SURABAYAONLINE.CO – Dinamika pergerakan saham BTPN Syariah mengalami pergerakan yang cukup aktif selama tahun 2021. Namun di balik pergerakan harga tersebut, sebenarnya kinerja keuangan emiten bank Syariah yang masuk ke dalam golongan KBMI II menurut POJK 12/2021 ini cukup solid, tercermin dengan kinerja yang positif di semester I.
Hingga semester I tahun ini, total pembiayaan yang disalurkan oleh BTPS menyentuh Rp 10,05 triliun atau tumbuh 15% YoY. Di saat yang sama Cost of Financing tercatat mencapai 5,1% atau 10 bps lebih tinggi dari batas atas management guidance.
Dilihat dari struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) BTPS masih didominasi oleh deposito yang mencapai Rp 8,35 triliun atau tumbuh 11% YoY hingga bulan keenam tahun ini.
Kontribusinya mencapai 78,6% DPK. Meskipun dana murah (CASA) BTPS porsinya masih di bawah 20%, tetapi pertumbuhannya lebih tinggi dibanding deposito. CASA meningkat 16% YoY menjadi Rp 2,27 triliun pada periode yang sama. Peningkatan proporsi CASA turut menurunkan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) BTPS ke level terendah di 4,2%.
Tidak hanya itu, BTPS bahkan menjadi perbankan yang leader di industrinya bahkan masih tetap memimpin dari berbagai segi mulai dari permodalan (CAR), kualitas aset (NPF), efisiensi (BOPO), hingga profitabilitasnya (NOM & ROA).
Meskipun imbal hasil (yields) dari aset produktif cenderung sulit naik secara signifikan akibat Credit Cost yang juga ikut naik, tetapi penurunan tajam pada CoF didukung dengan efisiensi operasional yang tercermin dari rendahnya BOPO di level 56,8% pada paruh pertama 2021 membuat PPOP melonjak 32,8% YoY menjadi Rp 1,24 triliun. Sementara itu laba bersihnya mencapai Rp 770 miliar di saat yang sama atau melesat 89,3% YoY.
Kualitas aset yang tercermin dari Non Performing Financing (NPF) juga tetap terjaga di level yang rendah di 2,4% secara gross. Di tengah pandemi Covid-19 perbankan menjadi salah satu industri yang ikut terdampak.
Bagi bank, permodalan yang kuat akan membantu institusi keuangan untuk tetap resilient dalam menghadapi shock atau krisis. Hingga semester I tahun ini rasio kecukupan modal (CAR) BTPS tergolong sangatlah tinggi di angka 52%.
Kombinasi antara strategi optimalisasi portofolio penyaluran pembiayaan, peningkatan proporsi dana murah hingga operasional yang efisien menjadi kunci utama solidnya top line dan bottom line BTPS.


