‘Pukulan Telak’ dari Zaadit, Cania, dan Tsamara

SURABAYAONLINE.CO-Siapakah dari kalangan generasi muda yang sedang ‘nge-tren’ di media saat ini setelah Cania dan Tsamara? Jawabannya pasti Muhamamd Zaadit Taqwa.

Laki-laki yang juga menjabat ketua BEM UI ini terus menjadi perbincangan di media. Tak kurang dari 10 tulisan opini yang membahas keberaniannya sudah dimuat dalam kurun waktu satu minggu. Dalam tulisan-tulisan tersebut tidak semua setuju. Pun, banyak yang memuji.

Begitu pula penulis. Hingga tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan alasan logis untuk mendukung esensi ‘peng-kartu kuningan’ yang Zaadit lakukan terhadap presiden Jokowi beberapa hari yang lalu.

Meskipun begitu, patut penulis ucapkan terima kasih atas keberanian yang dilakukan tersebut,karena telah ‘menyengat’ kondisi status quo pergerakan mahasisiwa di kampus khususnya organisasi ekstra yang saat ini terlihat ‘mandul’—meminjam istilahnya Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago.

Akhir-akhir ini penulis amati ‘taring’ aktivis mahasiswa di era kepemimpinan Jokowi terlihat tumpul, berbanding terbalik dengan zaman Susilo Bambang Yudhoyono. Pangi menelisik bahwa ‘keloyoan’ aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, KAMMI, bahkan GMNI saat ini umumnya disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, rutinitas yang ‘mainstream’. Pangi mendeskripsikan kegiatan ini seperti orientasi pengerjaan tugas-tugas kuliah yang bersifat administratif, niatan untuk lulus cepat, keinginan mendapat pekerjaan yang sesuai bidang, hingga lulus dengan IPK yang tinggi.

Rupanya, rutinitas ini telah membunuh ‘kreatifitas’ para aktivis kampus yang pada dasarnya bertujuan untuk mengontrol segala macam kebijakan pemerintah, baik yang bersifat lokal dan nasional.

Kedua, Pangi juga menganggap bahwa pembebanan tugas yang terlalu banyak, keinginan cepat kuliah S2 dan S3, serta program KKN yang kurang ‘real’ juga telah berkontribusi terhadap mandulnya produktifitas aktivis mahasiswa baik dalam pengkaderan dan tulis-menulis di media. Kita lihat di branda misalnya, mahasisiwa yang kuliah di luar negeri banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk ‘plesiran’. Meski ini subjektif, namun perlu diangkat. Program KKN pun hanya sebatas formalitas.

Berbeda dengan status quo di atas, beberapa waktu yang lalu Tsamara, seorang mahasisiwa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina, membuat ‘gaduh’ media dengan keberaniannya mengkritik langsung Fahri Hamzah dan Anies Baswedan. Tentu, keberaniannya ini bukan tanpa alasan. Dia sempat juga diundang di beberapa stasiun televisi nasional dan menyuarakan pentingnya pemuda/i untuk tidak apatis terhadap kondisi perpolitikan nasional.

Tsamara selesai, muncullah Cania, mahasisiwa S1 Ilmu Politik UI. Perempuan bernama lengkap Cania Citta Irlandie ini berani mendukung LGBT sebagai sebuah kebebasan pribadi yang negara pun tidak berhak mengekangnya. Dia juga diundang berbicara langsung di acara ILC TV One beberapa waktu yang lalu. Meski Cita mendapat banyak ‘ejekan’ dari warganet akibat pola pikirnya yang dipandang ‘liberal’, dia tetap percaya diri dan banyak melakukan aktifitas sosial mendukung kebebasan berpikir.

Baik Tsamara dan Cita sama-sama tidak hanya aktif berbicara namun juga menulis. Keduanya merupakan penulis muda yang prolifik. Cania banyak menulis artikel di Geotimes dan Quera sedangkan Tsamara menulis buku dan menulis kolom di Detik dan media daring lainnya. Kita patut bangga dengan produktivitas seperti ini.

Adalah Zaadit dengan kartu kuningnya melanjutkan apa yang Tsamara dan Cania lalukan, membuah gaduh media. Kendatipun dia melakukan di saat yang kurang tepat, penulis patut menyebutnya sebuah ‘pukulan telak’ bagi organisasi kemahasiswaan di kampus.

Dalam konteksnya di lapangan, PMII, HMI, GMNI, dan KAMMI yang telah memiliki nama besar dan terkenal belum terlihat ‘kritis dan garang’ terhadap apa yang terjadi saat ini. Meninggalnya 71 warga Asmat, kebijakan impor besar, dan penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt gubernur adalah beberapa dari banyak kebijakan Jokowi yang patut dikritisi.

M. Faruq Ubaidillah

Pergerakan mahasisiwa kali ini benar-benar kalah dengan Cania, Tsamara, dan Zaadit. Bahkan, ketum PMII UI harus bersusah payah mengataan bahwa yang dilakukan Zaadit tersebut  ‘request’ dari partai tertentu, dalam istilahnya Ahmad Ilham Danial, “aksi pesanan”.

Melihat fakta ini penulis cukup ‘prihatin’. Isu-isu seperti ini seharusnya diambil oleh mereka yang secara organisatoris aktif sebagai mahasisiwa yang kritis. Dengan kondisi seperti ini, muncul anggapan apakah para aktivis mahasisiwa kali ini terbius kalimat alay Dilan 1990, atau sedang ikut tren ‘hijrah dan nikah muda’ ala akhi-ukhti.

Entahlah, kondisi aktivisme nampaknya semakin hari semakin loyo, padahal kessempatan untuk berpikir dan berbicara kritis sudah sangat terbuka dewasa ini.

Penulis membandingkan dengan aktivis reformasi lalu. Orang-orang seperti Cak Nur, Budiman Sujatmiko, Komaruddin Hidayat, Fachry Ali, Lahfran Pane, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, Mahbub Junaidi, Amien Rais, dan Musdah Mulia merupakan beberapa di antara pejuang reformasi, kebebasan, dan aktivisme yang prolifik dalam berbicara dan menulis di media masa.

Mereka rata-rata hidup di jalanan dan tidak menghiraukan akan lulus kuliah berapa lama. Menteri Pemuda dan Olahraga saat ini, misalnya, menyelesaikan kuliah S1 nya di UIN Sunana Ampel Surabaya selama tujuh tahun sembari aktif di PMII Surabaya dan Pusat. Tentu yang ditekankan di sini bukan lama kuliahnya, melainkan apa yang dilakukan ketika menjadi seorang aktivis mahasisiwa.

Dari perjuangan Zaadit, Cania, dan Tsamara ini kita harus berkaca dan mulai membuang dunia ‘khayalan’ di kampus. Mahasiswa harus benar-benar menjadi ‘agent of change’ dan tidak menyibukkan diri mereka hanya untuk ‘mengepuli’ asap dapur ketika lulus nanti.

Sekali lagi, ‘pukulan telak’ dari Zaadit, Cania, dan Tsamara ini patut diperhitungkan!(Oleh: M. Faruq Ubaidillah)

*Penulis adalah aktivis HAM dan peneliti agama-agama lokal, saat ini berdomisili di Denpasar, Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *