Karut Marut Masyarakat Digital

SURABAYAONLINE.CO — Masyarakat digital sangat luas. Kumunitas ini berpenduduk tanpa batas. Umur, pendidikan, ras, agama, etnis, kebangsaan, pola pikir, budaya, sosial, ekonomi, dan berbagai karakter. Semua tumplek blek jadi satu. Bauran berbagai jenis sifat menjadi satu: masayarakat digital. Ibarat wilayah, masyarakat digital ini seluas bumi. Dari kutub utara sampai kutub selatan. Dari bujur timur sampai bujur barat. Semua campur aduk. Inilah masyarakat karut marut.
Dalam komunitas terkecil wilayah saja, ada rukun tetangga (RT), Rukun warga (RW), sampai desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, dan negara. Bayangkan, dalan satu RT saja, ada struktur organisasi. Ada yang namanya Pak RT, wakilnya, sekretarisnya. Ada pula aturan warga yang menjaga ketertiban dan ketenteraman. Ada pula seksi keamanan: satpam. Ada seksi ibu-ibu PKK. Ada pula karangtaruna. Semuanya dalam sistem. Itu pun dalam skala kecil wilayah RT.
Masyarakat digital tidak ada struktur organisasi. Semua berjalan dan berkomunikasi: seenaknya sendiri. Satu sama lain bebas ngomong. Ada yang berpendidikan tinggi selevel profefesor, doktor, master, sarjana, sampai pada SD, dan bahkan bisa saja tdaik mengenyam sekolah. Semua andil dalam interaksi tanpa aturan. Kosakata, mulai dari ilmiah, religius, sampai pada (maaf) kosakata korak dan kampungan. Semua pilihan kata dalam ritme diksi campur baur jadi satu wadah: masyarakat digital.
Di dalam kondisi sosial seperti itu, tidak ada batasan. Semua bebas berkomentar. Komentar para cendekiawan bisa saja dibalas dengan kosakata atau ujaran kampungan. Belum lagi jika ujaran kampungan berbaur jadi satu dengan ujaran kampungan juga. Jelas, mirip gado gado, urap-urap dengan bumbu segala racikan. Kecut, pedas, pahit, busuk, manis, jembret, dhedhel dhuwel, diuleg jadi satu: disebut peradaban dan bahasa masyarakat digital yang karut marut.
Dalam domain komunikasi, setidaknya ada empat faktor: tempat (setting), participan, topik, dan mode (formal-informal). Masyarakat digital itu setting alias tempat atau wadah. Partsipanya semua pemilik akun media sosial; ratusan juta. Topiknya beragam, yang panas itu politik. Modenya, pasti semua informal, bahkan lebih jorok dari sekadar komunikasi informal. Di sinilah, karut marutnya. Yang aneh, yang dewasa berpendidikan dan bisa saja agamis jika kita telusuri identitas akunnya masuk perangkap. Mereka terpersosok masuk dalam ranah dengan kosakata jembret dhedhel dhuwel: astagaaa!
Dengan empat faktor saja kita kadang memerlukan adaptasi. Misal, setting di kantor dengan setting di terminal bus pasti beda. Partisipannya pasti menyesuaikan, kosakata yang digunakan di kantor beda dengan yang di terminal—jalanan. Dalam konteks setting itu, partisipannya otomatis memilih diksi dengan kata-kata yang sesuai dengan settingnya: di kantor beda dengan di terminal jalanan.
Bagaimana dengan masyaraka digital? Jelas amburadul. Semua cenderung lupa dirinya dalam setting komunikasi. Postingan-postingannya senntiasa provokatif. Kosakatanya cenderung hina dan cacian. Perlu dipikirkan, bahwa kosakata (ujaran) itu prosesnya melalui proses psikologis. Pikiran dan batin memerintah syaraf organ ucap jika itu diucapkan. Jika ditulis, maka otak dan batinnya mengendalikan syaraf yang berhubungan dengn gerakan tangan menulis.
Begitu kosakata sudah dipsotingkan, maka di situlah, otak dan batin kita tergambarkan. Nafas dan denyut nadi kita terekspresikan. Semuanya dalam postingan, kosakata dan gambar-gambar yang terpampang. Pikirkan itu semua. Masyarakat digital memang tidak ada struktur organisasi. Tidak ada ketua dan wakilnya. Semua anggota sama saja tanpa batas. Di sinilah, tercermin, siapa kita. Itu bisa dilihat dari pilihan kosakata: Diksi.Tidakkah kita malu jika dibaca orang yang paham tentang itu?
Untuk membaca jiwa dan karaketr kita, mudah saja. Bukalah semua postingan kita. Mulai dari awal sampai terkini. Hitunglah, kosakata yang wajar sepadan dengan posisi kita. Kemudian, hitung juga kosakata yang jembret, dhehdel dhuel, caci, hina, buruk jorok. Lalu, bandingkan. Dan, simpulkan diri kita sendiri. Kosakata itu adalah refleksi jiwa kita. Pilihan kata itu adalah representasi watak kita: karakter kita.
Langkah terbaik adalah blokirlah semua akun yang jorok dan tidak sesuai dengan domain komunikasi: setting, participan, topik, dan mode. Lebih lebih akun media sosial yang identitasnya tidak jelas. Selain itu, khusus para cendekiawan, intelektual, sesepuh, dewasa, bapak-ibu orang tua. Kita semua diawasi oleh anak-anak kita. Perilaku kita dibaca dan celakanya jika ditiru. Inilah dampak buruk masyarakat digital yang luas tanpa batas. Semoga ada perubahan. (Sidoarjo, 3 Januari 2019)

 

Penulis adalah Pengamat Pendidikan dan Sosial; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER); dosen STIE Perbanas Surabaya.