Secercah Harapan di Eropa saat AS Bersiap Hadapi Pekan Terberat

SURABAYAONLINE.CO- Negara-negara Eropa yang paling dibinasakan oleh virus corona baru pada Minggu melaporkan tanda-tanda menggembirakan dalam perjuangan mereka melawan pandemi maut ketika Amerika Serikat bersiap menghadapi apa yang mungkin menjadi pekan paling berat.

Sementara Ratu Elizabeth II menyampaikan pidato yang jarang, yang ditayangkan televisi dalam upaya menenangkan masyarakat mengenai wabah mematikan itu pada saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dibawa ke rumah sakit 10 hari setelah ia didiagnosis terserang virus corona.

Italia melaporkan korban harian terendah dalam dua pekan terakhir yang menunjukkan kemungkinan gelombang pasang sudah berbalik dalam bencana paling mematikan yang dihadapi negara itu sejak Perang Dunia II.

“Ini berita baik, tetapi kita tidak boleh lengah,” kata kepala dinas perlindungan sipil Angelo Borrelli kepada wartawan.

Di Spanyol, para pejabat mengatakan angka kematian turun untuk hari ketiga berturut-turut sementara Perancis melaporkan jumlah harian terendah dalam satu pekan.

Di seberang Atlantik, Presiden AS Donald Trump memperingatkan rakyat Amerika untuk bersiap menghadapi jumlah kematian yang “sangat menghebohkan” dalam beberapa hari ke depan setelah jumlah kasus terkonfirmasi di sana sudah melonjak melewati 330.000 yang merupakan tertinggi di dunia.

Di negara bagian New York saja, yang menjadi pusat wabah ini di AS, jumlah kematian melonjak dalam 24 jam terakhir menjadi lebih dari 4.100.

Pergerakan virus ini yang demikian cepat telah merenggut lebih dari 69.000 jiwa hanya dalam waktu tiga bulan dan membuat sekitar separuh penduduk planet ini terkungkung di rumah mereka, mengubah drastis kehidupan miliaran manusia dan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi.

Dengan lebih dari 1,25 juta orang dipastikan terinfeksi, virus ini juga memberikan tekanan besar terhadap pelayanan kesehatan. Negara-negara kaya dan miskin kesulitan mendapatkan staf dan peralatan yang cukup.

Paus Fransiskus, kepala 1,2 miliar umat Katolik dunia, mengimbau orang-orang untuk menunjukkan keberanian dalam menghadapi pandemi ini.

Paus lanjut usia yang dites dua kali untuk virus itu, merayakan misa Minggu Palma dengan live streaming. Tetapi Lapangan Santo Petrus ditinggalkan oleh kerumunan yang biasa terjadi dan basilika hampir kosong.

Di Amerika, orang mengabaikan perintah diam di rumah ketika seorang pendeta Louisiana tetap mengadakan kebaktian di gereja. Tindakan ini dikecam sebagai “sangat tidak bertanggung jawab” oleh Gubernur John Bel Edwards.

Perdana Menteri Johnson (55) dibawa ke rumah sakit sebagai “langkah pencegahan,” setelah gagal menghilangkan gejala virus corona.

Di Italia, yang di-lockdown secara ketat selama hampir sebulan, para pejabat melaporkan 525 kematian baru dalam 24 jam terakhir, yang merupakan terendah sejak 19 Maret.

Namun secara keseluruhan jumlah kematiannya tetap tertinggi di dunia yaitu 15.887.

Ada juga tanda-tanda menjanjikan di Spanyol, yang mencatat 674 kematian pada Minggu, hari ketiga berturut-turut di mana jumlah kematian terus menurun. Namun pemerintah mengumumkan akan memperpanjang lockdown total hingga 25 April.

Di Amerika Serikat, New York juga mendirikan rumah sakit pusat konferensi yang masif, berkapasitas sekitar 2.500 tempat tidur, yang diperkirakan dibuka beberapa hari mendatang dan dijalankan oleh militer AS.

Kepala Badan Kesehatan AS Jerome Adams memperingatkan bahwa negara itu menghadapi korban jiwa yang baru kali ini terjadi.

“Ini akan menjadi pekan yang paling berat dan paling menyedihkan dalam kehidupan kebanyakan rakyat Amerika,” kata Adams pada Fox News, Minggu.

Korban tewas AS mencapai 9.458 orang sampai Minggu, jauh lebih banyak dari gabungan korban serangan Pearl Harbor (pada Perang Dunia II) dan serangan (teroris) 11 September 2001.

Trump menegaskan bahwa ekonomi terbesar di dunia tidak bisa tutup selamanya, dan telah berulang kali membahas kemungkinan membuka kembali dunia usaha.

Beberapa negara Barat termasuk AS telah mendorong penggunaan masker di tempat umum meskipun sebelumnya mengatakan hanya tim medis yang perlu menutupi wajah mereka, sebuah pembalikan sikap yang telah membuat berang dan membingungkan masyarakat.

Saran itu muncul setelah beberapa penelitian menunjukkan virus corona dapat disebarkan melalui berbicara dan bernapas, bukan hanya batuk dan bersin.

Organisasi Kesehatan Dunia sedang meninjau panduannya.

Iran, yang ekonominya terpukul dua kali akibat virus dan sanksi AS, mengatakan akan membolehkan kegiatan ekonomi “berisiko rendah” untuk dibuka lagi karena tingkat infeksi harian turun untuk hari kelima berturut-turut.

Di tempat lain di Afrika, Ethiopia melaporkan dua kematian pertamanya.