Membangun Ethos Figur Publik

SURABAYAONLINE.CO —Ethos can also refer to the reputation of the speaker”

Cuplikan di atas dari Aristoteles, pakar retorika zaman Eropa Kuna dan masih berlaku sampai saat ini. Ethos itu sama dengan reputasi pembicara. Untuk memperoleh kredibilitas di depan pendengar atau audiens, maka ungkapkan (baca: pamerkan) kebolehanmuu di depan audiens. Dengan begitu, kredibilitas akan terbangun. Akhirnya, komunikasi dalam berbicara akan bangkit.

Dalam artikel ini, kita perlu membahas bagaimana membangun ethos. Ethos merupakan kunci daya Tarik figure publik, politisi, public speaker, guru, dosen atau instruktur. Ethos sangat penting katrena ini merupakan atribut alami seseorang. Atribut ini harus dibangun sejak awal. Membangun ethos melalui pendidikan formal, non-formal, dan informal.

Pendidikan formal, jika seseorang sudah mulai awal mengambil bidang pendidikan formal terkaiot dengan atribut yang diharapkan. Misalnya, seorang politisi bisa kuliah di bidang social politik. Seroang penulis, kuliah di bdiang Bahasa. Seorang agamawan/ dai, kuliah di bidang agama atau ilmu keagamaan. Seorang seniman, kuliah di bidang seni, dan sejenisnya.

Pendidikan formal seperti itu bisa menambah atribut seseroang dalam membangun ethos sesuai dengan bidangnya. Namun, tidak semua orang yang hebat itu selalu dibangun lewat pendidikan formal. Mereka yang sukses bisa saja membangun ethos melalui pendidikan non-formal. Misalnya saja, melalui kursus, pelatiha, seminar-seminar di bidang yang diinginkan sebagai atribut ethosnya.

Bahkan pendidikan formal dan non-formal pun tidak selalu jadi jaminan seseorang menajdi pakar dengan ethos yang kuat. Sebut saja, menteri Penerangan era orde baru, Ali Murtopo. Dia tidak mengeyam pendidikan tinggi. Namun, dia bisa membangun ethos itu melalui kegiatan informalnya. Dia banyak mengikuti aktivitas organisasi. Bahkan, dia bisa menjadi menteri penerangan yang hebat pada eranya. Dia mampu berdiplomasi dalam Bahasa Inggris  dengan Negara-negara lain.

Contoh lagi, Susi Pudjiastuti, menteri perikanan saat ini. Dia tidak mengenyam pendidikan formal perguruan tinggi. Dia membangun ethos kerja enterpreneurship. Dia mampu menjadi yang menteri dengan kinerja yang dikenal public. Kemampuannya melalui kehidupan dan pengalaman secara informal.

Dari tiga dimensi membangun ethos: formal, non-formal, dan informal, yang lebih penting seseorang harus jujur. Kejujuran itu merupakan kunci utama membangun kridebilitas seseorang. JIka seseorang sudah membangun atribut ethos, dia hrus jujur. Ethos melalui pendidikan forlam, akan berkembang dengan sendirinya jika diimbangi dengan kejujuran (Treloar, Carla, Jake Rance, 2014).

Menurut Treloa dan Rance (2014), kejujuran yang dilakukan seseorang bahkan bisa meningkatkan daya pelayanan sebuah perusahaan. Akhirnya, perusahaan memperoleh kepercayaan. Jika pribadi seseorang yang sudah memperoleh pendidikan formal yang tinngi, akan lebih kuat ethosnya jika ditunjang dengan kejujuran.

Setelah tiga cara membangun ethos: formal, non-formal, dan infornal, proses membangun ethos tidak boleh berhenti dan puas di jenjang tiga proses itu. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang ahrus tetapi konsisten membangun ethosnya.

Bahkan ethos juga haruis dibangun setiap seseorang tersebut dalam kesempatan beraksi. Misalnya saat beretorika di depan massa bagi politisi. Saat berdakwa di depan para Jemaah bagi Dai. Saat berceramah di depan publik bagi figur publik. Dan, saat berbicara di depan peserta bagi intruktur atau guru atau dosen di acara seminar.

Jangan heran, ketika Hermawan Kertajaya, pakar MaxPlus-Marketing, ketika berbicara, dia bisa menyuguhkan semua pengalamannya. Misalnya, para perusahaan yang menjadi kliennya. Mereka sukses dengan garapan konsultasi di bawah naungannya. Jika perlu, semua aktivitas keberhasilannya dipaparkan dalam websitenya.

Bagaimana dengan politisi? Lihat saja ketika debat capres cawapres. Masing-masing kubu saling menonjolkan catatan hariannya. Mereka saling menunjukkan prestasinya. Mereka senantiasa memampangkan kinerjanya. Bahkan segala yang mereka punya sebagai atribut pasti dikeluarkannya.

Tindakan tindakan di atas bukan kesombongan. Itu merupakan teknik membangun ethos. Itu suatu strategi membangun ethos sebagai atribut seseorang di bidangnya. Justru ini bisa dipelajari oleh para pakar atau praktisi kehumasan (public relations atau PR). Praktisi PR harus paham bagaimana membranding organisasinya. Mereka harus bisa membranding setiap individu dalam organisasinya.

PR sangat penting dalam membantu membangun ethos para anggota organisasi. Siapa pun yang memiliki keunggulan harus senantiasa dibranding. Akan sia-sia jika PR tidak mampu membranding setiap individu yang berkompeten dan bisa dijadikan ikon perusahaan atau organisasi.

Jadi, membangun ethos itu tidak sekejab. Membangun ethos itu memerlukan strategi. Membangun ethos itu dilakukan secara sistematik dan rutin. Keajegan dalam membangun ethos bisa dimulai dari diri sendiri. Jika sudah tercipta ethos sebagai etribnit dirinya, dia setiap saat harus membinanya. Tidak boleh berhentib begitu saja. Bahkan saat-saat aksi sebagai pembicara, penceramah, menjadi instruktur atau pembicara dia senantiasa konsisten membangun ethos dirinya. Jangan lupa, ini semua diimbangi dengan kejujuran sebagai kunci membangun ethos pula. Apa yang dipaparkan harus terbukti secara nyata. Bukan reka-reka.

Penulis adalah Pengamat Pendidikan dan Sosial;  President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER); dosen STIE Perbanas Surabaya.