Begini Perjuangan Warga Trenggalek Tembus Isolasi Pasca Longsor

SURABAYAONLINE.CO- Longsor yang terjadi di jalur Kampak-Munjungan, Trenggalek menjadi ujian berat bagi ribuan warga di Kecamatan Munjungan. Untuk bisa keluar wilayahnya, mereka harus berjuang ekstra hingga menantang maut.

Kepala Desa Karangturi, Puryono, mengatakan saat ini terdapat dua jalur yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk keluar wilayah, melalui jalur Salamwates serta jalur Pandean. Kedua jalan alternatif tersebut memiliki medan yang ekstrem dan kondisinya rusak.

“Sesuai kesepakatan, untuk jalur Salamwates digunakan keluar wilayah dan jalur Pandean untuk masuk ke Munjungan. Kedua jalur itu parah kondisinya, bahkan untuk bisa keluar wilayah saja warga harus estafet dan dan saling membantu,” kata Puryono saat dihubungi, Selasa (30/1/2018).

Menurutnya, kondisi jalan yang licin dan menanjak mengakibatkan sejumlah kendaraan tidak kuat menanjak. Sehingga harus dibantu warga maupun pengendara lain dengan cara ditarik menggunakan tali.

Kondisi tersebut cukup berbahaya, rawan kecelakaan lalu lintas dan bisa mengancam jiwa para pengguna jalan. Meski demikian warga terpksa menggunakan jalur tersebut karena merupakan akses utama sama sekali tidak dapat dilintasi oleh mobil.

“Jadi saat ini kondisi warga Munjungan ini sangat memprihatinkan, bayangkan saja untuk angkutan umum, sekali jalan saja rata-rata menghabiskan Rp60 ribu, kalau pulang pergi bisa Rp120 ribu lebih,” imbuhnya.

Puryono berharap, pemerintah daerah untuk lebih tanggap terhadap kondisi jalur alternatif tersebut, karena apabila jalur tersebut kondisinya semakin parah, maka akan mengancam perekonomian seluruh warga Kecamatan Munjungan.

Longsor di Munjungan Trenggalek/Longsor di Munjungan Trenggalek/ Foto: Istimewa

“Kami memaklumi, jika proses penanganan longsor itu perlu proses, karena memang kondisinya seperti tu. Tapi untuk jalur alternatif ini harus benar-benar diperhatikan, denyut nadi perekonomian Munjungan dari jalur itu,” jelasnya.

Mantan aktivis ini mengaku, untuk mempermudah akses keluar masuk wilayah, warga Kecamatan Munjungan sepakat untuk saling bekerjasama dan melakukan penanggalangan dana guna dimanfatkan untuk perbaikan jalur. Gerakan warga lokal tersebut digelorakan dengan nama Busi (Menembus Isolasi).

“Tapi bagaimanapun juga patungan dari warga itu tidak sebesar anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. Kami minta Pemkab Trenggalek memperhatikan jalur alternatif dengan melakukan perbaikan menggunakan anggaran rutin,” kata Pur.

Lebih lanjut ia menambahkan, saat ini tanah longsor yang terjadi di jalur utama Kampak-Munjungan telah berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok rumah tangga maupun harga bahan-bahan bangunan.

Di sisi lain, terputusnya jalur utama tersebut juga berdampak terhadap sektor perdagangan di wilayah Kecamatan Kampak. Sejumlah pertokoan maupun toko kelontong di sekitar Pasar Kampak tampak lebih sepi dibanding hari-hari biasanya.

Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar para pedagang didapatkan dari warga Kecamatan Munjungan yang melakukan aktivitas belanja di Pasar Kampak. “Sekarang sepi, karena orang-orang Munjungan belanjanya ya di Kampak sini,” kata salah seorang warga Wawan.

Sejak 21 Januari lalu akses utama antar kecamatan di Dusun Jedeg, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak terimbun material longsor. Tebing setinggi lebih dari 100 meter ambrol dan menutup badan jalan sepanjang 500 meter dengan ketinggian timbunan mencapai 5 meter. (detik.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *