga kan ada makam Joko Berek Sawunggaling, dan bisa jadi wisata religi juga dan itu bisa disinergikan,” pungkasnya. (*)


