Piye Kabare Le Enak Jamanku To ? (4) TERAPI RUHANIAH AGAR LGBT ‘AAFIAH

SURABAYAONLINE.CO – ADA dua sudut pandang yang berbeda, antara hasil diagnosa Psikolog Sekuler dan Agama dalam mengambil kesimpulan tentang LGBT. Psikolog Sekuler meneliti hanya dari sudut fisik. Sementara dari Agama Islam, sebagaimana diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Qur’an, menilai perilaku LGBT menyalahi kodrat.

Hasil diagnosa Psikolog Sekuler, misalnya menyatakan bahwa karakter LGBT sebagai suatu yang NORMAL atau bukan merupakan gangguan kejiwaan. Bagi publik, diagnosa tersebut membingungkan. Meski ilmiah, namun Parameter yang dijadikan landasan dasar belum komprehensif.

Pernyataan Psikolog Sekuler ini justru menjadi bumerang, lantaran makin memperkuat keberadaan  LGBT. Secara psikis kaum LGBT merasa diuntungkan, sehingga mereka tetap mempertahankan perilaku menyimpang. Seolah Kaum LGBT mendapat Legitimasi untuk mengakui keberadaannya.

Mengapa penilaian Al-Qur’an dengan Para Psikolog Sekuler jauh berbeda ? Bila kita telusuri lebih jauh bahwa Teori Ilmu Dasar yang digunakan oleh Para Psikolog Sekuler dan Teori yang dikemukakan Al-Qur’an, tak berbanding lurus. Ahli Psikologi hanya melihat sisi SEHAT FISIK, sedang Al-Qur’an melihat SEHAT KOMPREHENSIF atau dalam Bahasa Arab disebut SEHAT WAL’AAFIAH.

‘AAFIYAH artinya selamat dari cobaan dan kesulitan-kesulitan dunia. ‘AAFIYAH, artinya selamat dari penyakit dan musibah-musibah dunia. Atau dikatakan juga ‘AAFIYAH, artinya tidak terdapat cobaan duniawi. Sabar atas cobaannya dan menerima secara suka rela atas segala ketentuan ALLAH SWT pada cobaan-cobaan dunia.

Hadits yang ditakhrij oleh an-Nasaa-i dari Abu Hurairah disebutkan “Mintalah pada Allah ampunan, kesehatan dan kecukupan, tercantum dalam Kitab Al-Furuuq al-Lughawiyyah, mendefinisakan ‘AFW artinya terlebur dan dimaafkannya dosa-dosa. Sedang  ‘AAFIYAH adalah perlindungan ALLAH SWT pada hamba-Nya dari segala penyakit dan musibah.

MU’AAFAH, artinya ALLAH SWT memberi kecukupan dari apa yang dibutuhkan setiap hamba. Dan ALLAH SWT palingkan aniaya manusia padamu. Serta ALLAH SWT palingkan aniayamu menimpa mereka. Artinya, Kacamata Al-Quran bahwa sehat saja belum tentu ’Aafiah. Namun kalau ’Aafiah pasti sehat.

Dalam Ilmu Mantiq, contoh kalimat sederhana, Toyota adalah Mobil. Namun mobil bukan hanya Toyota. Orang Sholat pasti HIDUP, namun orang hidup belum tentu SHOLAT. Dalam SHOLAT pasti baca Sholawat, namun baca SHOLAWAT belum tentu Sholat. Uang bukan segala-galanya, namun segala-galanya pakai uang.

Definisi Sehat Wal’aafiah adalah meliputi seluruh unsur jiwa dan raga, yakni Ruhani, Akal, dan Nafsu. Misalnya saja makna akal yang SEHAT WAL’AAFIAH, adalah akal yang dapat memilah serta membedakan antara benar atau salah dan baik atau buruk. Sedang diagnosa Psikolog Sekuler tidak melibatkan unsur ruhani dan akal, hanya sebatas SEHAT pada kcenderungan nafsunya.

Menurut Ilmu Psikologi Sekuler, jiwa seseorang sudah dapat dikategorikan SEHAT apabila rasa perasaan hawa nafsu manusiawinya hidup atau memiliki gairah. Tidak masalah, apabila yang bersangkutan tidak mengenal apa itu benar atau salah, dan baik atau buruk. Tak peduli dengan apakah ruhaninya hidup ataukah mati.

Sebagai contoh, kita datang ke Ahli Psikolog atau Psikiater meminta advis mengenai penyakit iri, dengki, dendam dan sebagainya. Ketika bertanya apakah perilaku tersebut tergolong normal atau abnormal (Sakit Jiwa) ? Diagnosanya pasti normal. Atau bisa jadi Anda akan ditertawakan, lantaran tak ada kaitannya dengan penyakit jiwa.

Berbeda ketika kita datang ke para Ahli Agama atau disebut Ulama (Kiai/Ustadz), menanyakan hal yang sama. Mereka akan mengkategorikan Anda sebagai seorang yang berpenyakit jiwa (Hati). Untuk menyembuhkan penyakit tersebut, maka unsur ruhaninya yang akan diperbaiki atau dioptimalkan.

Demikian pula apabila LGBT datang kepada seorang Agamawan, maka ia akan dikategorikan sebagai orang yang BERPENYAKIT. Dan harus diupayakan untuk disembuhkan. Kalangan Agamawan memakai parameter Ilahiah dalam menilainya. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menerangi ruhaninya agar bisa hidup SEHAT WAL’AAFIAH.

Setelah ruhaninya sehat maka akal fikirannya pun akan ikut terang. Akhirnya dengan mudah memahami mana benar, salah, baik, dan buruk. Hal tersebut terjadi secara otomatis. Tanpa melalui doktrin pun LGBT akan merasakan keganjilan dalam dirinya. Ibarat air kolam dalam keadaan keruh, maka seisi kolam sulit untuk kita lihat secara jelas.

Pada intinya Terapi Ruhaniah merupakan salah satu cara terbaik dan bersifat mendasar untuk penyembuhan LGBT agar Sehat Wal‘aafiah. Dalam Kitab Al’Qur’an ALLAH SWT menegaskan bahwa kodrat manusia itu hanya ada dua varian, Laki dan Perempuan. Tidak ada varian yang lain, seperti LGBT.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi ALLAH SWT ialah orang yang paling Taqwa diantara kamu. Sesungguhnya ALLAH SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah Ak-Hujuraat Ayat 13)

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” Al-Qur’an Surah An-Nisaa Ayat 1)

‘Bagi kalian ALLAH SWT menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri. Kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rizki yang baik-baik.” (Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 72)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada ALLAH SWT dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh ALLAH SWT, dan sesungguhnya ALLAH SWT  Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Qur’an Surah At-Taubah Ayat 71)

Atau mungkin pitutur Pak Harto ini patut dijadikan sebuah bahan perenungan bagi kita semua. Kehidupan manusia berada dalam lingkaran kepastian hukum Tuhan.

“Owah gingsire kahanan iku tergantung saka karsaning Pengeran Kang Murbeng Jagad, yakni ALLAH SWT. Ora ana kasekten sing madhani papesthen. Awit papesthen iku wis ora ana sing bisa murungke.”

Perubahan keadaan itu mutlak kehendak ALLAH SWT. Tiada kesaktian yang menyamai kepastian ALLAH SWT. (kangmas_bahar/habis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *