Pendidikan Butuh Pemikir Jarak Jauh

SURABAYAONLINE.CO,Surabaya — Pendidikan itu sentralnya pembangunan suatu bangsa. Bangsa akan bermartabat jika mereka berkualitas tinggi dan berdaya saing. Artinya, suatu bangsa yang memiliki kualitas yang tinggi dan berdaya saing (competitive advantage). Mereka bisa memperoleh pendidikan yang bermutu pula.
Di samping itu, peradaban dan zaman berganti. Zaman feudal, saman mesin ketik, zaman computer, zaman internet, dan sampai zaman digital society dengan generasi millennialnya. Semua tahapan itu berbeda pula. Semua periode itu memerlukan strategi berbeda. Semua jenis generasi itu memiliki dunia dan sifat kehidupan berbeda pula.
Selama ini, kurikulum di sekolah cenderung bersifat reaktif. Kurikulum belum semua bersifat futurist. Itu sebabnya, sekolah dan perguruan tinggi sering gelagapan. Kurikulum dibentuk bersifat reaktif. Reaktif terhadap fenomena yang sedang terjadi. Bukan apa yang akan terjauh jauh ke depan. Begitu berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, baru kurikulum dievaluasi dan revisi.
Belajar dari Alvin Toffler, pada 1970an, dia sudah memberikan berbagai predidki abad 21 sekarang ini. Mestinya, para pakar sekarang juga sudah memprediksi minimal 25 tahun sampai 50 tahun mendatang. Apa yang kita butukhan 25 tahun sampai 50 tahun mendatang?
Dengan prediksi seperti itu, tidak akan ada banyak ketertinggalan, Tidak ada anekdot revisi kurikulum yang sedang berjalan. Tidak ada para cendekiawan di sekolah dan perguruan tinggi kelabakan. Di sinilah, masih dibutuhkan para futurists’ sekelas Alvin Toffler di negeri ini.
Sekarang sudah tercengan. dengan kondisi sifat generasi milenial. Apa itu generasi milenia? Cendekianan Suzan M. Willan, dari City College, the USA, menjelaskan generasi ini. Generasi Millenial sebagai generasi yang dikenal sebagai Gen Y. Generasi milenial juga disebut Generasi Next. Lebih jauh, dijelaskan bahwa generasi millenial itu generasi digital.
Generasi produk digital, sementara persentase penduduk negeri kita lebih besar generasi lama. Genereasi X. Pendidiknya, gurunya, para penunjang proses pendidikannya, termasuk pemegang kebijakannya. Mereka masih didominasi generasi X. Boleh ada generasi X nya yang beradaptasi dengan millenialnya.
Ada tendensi dunia absurd. Dunia dalam bahasa Jawanya Njomplang. Dalam istilah kerenya, an oblique world of education. Itulah, mengapa tulisan saya baru-baru ini di media para CEO di Amerika saya menggunakan istilah an oblique education system. Judul yang saya pakai “Balancing the West and East Education System.” Terbit di APAC CIO Outlook, magazine, California, the USA pada Edisi Oktober tahun lalu.
Adakah prediksi itu? Di Amerika. Misalnya. sudah ada prediksi kaum milenial. Diprediksi bahwa jumlah kaum milenial (digital literacy) sudah terdapat 55,2 juta. Mereka ini dianggap sebagai angkatan kerja pada 2021. Dengan prediksi itu, system pendidikan dan pranatanya sudah disiapkan. Itulah prediksi kaum cendekianan bersama para pengambil kebijkan.
Kita di negeri ini buta. Kita tidak tahu, bagaimana pengambil kebijakan di negeri ini. Berapa jumlah kaum milenialnya. Dan, berapa mereka ini sudah disiapkan pada masa depan. Disiapkan system pendidikannya. Disispakan SDM para pengendali system pendidikan itu. Disiapkan segala prasara proses pendidikan. Disiapkan dana alokasi anggaran pendidikan. Semuanya mengarah pada rancangan berdasarkan predisksi itu. Inilah yang dimaksud dengan Pendidikan Butuh Para Pemikir Jarak Juah.
Untuk dapat mengendalikan dan merencanakan prediksi-prediksi itu, pengambil kebijkanan boleh saja sibuk dengan politik. Tetapi, jangan lupakan pemikirna –pemikrian seperti prediksi-prediksi di atas. Justru prediksi-prediksi di atas itu, bisa dijadikan model pemikiran menuju pola berpikir politis.
Generasi Millenial sangat berbeda dari Gen Xers. Generasi millennial membutuhkan perubahan system. Butuh perubahan pola perilaku model pendidikan. Butuh pula model dan gaya politik yang mengarah pada pembentukan sistem pembangunan mutu suatu bangsa. Di sinilah, kita benar-benar butuh para pemikir jarak jauh. Siapkan semua berdasarkan prediskiprediski tajam ke depan demi bangsa. Selamat Merayakan Hari pendidikan Nasional. Merdeka.
Dr. Djuwari adalah pengamat social dan pendidikan, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASOPER), dan dosen Bahasa Inggris di STIE Perbanas Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *