Harlah 92th NU Jaga NKRI (1) KONSISTEN JAGA GARIS EDAR

FENOMENA Super Blue Blood Moon (Gerhana Bulan Total) yang terjadi pada 31 Januari 2018, usai Sholat Isya’ sangat menakjubkan. Bukti bahwa Al-Qur’an adalah Wahyu ALLAH SWT yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai falsafah dan pedoman hidup seluruh makhluk.

Tepat tanggal 31 Januari 2018, memperingati HARI LAHIR (Harlah) Organisasi Nahdlotul Ulama yang ke-92. Kiprah NU dalam menjaga Garis Edar Negara Keutuhan Negara Kesatuan Indonesia. Sama konsistennya Matahari, Bulan dan Bumi, beredar dalam garis edar.

“Dan Dialah (ALLAH SWT) yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al-Qur’an Surah Al-Anbiya’ Ayat 33)

Konsistensi Ulama Nahdhliyin dalam mempertahankan keutuhan bangsa, tidak lepas dari perjuangan ulama terdahulu. Satu abad silam, rakyat Indonesia tertindas oleh kolonial Belanda.

Tokoh-tokoh ulama yang berperan dalam perjuangan bangsa antara lain KH Mas Mansyur, KH. Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Hasboellah, KH Ahmad Dahlan, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Idrs Lirboyo, KH Wahid Hasyim dan sebagainya.

Pergerakan KH Mas Mansoer dengan membentuk Majelis Diskusi bersama KH Wahab Hasboellah, merupakan EMBRIO pergerakan yang lainnya.

KH Mas Mansyur adalah Putr Nyai Hj Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo Surabaya. Ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi, seorang Pionir Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur pada masanya.

Dia berasal dari keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura. Dia dikenal sebagai Imam tetap dan Khatib di Masjid Ampel, suatu jabatan terhormat pada saat itu

Majelis Diskusi yang diberi nama Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran), mulai diikuti oleh beberapa tokoh ulama lainnya. Terbentuknya majelis ini diilhami oleh Masyarakat Surabaya yang diselimuti kabut kekolotan.

Masyarakat sekitar tahun 1900-an, pada umumnya sulit diajak maju, bahkan mereka sulit menerima pemikiran baru ketika berbeda dengan tradisi yang mereka pegang.

Taswir al-Afkar merupakan tempat berkumpulnya para ulama Surabaya yang sebelumnya mereka mengadakan kegiatan pengajian di rumah atau di surau masing-masing.

Masalah-masalah yang dibahas berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat keagamaan murni sampai masalah politik perjuangan melawan penjajah.

Pergolakan politik di Timur Tengah (Arab Saudi dan Mesir), memunculkan gerakan nasionalisme dan perubahan fundamental dalam kekuasaan. Kemudian lahirlah gerakan Syarikat Islam (SI), yang dimotori Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto  di Surabaya. KH Mas Mansyur dipercaya sebagai Penasehat Pengurus Besar SI.

Kemudian Taswir al-Afkar itu mengilhami lahirnya berbagai aktivitas lain di berbagai kota, seperti Nahdhah al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air) menitikberatkan pada pendidikan.

Sebagai kelanjutan Nahdhah al-Wathan, KH Mas Mansur dan Abdul Wahab Hasboellah mendirikan Madrasah, antara lain Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far’u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang.

Kalau diamati dari nama yang mereka munculkan, yaitu WATHAN yang berarti tanah air, maka dapat diketahui bahwa kecintaan mereka terhadap tanah air sangat besar.

Mereka berusaha mencerdaskan bangsa Indonesia dan berusaha mengajak mereka untuk membebaskan tanah air dari belenggu penjajah. Pemerintahan sendiri tanpa campur tangan bangsa lain itulah yang mereka harapkan.

Namun Taswir al-Afkar yang awalnya gerakan pernjuangan, mulai bergeser pada masalah Khilafiyah, Ijtihad, dan Madzhab. Terjadinya perbedaan pendapat antara KH Mas Mansoer dengan Abdoel Wahab Hasboellah mengenai masalah-masalah tersebut yang kemudian muncul gerakan masing-masing.

Pada akhirnya KH Mas Mansyur memilih Organisasi Muhammadiyah sebagai garis perjuangan. Sedang KH Abdoel Wahab Hasboellah mendirikan Organisasi Nahdlotul Ulama (NU) bersama Hadratussyekh KH Hasyim As’yari.

Sebagai seorang  JURNALIS (Wartawan), KH Mas Mansoer banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pembaharuannya dituangkannya dalam media massa lokal dan nasional.

Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama “Soeara Santri”. Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh masyarakat. Oleh karena itu, “Soeara Santri” mendapat sukses yang gemilang.

Melalui majalah itu KH Mas Mansoer mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Di samping itu, KH Mas Mansoer juga pernah menjadi Redaktur Kawan Kita di Surabaya.

Tulisan-tulisan KH Mas Mansur pernah dimuat di Siaran dan Kentoengan di Surabaya; Penagandjoer dan Islam Bergerak di Jogjakarta; Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo.

Di samping melalui majalah-majalah, KH Mas Mansoer juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawijah; Sjarat Sjahnja Nikah; Risalah Tauhid dan Sjirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Pada tahun 1921, KH Mas Mansoer masuk Organisasi Muhammadiyah.

Aktivitas KH Mas Mansoer membawa angin segar dan memperkokoh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan.

Setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika KH Mas Mansur terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada Tahun 1937-1943.

Sementara KH Abdoel Wahab Hasboellah (Pendiri Ponpes Tambak Beras Jombang) bersama KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Ponpes Tebu Ireng Jombang), konsisten dalam jalur Organisasi Nahdlatul Ulama, yang didirikan pada Tanggal 31 Januari 1926.

Hadratussyekh KH Hasyim As’yari adalah tokoh sentral pendiri dari Nahdatul Ulama, merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya.

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964, berkat jasanya yang berperan besar melawan penjajah. Salah satu di antara jasanya adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.

Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke 92. Semoga Para Pahlawan Pejuang Bangsa mendapatkan derajat tinggi di sisi ALLAH SWT. Aamiinn Yaa Mujibassailin. Al Fatihah ….. 3 x. (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *