Masyarakat Digital dan Ketertinggalan Peradaban

SURABAYAONLINE.CO —- Tidak sedikit para pengguna akun medis sosial (medsos) zaman sekarang. Komunitasnya sangat heterogin. Ada yang tua, dewasa. Ada yang muda remaja. Ada pula yang anak-anak. Semua jenjang umur bercampur aduk. Dalam segi pendidikan, ada yang p[endidikan tinggi, menengah, dasar, dan bisa saja ada yang tidak mengenyam pendidikan formal secara pebuh.
Dari segi tingkatan ekonomi, mereka itu juga bervariasi. Ada yang the haves. Ada kelas menengah. Apa pula kelas bawah. Semuanya lengkap di dalam media sosial tanpa peduli jenis heterogenitasnya. Pola pikirnya juga berbeda-beda. Mereka banyak membawa latar belakang pikiran dan perspesi menurut mereka masing-masing. Pokoknya, segala pengalaman mereka juga banyak yang berbeda-beda. Jika pengalaman hidupnya berebda, maka pola pikirnya bisa berbeda pula.
Yang namanya berita atau pesan yang disampaikan juga beermacam-macam. Ada yang mendidik. Ada yang memberi khutbah positif. Ada yang berfilsafat—quote of the day. Ada pula yang memberikan tautan-tautan (links) yang mencerahkan pikiran anggota medsos.
Namun, di balik itu semua, juga ada berita-berita hgoax. Pesan-pesn palsu. Dengan berbagai kecanggihan teknologi, bisa saja, pesan video rekaman juga diedit. Kemudian, disebarkan dan ditangkap oleh semua anggota medsos. Plus minusnya beragam. Artinya, dampak positifnya ada jika berita dan pesan yang dismapaikan positif. Namun, dampak negatifnya juga ada jika berita dan pesan yang disampaikan negatif.
Abad informasi ini sebenarnya sudah diprediksi oleh Alvin Toffler pada tahun 1970-an. Dalam bukunya the Third Waves, digolongkan ada tiga peradaban kehidupan. Pertama kehidupan agraris yang sudah lama dan m,asih sedikit ada. Kedua, kehidupan industrialisasi. Sudah banyak dimulai oleh negara-negara maju khususnya negara-negara barat: Eropa dan Amerika. Ketiga, adalah abad informasi. Yang sebenarnya, abad ini, sudah diawali mulai tahun 1980-an kalau di negeri maju.
Tiga gelombang abad peradaban itu belum sempat sampai abat maya (digital society) yang sekarang sudah bertaburan diseluruh dunia. Bagi negera-negara yang sudah melampui ketiga abad tersebut (agraris-industri, dan informasi), maka dalam menghadapi abad digital mungkin tidak begitu berat, dalam arti konsekuensinya bagi rakyat.
Namun, tidak semua negara sudah menyelesaikan setiap abad perabadan itu. Bagi negara-negara berkembang (termasuk Indonesia), lompatannya sangat jauh. Sementara peradaban atau abad agraris masih setengah-setengah sudah lompat digilas dengan abad industri. Begitu terseok-seok belun siap sepenuhnya abad industri, sudah digilas dengan abad digital. Dunia maya sudah di depan mata kita.
Dari sinilah, medsos sangat gesit di hadapam mata rakyat. Tidak peduli latar belakangnya. Tidak peduli sudah siap atau tidak pranata mentalnya. Mereka sudah lebur jadi satu menjadi masyarakat digital yang global. Informasi di manca negara dalam hitungan detik dan menit sudah bisa diakses. Negeri dalam lompatan peradaban. Agraris tidak, industri tidak, informasi tidak, langsung masuk ke abad masyarakat digital.
Berbagai pranata sosial, budaya, psikolologis, ekonomi, termasuk politik belum siap persis. Namun, kita langsung masuk ke dalam masyarakat digital. Ada uang digital, ada fintech, ada pula organizasi maya. Semua sudah menjadi gaya hidup. Kita tinggalkan ketidaksiapan beberapa peradaban menuju peradaban terakhir (dalam masa ini). Di sinilah, ada beberapa faktor yang perlu dicermati oleh pemerintah. Pertama, identifikasi setiap peradaban mulai agraris, industri, dan informasi. Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang ada dalam setiap peradaban sebelumnya, tetap diisi sambil menyesuaikan peradaban masyarakat digital.
Tidak ada hal negatifnya jika kita tetap mencanangkan program pengembangan alam agraris mengingat tekstur wilayah dan sumber daya alamnya lebih banyak agrarisnya. Teknologi bisa dikembangkan untuk meningkatkan kemajuan agraris. Kelautan dan pertanian bisa dikembangkan dengan bantuan teknologi dan informasi.
Sambil mengisi kekurangan-kekuranagn setiap peradaban, kita juga siap membangun teknologi informasi untuk keefektifan dan efisensi proses industri. Ini termasuk industri manufaktur dan jasa. Dalam industri manufaktur, peralatan yang canggih diutamakan untuk industri-industri yang ada di dalam negeri. Begitu juga pelayanan industri jasa. Semua bisa ditingkatkan mutunya dengan kecanggihan alat teknologi infromasi.
Jika langsung lompat ke dunia masyarakat digital dan industri maya, tanpa mengisi kekurangan-kekurangan setiap peradaban sebeumnya, maka kita akan menjadi negeri kepalang tanggung. Agraris tidak. Industri tidak. Digital teknologi informasi juga tanggung.
Penulis adalah Managing Editor dan Penerbitan Jurnal dan Buku di STIE Perbanas Surabaya; Pengamat Pendidikan dan Sosial; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER); Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *