Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Asing

SURABAYAONLINE.CO —- Sangat menarik, jika kita menyimak gebrakan Menristekdikti akhir-akhir ini. Mulai dari kiprah peningkatan penelitian dan karya ilmiah dosen sampai pada kebijakan mengizinkan Perguruan Tinggi Asing (PTA) masuk di Indonesia. Misalnya saat ini, pemerintah—melalui Menristekdikti— megizinkan PTA kelas dunia berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di dalam negeri ini. Ini visi global yang menyangkut perubahan sistem dan totalitas PTS yang berkolaborasi. Memang tidak gampang berkolaborasi secara global karena ini menyangkut visi dan misi. Paling tidak ada perubahan bahasa pengantar.
Dalam tataran global, niat seperti itu memang baik sekali dengan beberapa catatan. Misalnya saja, jika secara nasional PTS dan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia sudah memiliki kesiapan dalam bersaing. Setidaknya, sistem dan sarana-prasarana pendidikan tinggi untuk seluruh PTS dan PTN mereka sudah berstandar sama. Akan bermasalah, jika di dalam negeri masih banyak PTN dan utamanya PTS yang secara sistem dan ketersediaan sara-prasarana proses pembelajaranya masih di bawah standar nasional. Persaingan bebas.
Setahun lalu, ketika ada pemeringkatan di seluruh Indonesia, maka jumlah PTN dan utamanya PTS yang masih di bawah standar pun lebih banyak dibanding yang sudah berstandar nasional. Katakanlah sedikit jumlah yang berakreditasi institusi A. Jika memang status A tersebut sudah dianggap berstandar nasional. Namun, kenyataannya, secara kuantitasnya yang berstatus A lebih jauh sedikit jumlahnya dibanding yang belum berstatus A. Mampukah mereka bersaing jika semua calon peserta didiknya sama-sama dari dalam negeri?
Persaingan dalam bisnis sudah biasa. Persaingan dalam institusi pendidikan di Indonesia masih belum bisa dikatakan free-competition. Baru saja pemerintah merilis peringkat 100 PTS dan PTN terbaik (the best-100) di negeri ini. Mereka dianalisis dengan beberapa kriteria, misalnya, mutu sumber daya manusia (SDM), peneltian dan publikasi, kelembagaan, dan kemahasiswaan. Dengan empat kriteria itu, tampak dari 100 PTS dan PTS terbaik. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan PTS dan PTN di negeri ini, maka masih sangat banyak yang di bawah standar untuk ikut bersaing meskipun dengan yang 100 terbaik di negeri.
Jika ada PTA masuk maka dipastikan terjadi persaingan ketat meskipun misi masuknya PTA dijalankan dengan niat kolaborasi. Misalnya saja, jika ada 10 PTS yang berkolaborasi dengan 10 PTA, maka 10 PTS dalam negeri tersebut akan terdongkrak nilai tambahnya. Kesan masyarakat utamanya di dalam negeri, bahwa mereka akan berkiblat menyekolahkan putra-puterinya ke sekolah favorit tersebut. Ini akan terjadi pergeseran jumlah pendaftar berkurangda terjadi pada PTS- PTS yang tidak berkolaborasi jika calon mahasiswanya sama-sama dari dalam negeri.
Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, jika kolaborasi PTS dalam negeri berkolaborasi dengan PTA, maka mereka disarankan juga mencari calon peserta didik dari luar negeri. Dengan begitu, maka akan ada nilai tambah tidak hanya PTS dalam negeri yang berkolaborasi, tetapi juga bagai bangsa Indonesia secara keseluruhan. Intinya, kolaborasi dengan mengizinkan PTA berada di dalam negeri, bertujuan ganda. Pertama, untuk meningkatkan mutu SDM dalam negeri berupa lulusan terbaik. Kedua, kolabrasi tersebut bisa mendatangkan devisa karena ada mahasiswa dari luar negeri masuk ke Indonesia.
Kedua, sistem pendidikan nasional juga harus diubah. Misalnya kebebasan PTS-PTS lain untuk mencari partner dari luar negeri guna berkolaborasi seperti PTS-PTS lain. Kemudahan dalam kebijakan juga harus sama, sehingga PTS-PTS lain juga bisa berkolaborasi. Intinya, semua PTS diberi kemudahan yang sama. Dengan perubahan sistem, regulasi, dan kebijakan yang sama, akan terjadi keadilan bersama.
Tidak akan ada persaingan yang ketat karena jelas bahwa bagi PTS yang berkolaborasi harus siap juga dengan bahasa pengantarnya. Karena internasional, maka bahasanya cenderung berbahasa Inggris. Misalnya, PTA dari Inggris, Australia, dan Amerika. Tidak semua PTS siap dengan model kolaborasi global internasional jika semua mahasiswa (calon mahasiswanya) termasuk dosen-dosennya juga harus bisa berkomunikasi dalam bahasa internasional. Jadi, semua PTS bebas ikut berkolaborasi jika semua sistemnya siap melakukan kolaborasi dengan PTA. Siapapun yang siap juga dibolehkan ikut berkolaborasi dengan PTA. Adil dalam perlakuan.

 

 

Penulis adalah Managing Editor dan sekaligus penngelola Penerbitan Jurnal dan Buku di STIE Perbanas Surabaya. Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *