Harlah 92th NU Jaga NKRI (4) TAHLILAN SESAT ? MUNGKIN KURANG PIKNIK !

PRAKTIK Islam di Nusantara memang memiliki kekhasan, unik, dengan mengkolaborasi muatan budaya lokal.

Sebagaimana pandangan Woodward, Mark R. (1989), penulis Buku Islam in Java : Normative piety and mysticism in the sultanate of Yogyakarta University of Arizona Press, Tucson: Monographs of the Association for Asian Studies.

Penelitian Mark R. Woodward terkait Islam dan Budaya Jawa (Nusantara), di Keraton Yogyakarta. Dari hasil penelitiannya, Mark R. Woodward tidak menemukan Islam sinkretik, yang merupakan campuran antara Islam, Hindu Budha dan Animisme.

Melalui kajian secara mendalam terhadap agama-agama Hindu di India, dan keyakinan lokal, ternyata tidak ditemui unsur tersebut di dalam tradisi Islam di Jawa.

Islam di Nusantara (Jawa), memiliki keunikan tersendiri daripada Islam di daerah-daerah (Negara) lain. Sedangkan keunikan tersebut bukan terletak pada aspek dipertahankannya budaya agama pra-Islam.

Justru lebih disebabkan adanya konsep tentang bagaimana membentuk manusia sempurna, sesuai dengan aturan-aturan sosial yang berlaku di masyarakat. Budaya dijadikan sarana untuk mempermudah mengenal ALLAH SWT, Sang Murbeng Dumadi.

Keunikan Islam dan budaya Jawa dapat dilihat dari segi karakteristik, yakni penekananan pada aspek batin dan melaksanakan ritus-ritus tertentu sebagai manifestasi dari penekanan pada aspek batin.
Islam di Jawa lebih cenderung menekankan aspek ‘Isi’ (dalam bentuk mistik) dari pada wadah (kesalehan normatif/syariah). Tujuan utama tidak lain Ingin mengapresiasi bahwa Islam adalah agama sempurna.

Persepsi mereka tentang yang dimaksud ‘isi’ adalah ALLAH SWT, Sultan, Pangeran, Batin, dan Mistik. Sedangkan ‘Isi’ mistik sendiri meliputi keberadaan Wahyu, Kasekten, Kramat dan Kesatuan Mistik.
Ritus-ritus (Upacara) paling mengemuka dan umum, tampak dalam tradisi yang dilaksanakan masyarakat adalah Tradisi Slametan (Selamatan). Metodelogi ini mirip anjuran Rasulullah SAW, agar umat muslim senang bersodaqoh.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah ALLAH SWT dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada ALLAH SWT (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada ALLAH SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa’ Ayat 59)
Untuk menterjemahkan bagaima agar tujuan hidup menjadi selamat, hingga nanti yaumil qiyamah kelak, maka mengadakan Ritus Slametan inilah sebagai solusi terbaik.  Justru pemahaman keimanan kepada ALLAH SWT lebih bermakna.
Misalnya saja, ada Upacara Slametan Perkawinan, Slametan Kehamilan, Slametan Kelahiran, Slametan Khitanan, Slametan Kematian, Slametan Desa, Slametan Sela, dan sebagainya.
Corak Islam inilah yang disebut sebagai Islam kolaboratif. Yakni Islam hasil konstruksi bersama antara agama dengan masyarakat yang menghasilkan corak Islam yang khas, yakni Islam yang bersentuhan dengan budaya lokal.
Apakah hal-hal demikian bisa dijustifikasi Bid’ah ? Mungkin perlu dikaji lebih komprehensif, obyektif, instingtif, afirmatif, dan kreatif agar tidak mudah mengkafirkan orang lain. Mari lebih bijaksana dalam melihat sesuatu yang berbeda, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Islam pertama turun di Makkah Al-Mukaromah, kemudian tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain. Seperti Negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar itu sebuah keniscayaan pasti bertemu dengan budaya setempat.
Dari tempat asalnya saja, Islam di Makkah sudah bertemu dengan budaya lokal dan sekitarnya. Akulturasi antara agama dan budaya –sebagaimana di tempat lain, Islam berhadapan dengan tiga hal.
Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat, meski sudah lama ada pada zaman pra-Islam. Contoh budaya perkawinan di Makkah. Sebelum Islam hadir, terdapat berbagai cara seseorang untuk menikah.
Salah satunya, seorang wanita sebelum menikah resmi, ia terlebih dahulu berhubungan dengan sepuluh laki-laki. Bila hamil, maka wanita tersebut bebas memilih satu diantara sepuluh laki-laki tersebut.
Kemudian ada lagi model pernikahan melalui Lamaran, Pembayaran Mahar, Persetujuan Dua Keluarga. Model pernikahan inilah yang kemudian oleh Islam disetujui, dan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW disempurnakan tata caranya.
Rasulullah SAW memberi contoh, ketika menikahi Sayyidatuna Khadijah al-Kubro ra, dengan pemberian Mas Kawin (Mahar) 40 Unta Terbaik.  Rasulullah SAW tidak kemudian berpidato kepada kaum Qurais, mengafirkan cara perkawinan terdahulu.
Yang Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Misalnya saja, sejak dahulu (Pra-Islam), masyarakat Makkah, sudah menjadi tradisi melakukan Ritus Thawaf atau Upacara mengelilingi Kak’bah. Hanya saja, kaum perempuan saat Thawaf tanpa busana alias ‘telanjang’.
Alasannya ketika menghadap Tuhan, mereka harus suci.  Ketika Islam datang, tradisi Thawaf tetap dipertahankan, hanya ada revisi. Tidak boleh lagi tanpa busana, namun memakai pakaian Ihram suci dan bersih, ketika menjalankan Haji dan Umrah.
Dan Ketiga, Islam hadir menyetujui budaya yang telah ada. Tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Seperti budaya pakaian orang-orang Arab, yang lelaki mengenakan jubah dan perempuan berjilbab.
Dengan demikian, menurut pandangan penulis, dapat diambil kesimpulan, bahwa Islam tidak sepenuhnya menolak budaya yang hidup dalam masyarakat setempat. Jikalau ada budaya yang bertentangan dengan Islam, maka ditolak atau direvisi.
Dan jikalau sejalan, maka diterima. Inilah prinsip Islam beradaptasi dengan budaya. “Jadilah engkau pemaaf dan hendaklah suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf  (Tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (Al-Qur’an Surah al-A’raf Ayat  199)
Sebagaimana Islam yang berkembang di Nusantara. Menggunakan Peci, Blangkon, Sarung, Baju Koko dalam melaksanakan ibadah Sholat tidak melanggar syar’i. Hukum Fiqih menyebut, salah satu Rukun Sholat adalah menutup Aurat. Apakah dengan cara tidak pakai jubah disebut bid’ah ?
Termasuk Slametan Tahlilan, Ziarah Kubur Wali, Slametan Desa (Sedekah Bumi), Slametan Haul, Slametan Kemerdekaan RI, Slametan Hari Ibu, Slametan Kelahiran, Slametan Kematian, Slametan Peringatan Maulid Nabi SAW, dan sebagainya termasuk melanggar Syar’i ? Tahayul ? Bid’ah ? Khurafat ?
Inilah Islam di Nusantara. Sebelum memberi ‘STEMPEL SESAT’, KAFIR, BID’AH, TAHAYUL, KHURAFAT, dan turunannya, alangkah bijaksana sebaiknya melakukan perenungan, penghayatan, pengkajian, pemahaman yang jernih dan mendalam.
Bisa jadi, mungkin kita sendiri, mohon maaf, KURANG PIKNIK ! (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *