SURABAYAONLINE.CO, GRESIK – Karena tergerus jaman, ditambah adanya pandemi Covid-19, semakin memperburuk bisnis alat musik rebana.
Seperti diakui Supeno (55) perajin rebana asal Dusun Kaliwot Desa Bungah, Kecamatan Bungah usahanya mulai mengalami penurunan di Pulau Jawa.
Biasanya yang order dari Surabaya, Gresik, bahkan seluruh Jawa bisa sampai 10 lebih. Sekarang paling banyak lima, itupun semuanya dari luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatera.
“Apalagi pandemi kegiatan seni. Kalau ada kegiatan seni, omset bisa naik lagi dengan Rp 15 juta per bulan,” ujarnya, Rabu (11/11).
Dia berharap usaha rebana yang ditekuni selama 10 tahun ini bisa lancar pengiriman. Apalagi dalam sehari, ia mampu menghasilkan rebana mulai bas dan laiinya 20 sampai 30 biji rebana per harinya.
“Kami mohon kepada Pak Qosim dan Mas Alif, tolong dibantu prose pengiriman ke luar Jawa agar lancar sebagai modal peningkatan produksi ini,” harap Supeno.
Menanggapi itu, pasangan Qosim Alif menyatakan akan membantu pemasarannya dengan membentuk tim pendampingan dari dinas terkait.
“Pemasaran langsung mempertemukan penjual dan pembeli, juga melalui market place dan aplikasi penjualan digital yang disiapkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten Gresik,” ujar Pak Qosim dan Dokter Alif saat berkunjung ke sentral perajin rebana di Bungah, Rabu (11/11).
Di Desa Bungah Kecamatan Bungah ini masih banyak warga yang menjadi perajin,, dan menggantungkan hidupnya memproduksi alat musik rebana.
“Nantinya kami fasilitas dengan kartu UMKM Bangkit yang target awal beredar di pasaran luar Jawa, hingga nasional,’ kata Dokter Alif.
Pasangan Qosim Alif menggelar
silaturahim secara door to door ke beberapa desa di Kecamatan Bungah.
“Siilaturahim ini tentunya akan meningkatkan suara QA di Kabupaten Gresik dengan target 72 persen” ujar Panji Aji, anggota Relawan Gerakan Sosial (RGS) yang setia mendukung Paslon QA. (san)


