SURABAYAONLINE.CO – Batik adalah salah satu kekayaan Nusantara yang sudah dikenal sejak awal abad ke-19. Saat itu hanya satu jenis batik yang berdasarkan cara pembuatannya, yakni batik tulis.
Kemudian di awal abad ke-20 atau sekitar tahun 1920-an, masyarakat mengenal batik cap yang lebih praktis dalam membuatnya. Batik termasuk kesenian gambar di atas kain untuk pakaian para raja zaman dulu. Awalnya, batik terbatas untuk kalangan keraton saja. Namun lantaran banyak pengikut raja yang tinggi di luar keraton, maka batik pun tersebar ke seantero negeri.
Batik pertama kali diperkenalkan ke pentas dunia oleh Presiden Soeharto, saat menghadiri konferensi PBB pada pertengahan 80-an. Sampai saat ini, Istana juga masih menjadikan batik sebagai salah satu cindera mata bagi para tamu kenegaraan.
Batik semakin dikenal dalam kancah dunia internasional, saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC II di Bogor, Jawa Barat, pada 1994. Pemerintah menyiapkan batik tulis untuk kepala negara yang dibuat dengan corak dan simbol dari negara-negara peserta.
Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton hingga Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad juga memakai batik dalam acara tersebut. Alhasil, setiap KTT APEC berikutnya, kepala negara peserta wajib menggunakan pakaian nasional tuan rumah untuk foto bersama.
UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi atau Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009. Ada dua makna batik, yakni warisan kebudayaan dari nenek moyang dan sebuah karya yang menjadi sandaran kehidupan.
Kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan Hari Batik Nasional jatuh pada tanggal 2 Oktober. Keputusan ini ditetapkan pada 17 November 2009. (Windi)


