SMPN 2 Randuagung Diduga Pungli Pembelian Atribut.

  • SURABAYAONLINE,CO, GRESIK – Aneh, UPT SMPN 22 Gresik mewajibkan 288 siswa kelas IX yang sudah dinyatakan lulus, untuk membeli atribut sekolah yang totalnya sebesar Rp 67.780.000.

Kasus pungli di sekolah yang dulu bernama SMPN 2 Randuagung Kecamatan Kebomas ini, sekarang ramai jadi perbincangan apalagi beredar screenshot pembicaraan antara seorang siswa dengan guru wali kelasnya melalui aplikasi WhatsApp.

Dalam screenshot itu, guru tersebut memaksa murid untuk membayar Rp 325 ribu. Sementara si murid terang- terangan menolak, dengan alasan dirinya sudah dinyatakan lulus sekolah.

Siswa itu menulis, sesuai pesan orangtuanya tidak membeli atribut. Selain tidak mungkin dipakai, dirinya juga butuh uang untuk masuk SMA.

Namun guru itu tetap memaksa siswa itu, untuk membayar. “Tidak semua orang tua punya uang lebih untuk bayar atribut,” balas siswa tersebut

Seorang wali murid lainnya menyatakan, sangat keberatan membayar Rp 325 ribu. Karena atribut itu jelas tidak mungkin dipakai, apalagi seragam olahraga yang dibeli saat tahun ajaran baru lalu sampai sekarang juga tidak dipakai karena sekolah melalui daring.

“Saya barusan bayar Rp 325 ribu untuk buku kenangan, sekarang disuruh bayar untuk atribut. Buat apa atribut, wong anak saya sudah dinyatakan lulus,” ujarnya.

Yang membuatnya curiga, pembayaran buku kenangan tidak disertai bukti pelunasan. Siswa yang sudah membayar, namanya hanya dicentang di lembar kertasabsen uang disiapkan sekolah.

Di sekolah yang terletak di kompleks perumahan BP Randuagung, jumlah siswa kelas IX yang lulus sebanyak 288 orang yang terbagi di 9 kelas.

Apabila setiap siswa membayar Rp 325 ribu, maka sekolah akan mendapat pemasukan Rp 67.680. 000.

Sedangkan bila digabung dengan pembayaran buku kenangan, maka diakhir tahun ajaran inii sekolah mendapat pemasukan Rp 135.360.000 hanya dari siswa yang dinyatakan lulus.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Mahin, kaget dengan pungutan yang menurutnya aneh itu. Ia dengan tegas menyatakan, tidak tahu menahu terkait kebijakan tersebut.

“Dasar pungutannya sangat tidak masuk akal, siswa sudah lulus kok diwajibkan beli atribut. semua itu tanggungjawab pihak sekolah,” ujar Mahin, Sabtu (5/6).

Sementara itu, Achwan Hariyanto SPd, MPd, Kepala UPT SMPN 22 Gresik, dihubungi melalui telepon awalnya berdalih tidak tahu adanya kasus tersebut. Namun akhirnya ia mengaku, tahu permasalahannya dan akan menegur guru tersebut.

“Akan saya tegur guru yang memaksa siswa beli atribut,” ujar Achwan berkali kali tanpa menjawab pertanyaan soal keharusan siswa kelas IX membeli atribut. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *