SURABAYAONLINE.CO-Tak hanya fashion desainer dan penjahit yang padu datangnya wabah Covid-19 membuat ahli desain produksi juga putar otak ambil bagian untuk membuat piranti alat pelindung wajah para medis. Face Shield (FS) yang digunakan tim para mendis yang menanggani pasien corona salah satunya adalah hasil karya relawan Djoko Kuswanto, ST., M. Biotech, Kepala Lab. Integrated Digital Design (iDIG), Departemen Desain Produk, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Berkolaborasi dengan Andhika Estiyono, ST., MT. Ka. Lab Protomodel, Departemen Desain Produk, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, ITS, serta dari Asosiasi Printer Tridimensi Indonesia. “Kami melakukan kerjasama yang sangat apik demi sebuah kemanusiaan,” kata Djoko yang kolaborasi tersebut diwadahi oleh ITS karena kampus tersebut memiliki lembaga Siaga Bencana.

Baca Juga:Kisah Pejuang Kemanusiaaan Covid-19: Tak Tega Melihat Dokter Pakai APD dari Tas Kresek (2)

Djoko menceritakan awal mula dia bersama teman-temannya sesama relawan itu membuat FS pada pertengahan Maret 2020 lalu, dia yang kebetulan juga sebagai medical enginer di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) diajak berdiksui oleh para dokter bagaimana membuat Face Shield sebagai pelindung wajah untuk melengkapi APD. “Karena pembuatan FS tidak ada ketentuan khusus dari badan kesehatan dunia maka saya berkolaborasi dengan teman-teman relawan mencoba membantu membuat desain FS akhirnya seperti yang jadi seperti sekarang ini.

Begitu desain sudah jadi kemudian di upload di media sosial ide tersebut langsung ditangkap oleh Pemprov Jatim. Bentuk FS karya timnya yang sederhana, ringan tapi cocok sebagai pelindung wajah paramedis.

Dari kunjungan wakil gubernur ke tempatnya lanjut Djoko, Pemprov kemudian langsung minta agar produksinya disegerakan karena beutuhan FS nasional sangat besar. Karena rencanannya FS karyanya tersebut selain untuk rumah sakit dan Puskesmas yangada di Jatim juga akan akan didistribusikan untuk berbagai rumah sakit di Indonesia. “Beberapa hari lalu kami juga mengirim FS ke RS. Fatmawati Jakarta, karena 300 buah sebagai tambahan karena produki di Jakarta tidak mencukupi,” kata Djoko.

Namun Djoko mengakui bahwa untuk menghasilkan jumlah produski yang sangat besar dalam waktu singkat dia dan teman-temannya relawan harus memutar otak. Setelah berjalan waktu kalau mengandalkan satu cara saja tidak memungkinkan akhirnya setelah desain dianggap sempurna kemudian untuk mewujdukan dalam bentuk jadi menggunakan tiga acara pembuatan, masing-masing menggunakan printer 3 D, CNC Router serta laser cut milik ITS dan teman-temannay di asosiasi. “Bahkan sekarang kami akan mengupayakan sekaligus membuat mesin plong. Nanti dengan empat mesin ini berjalan sehari bisa menghasilkan mencapai 5000 ribu FS,” kata Djoko.

Bahkan untuk yang berada di luar daerah ia sudah mengirimkan patron FS hasil karyanya sehingga teman-teman di daerah sudah bisa membuat sendiri. “Bahkan di Papua ada teman dari asosiasi membuat secara manual kemudian untuk merakitnya dibantu oleh ibu-ibu,” paparnya.

Yang membuat Djoko bangga, bahwa kerja bareng ini dilakukan bersama dengan penuh keikhlasan karean semata-mata demi kemanusiaan. Semua FS karya dari tim-nya tersebut diberikan secara gartis kepada berbagai pihak yang membutuhkan. “Kalau memang ada lembaga swasta yang membutuhkan jumlah banyak dan mau berdonasi, silahkan donasi tersebut langsung dimasukkan ke ITS,” tambah Djoko.

Karena FS sendiri terdiri dari beberapa bagian. Saat ini di tempatnya banyak relawan dari Pramuka, TNI sampai SAR yang datang membantu ikut merakit FS sebelum dikirim ke tempat tujuan.(habis)

Gandhi Wasono M.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version