Harlah 92th NU Jaga NKRI (3) DIALEKTIKA ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

SURABAYAONLINE.CO – ADA dua permasalahan Ummat Islam yang belum selesai hingga saat ini, yakni antara Agama dan Budaya atau Ibadah dan Muamalah. Yang akhirnya memunculkan perbedaan pendapat, berkaitan dengan Sunnah dan Bid’ah.
Dalam teori ilmiah dua hal tersebut bisa dijelaskan terminologinya. Namun ketika berbaur dalam kondisi praktik di lapangan, seringkali kabur, rancu dan sulit dibedakan.
Ambil contoh Tradisi Selamatan Kematian atau dikenal istilah ‘Tahlilan’. Tidak sedikit di kalangan Ummat Islam yang beranggapan bahwa acara tersebut adalah kewajiban agama, yang harus mereka selenggarakan.
Mereka merasa bersalah dan berdosa bila tidak mengadakan selamatan. Sementara hal yang diperintahkan Agama berkaitan masalah kematian (Jenazah) adalah : Memandikan, Mengkafani, Menshalatkan, Mengantar, Memakamkan, dan Mendoakan.
Sebagaimana yang diterangkan dalam Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani ra.
Ummu Athiyyah ra berkata, Nabi Muhammad SAW masuk, ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu beliau bersabda : “Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan campuran dari kapur barus.”

Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan kainnya pada kami, seraya bersabda : “Bungkuslah ia dengan kain ini.” Muttafaq Alaihi.
Dalam suatu riwayat : “Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu.” Dalam suatu lafadz menurut Imam Bukhari : “Lalu kami pintal rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya.”
Dari Dlomrah Ibnu Habib ra bahwa salah seorang tabi’in berkata : “Mereka menganjurkan bila tanah di atas kuburan telah rata dan orang-orang telah kembali, hendaknya diucapkan di atas kuburannya”

“Hai Fulan, katakanlah Laa ilaaha illallah tiga kali; Hai Fulan, katakanlah ALLAH SWT Tuhanku, Islam Agamaku, dan Muhammad SAW Nabiku.” (Hadits Riwayat Said Ibnu Manshur dalam keadaan mauquf)
Bisa jadi Upacara Selamatan Kematian, mulai Tujuh Hari, Empat Puluh Hari, Seratus Hari, Mendhak, Haul, dan seterusnya pada dasarnya adalah sebuah budaya atau tradisi.
Berkumpul di rumah kediaman kerabat yang berduka, sudah menjadi tradisi ribuan tahun, sebagai budaya bangsa.  Menghilangkan kebiasaan yang sudah mengakar tentu tidak mudah, memerlukan proses waktu yang panjang.
Para Wali Sanga dan pengikutnya ketika menyebarkan Agama Islam melakukan transformasi kultural dalam masyarakat. Islam dan tradisi tidak ditempatkan dalam posisi yang berhadap-hadapan, tetapi didudukkan dalam kerangka dialog kreatif.
Proses transformasi kultural tersebut menghasilkan perpaduan antara dua entitas, yakni Islam dan budaya lokal.  Perpaduan inilah yang melahirkan tradisi Islami yang hingga saat ini masih dipraktikkan dalam berbagai komunitas Islam Nusantara.
Hanya saja, ada yang kurang utuh memahami substansi perpaduan antara Agama dan Budaya. Terkadang menempatkan budaya terlalu berlebihan. Mungkin bentuk ‘sanksi sosial’ bagi yang tidak mengikuti tradisi tahlilan, perlu diluruskan kembali.
Agama Islam adalah simbol yang melambangkan ketaatan kepada ALLAH SWT. Sedang  Kebudayaan Lokal mengandung nilai dan simbol, supaya manusia bisa hidup didalamnya dengan ciri khas kelokalannya.
Dengan demikian dialektika antara Islam dan kebudayaan lokal merupakan sebuah keniscayaan.
Islam memberikan warna dan spirit pada budaya lokal di Nusantara. Sedangkan kebudayaan lokal memberi kekayaan terhadap Agama Islam. Hal inilah yang terjadi dalam dinamika ke-Islaman yang terjadi di Indonesia. Khususnya di Jawa dengan tradisi dan kekayaan budayanya.
Kalangan intelektual NU, sudah saatnya kini mulai melakukan pembenahan dan penyikapan kepada ummat, terhadap praktik keberagamaan secara proporsional.
Agama bersumber dari ALLAH SWT, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama adalah Wahyu ALLAH SWT, sedangkan budaya adalah kreasi manusia.
Maka itu, agama bukan bagian dari budaya. Sebaliknya budaya, juga bukan merupakan bagian dari agama. Ini tidak berarti bahwa keduanya terpisah sama sekali, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain.
Dan Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (perenial), dan tidak mengenal perubahan (absolut). Kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer.
Agama tanpa kebudayaan, bisa saja berkembang secara pribadi. Namun tanpa kebudayaan, agama sebagai kolektifitas tidak akan mendapatkan tempat. Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai hasil
kegiatan dan penciptaan batin (Akal Budi) manusia. Contohnya, tentang kepercayaan, kesenian, adat istiadat, serta keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial.
Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah adalah akan tercerabutnya akar budaya Nusantara. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Antara Agama Islam dan budaya memiliki independensi masing-masing, tetapi keduanya terdapat wilayah yang tumpang tindih. Maka itu Tumpang tindih agama dan budaya akan tetap terjadi terus menerus.
Hal ini sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Dari sinilah sebenarnya gagasan tentang Islam Nusantara menjadi sangat urgen. (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *