SURABAYONLINE.CO, GRESIK – PT Petrokimia Gresik (PG), produsen pupuk dan bahan kimia untuk solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), menggelar rangkaian program “Jambore Petani Muda” di 12 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se Indonesia, salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Rabu (25/9).
Dalam kegiatan ini, Petrokimia Gresik mewadahi ide kreatif generasi milenial di bidang pertanian yang berorientasi profit. Nantinya dua belas tim terbaik dari setiap PTN (masing-masing satu tim) akan mendapat kesempatan memaparkan idenya secara langsung di hadapan dewan juri.
Selanjutnya tiga ide bisnis terbaik akan memperoleh dana untuk pengembangan bisnis, dan mendapat mentoring khusus langsung dari pimpinan perusahaan di bidang pertanian dan agroindustri. Yaitu, Direktur Utama (Dirut) PG Rahmad Pribadi, CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra, dan CEO Agradaya Andhika Mahardika.
Dalam sesi CEO Talk bertajuk “Agrosociopreneur untuk Kemajuan dan Keberlangsungan Pertanian Indonesia”, Rahmad menyatakan Petrokimia Gresik saat ini tengah melakukan transformasi bisnis untuk mewujudkan diri sebagai perusahaan yang berorientasi pada pertanian masa depan dan agroindustri, dimana keberhasilan kedua sektor ini, salah satunya bergantung pada peran generasi milenial.
Untuk itu, Rahmad mengajak seluruh mahasiswa, khususnya di UGM dan Yogyakarta, untuk berperan aktif memanfaatkan lahan untuk kegiatan bercocok tanam, menjadi pengusaha sukses pertanian, sekaligus mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
“Bidang pertanian jika dikelola dengan baik, benar, dan serius maka akan menjadi bidang yang prospektif. Bahkan ada banyak komoditas pertanian yang bisa ekspor, dan tidak akan kalah dengan bidang lainnya,” ujar Rahmad.
Lebih lanjut Rahmad menegaskan, regenerasi petani merupakan isu penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh pihak terkait. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013, jumlah rumah tangga petani turun 20% dari 79,5 juta menjadi 63,6 juta, atau turun 15,6 juta rumah tangga. Hal ini kemudian diperparah lagi dengan kondisi bahwa 61% petani Indonesia telah berusia lebih dari 45 tahun.
“Karena itu, keterlibatan generasi milenial dalam mendukung, mengembangkan, serta memajukan sektor pertanian menjadi sangat dibutuhkan. Pertanian juga perlu sentuhan serta terobosan generasi milenial,” tegas Rahmad. (san)


