Surat dari Tri Rismaharini kepada warga Surabaya untuk memilih paslon Eri -Armudji membuat situasi menjadi gaduh.

Namun suasana gaduh ini merupakan kerugian bagi pasangan Eri -Cahyadi maupun Risma, sebab dengan surat edaran itu, munculah gerakan menolak surat Risma di mana- mana

Baca juga :

Polemik, pemecatan anggota PMK di Surabaya akibat pilihan politik 

“Gerakan menolak surat edaran bu Risma di kampung- kampung, menunjukkan bahwa warga solid mendukung Machfud Arifin- Mujiaman, bahkan menambah soliditas karena ada persamaan rasa senasib” kata Indra Wahyudi tokoh masyarakat Kebraon Surabaya

Disamping menambah soliditas, gerakan ini juga menunjukkan strategi Tri Rismaharini beberapa hari sebelumnya gagal total.

“Beberapa hari yang lalu ada gerakan “Bela Risma” yang konon viral, namun faktanya gerakan “Bela Risma” tidak ada artinya, masyarakat sudah cerdas, tahu mana masalah internal PDIP dengan masalah pembangunan Surabaya” lanjut Indra, saat ditemui di “Rumah Wadul” Kebraon tengah, Kamis sore (3/12/20)

Indra Wahyudi, juga menyayangkan surat itu beredar, bukan hanya berisi ajakannya saja, namun karena biaya untuk membuat dan mengedarkan surat itu sangat besar.

“Cetak brosur misal Rp 2000 rupiah, cetak surat, amplop, plastik pembungkus amplop dan biaya kirim Rp 2000 rupiah, total bisa Rp 5000 rupiah, misal dikalikan 5000 surat, maka nilainya sudah Rp 25 juta, uang sebesar itu lebih bermanfaat bagi warga terdampak covid, terutama bagi pekerja seniman yang sampai saat ini terpaksa belum bisa berkarya” kata Indra.

Baca Juga

Warga laporkan Tri Rismaharini ke Bawaslu Surabaya terkait surat edaran yang meminta coblos paslon no urut 01 Erji

Sementara itu, warga Wonokromo yang mewanti- wanti untuk tidak disebutkan namanya, membandingkan perbuatan Fahrul Suganda dengan Tri Rismaharini.

“Tentu berbeda antara perbuatan Fahrul Suganda dengan Bu Risma” kata warga tersebut

Bila Fahrul Suganda itu masih tuduhan dan levelnya masih tingkat RW, bila Rismaharini itu sudah terbukti tidak netral dan tingkatnya sudah satu kota Surabaya, kata warga tersebut (adsut)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version