Pertukaran Mahasiswa Lintas Negara

SURABAYAONLINE.CO — Ada banyak hal menarik ketika kita mengamati pertukaran mahasiswa lintas nagara. Baru-baru ini, kampus saya STIE Perbanas Surabaya berkunjung ke Mountain Province of State Polytechnic College (MPSPC), Filipina. Pertukaran mahasiswa ini akhirnya dijadikan satu sekalian dengan pertukaran dosen. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kegiatan ini.
Ketika mahasiswa berkomunikasi dengan mahasiswa mancanegara, mereka secara langsung merasakan indahnya pergaulan. Antarbangsa dengan berbeda latar belakang. Mereka bisa bersendagurau. Mereka bertukar pikiran. Mereka bisa bercandaria. Bahkan, ketika presentasi makalah, mereka bisa berdebat. Berargumen, dan belajar dari proses komunikasi bidang ilmu masing-masing.
Pada Rabu 3 April, rombongan STIE Perbanas Surabaya berangkat dari Surabaya ke Bontoc, Filipina, ke MPSPC. Transit di Singapura, sambil menunggu pesawat ke Clark, Filipina esok harinya pada 4 April, pukul 2 pagi. Tiba di Clark, Filipina pukul 9 pagi. Rombongan terdiri dari 4 dosen dan 13 mahasiswa. Dipimpin tim, Dr. Rovila El Maghfiroh, direktur international office, ditemani Dr. Muazaroh, Dr. Luciana Spica Almilia, dan saya sendiri. Kami dijemput panitia dari MPSPC yang dipimpin oleh Dr. Darwin Phillip Alera bersama krewnya.
Perjalanannya cukup lama. Kita harus melewati kota Baguio, sebelum ke Bontoc. Di sini, kita makan siang. Kemudian, berangkat lagi menuju Bontoc, tiba pukul 9:30 malam. Esok harinya kita ke akmpus MPSPC dipimpin oleh Dr. Venus Grace F. Fagyan. Dia Vice president dari MPSPC, bidang kerjasama luar negeri.
Ada banyak agenda. Presentasi makalah dalam students’ reseacrh forum. Di acara ini, mahasiswa tuan rumah MPSPC dan mahasiswa tamu STIE Perbanas Surabaya saling menyajikan makalah. Di sinilah terjadi pertukaran nyata dalam keilmuan. Mereka saling menunjukkan kebolehan mereka dalam bidang ilmunya.
Begitu mereka bedialog dengan berbagai pertanyaan dari juri, maka terjadilah proses pembelajaran. Mereka saling memperoleh gagasan dan pengalaman baru. Tukar menukar pikiran dalam ilmu inilah sangat penting. Antarnegara, mereka bisa mempelajari perbedaan dan persamaan. Ilmu mereka dipandang dari sudut yang berbeda sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan lainnya. Perbedaan ini sangat unik. Misalnya saja mereka juga saling belajar bagaimana pemerintah Filipina dan Indonesia dalam mengela pajak.
Lebih dari itu, banyak hal yang didapat dari pertukaran mahasiswa antarnegara ini. Dari segi budaya, mereka bisa belajar satu sama lain. Kebetulan saja, saat itu ada acara ulang tahun kota Bontoc. Banyak pameran budaya dan tarian. Saat itu, acara diadakan di jalan raya utama Bontoc. Kami diundang dan diperlakukan sebagai tamu negara. Saat itu, ada juga tamu dari Taiwan.
Kami disiapkan panitia dengan kursi untuk duduk di pingginr jalan. Kami menyaksikan acara tarian dari berbagai daerah. Tentunya tarian tardisional. Kemudian, kami diajak ke panggung untuk menyaksikan lomba tarian dari berbagai daerah itu.
Dengan proses imersion, mahasiswa antarbegara, banyak pengalaman yang didapat. Mahasiswa STIE perbanas Surabaya bisa belajar tentang budaya Filipina. Mereka saling berkomunikasi. Mereka saling bersenda gurau. Namun, mereka juga bisa bersosialisasi. Karya ilmiah mereka juga bisa dipresentasikan di forum itu.
Pelajaran yang banyak didapat ternayata bervariasi. Budaya, pendidikan, dan penelitian. Lebih dari itu, mereka belajar juga tentang pergaulan. Pergaulan antarbangsa. Komunikasi global tanpa batas. Kemanusiaan dan nilai-nilainya sangat tinggi. Kita berdayakan generasi muda melalui pertukaran mahasiswa antarbangsa, antarnegara.
Dari proses imersion itu, kita bisa menghasilkan proses kehidupan sosial, budaya, dan riset. Ketiga aktivitas itu bisa dijaikan sebagai modal membangun sumber daya manusia (SDM) yang andal. Proses pembelajaran dengan pertukaran mahasiswa antarnegara sangat efektif. Efektif dalam meningkatkan mutu SDM berwawasan global.
Sebuah kegiatan yang bermanfaat untuk perdamaian antarbangsa. Sebuah proses yang mengajarkan perbedaan dan persamaan. Kemudian, mereka bisa mengelola nilai-nilai universal untuk pergaulan. Semangat berkomunikasi berbangsa dan bernegara. Nilai budaya, pemndidikan, dan riset menjadi satu dipelajari dalam proses immersion antarbangsa.