Piye Kabare Le Enak Jamanku To (1) – GADUH LGBT !

SURABAYAONLINE.CO – DI tengah situasi kegalauan masyarakat memasuki tahun politik 2018 ini, belakangan muncul kembali kerindungan sosok ‘The Smilling General Soeharto’. Hampir setiap jelang Pilihan Presiden (Pilpres), sebagaian kalangan sepuh teringat Pak Harto.

Misalnya saja, situasi ini tercermin menjelang Pilpres Tahun 2014 silam. Bapak Pembangunan ini kembali menyapa masyarakat melalui Stiker dan tulisan di Pintu Bak Truk Belakang, dengan kalimat satir yang sederhana :  “Piye Kabare Le, Enak Jamanku To ?”

Entah siapa yang memunculkan ide tersebut. Bisa jadi,  ‘tokoh’ dibalik yang mencatut nama Pak Harto ini, mungkin ingin memberi message (pesan) kepada kaum reformis, bahwa mengurus negara  tak semudah membalikkan telapak tangan.

Usai Pak Harto turun keprabon, korupsi bak cendawan tumbuh di musim hujan. Isu PKI dijadikan bahan. Isu Agama jadi perhatian. Peredaran narkoba memprihatinkan. Reklamasi Teluk Jakarta, jadi sorotan. Para menteri bikin kegaduhan. Wakil rakyat perang pernyataan.

Terbaru, isu LGBT atau LGBTQQIAAP (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, Questioning, Intersex, Allies, Asexual, dan Pansexual). Direktur Komunikasi Strategis Saiful Mujani Research & Consulting ( SMRC), Ade Armando menilai, isu tentang LGBT mulai dipolitisasi jelang pemilihan 2019.

Sedang Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy sesalkan komentar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Zulkifli Hasan yang menyebut lima fraksi di DPR RI menyetujui LGBT.

Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Rommy, usai menghadiri Pagelaran Teater Kebangsaan Satyam Eva Jayate di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Rabu (24/1/2018).

Sebelumnya Zulkifli diketahui mengatakan hal yang memicu kontroversi tersebut saat berkunjung ke Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jalan Raya Sutorejo Nomor 59, Mulyorejo, Surabaya, Sabtu (20/1/2018).

“Di DPR saat ini dibahas soal Undang-Undang LGBT atau pernikahan sesama jenis. Saat ini sudah ada lima partai politik menyetujui LGBT,” kata Zulkifli. (Sumber : TRIBUNNEWS.COM, Edisi Rabu, 24 Januari 2018, Pukul 11:29 WIB)

Pernyataan Zulkifli ini tentu saja mengejutkan. Bak gempa bumi berkekuatan 6,9 Scala Richter (SR). Tuduhan terhadap lima partai, kian membuat masyarakat penasaran. Meski Anggota Komisi III DPR membantah tuduhan tersebut.

Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem), T Taufiqulhadi, menyebut bahwa revisi Rancangan Undang Undang (RUU) Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah semuanya dibahas. Namun, masing-masing fraksi baru akan menyatakan sikapnya pada 28 Januari.

Beberapa bulan terakhir ini, RUU itu berada di tangan Tim Perumus (Timus), Taufiqulhadi menerangkan. Setelah itu, RUU KUHP akan dibawa ke rapat kerja Panja KUHP pada 28 Januari.

Apabila dalam Rapat Kerja (Raker) tersebut semua fraksi menyetujui, maka selanjutnya akan dibawa ke paripurna masa sidang saat ini dan kemudian disahkan. (Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Edisi Ahad 21 January 2018 05:03 WIB)

“Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian ?” (Surah Al-‘Araaf Ayat  80).

Al Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy rahimahullah, dalam Kitabnya Al Kabair halman 40 menerangkan bahwa perbuatan Kaum Sodom (Pelaku Sodomi/LGBT), sebagai dosa yang besar dan beliau berkata :

“Sungguh ALLAH SWT telah menyebutkan kisah Kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al Quran Al Aziz. ALLAH SWT telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka. Kaum muslimin dan selain mereka dari kalangan pemeluk agama yang ada, bersepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.”

Sekarang kita coba tinggalkan dulu sejenak soal LGBT dan kegaduhan lainnya.  Kembali kita renungkan pesan : “Piye Kabarmu Le, Enak Jamanku To ?”

Mungkin dalam kondisi yang saat ini makin galau, membaca kembali pitutur Allahyarham Almarhum Bapak Jenderal TNI Soeharto bisa menjadi obat kesedihan. Terlepas, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, dan kontra atau prokontra, sosok Pak Harto. Mari kita ambil hikmahnya.

Orang-orang besar –dalam Buku Otobiografi Soeharto : Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Buku yang ditulis bersama oleh G Dwipayana dan Ramadhan KH terbitan tahun 1989, adalah orang yang selalu mengikhtiarkan dirinya untuk “Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Berbudi Bowo Leksono, Ngudi Sejatining Becik”.

Atau artinya, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai level kesempurnaan hidup, berjiwa besar dan selalu berusaha mencari kebenaran sejati.

Yang dimaksud orang-orang besar adalah, orang-orang yang tidak lagi disibukkan agar dirinya memperoleh tepuk tangan dari khalayak luas atas prestasi-prestasinya.

Mereka merupakan sosok yang telah memahami benar tentang hakekat hidup, hakekat kehidupan dan hakekat dirinya. Atau Mikro Kosmos dalam lingkungan kehidupan Makro Kosmos, selalu mengupayakan terwujudnya kebaikan-kebaikan hidup bersama.

Kesempurnaan hidup dan kebenaran sejati, hanya ditemukan melalui upaya mewujudkan kebaikan-kebaikan mutu hidup bersama (Amal Sholeh) atas dasar kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ALLAH SWT. Hukum ALLAH SWT dan perjanjian kontraktual antar-sesamanya, tidak boleh dilanggar jika ingin hidup bahagia.

Para Wali Songo  —khususnya Sunan Kalijogo, dianggap memiliki kontribusi besar dalam membahasakan ulang ajaran-ajaran Kitab Suci Al-Qur’an kedalam pitutur-pitutur (Nasehat) berbahasa Jawa.

Pak Harto merupakan Tipikal orang Jawa TULEN. Untuk menguak sosok jati dirinya harus memahami filosofi ajaran Jawa yang dipedomani. Jati diri Pak Harto dibentuk melalui pergumulan dan tempaan hidup dalam iklim sosio-kultural masyarakat pertanian pedesaan Jawa.

Budaya pertanian merupakan cerminan budaya kecermatan, ketaatan pada rule of life (aturan kehidupan), kejujuran, kerja keras, inovatif, toleran dan keguyupan.

Seorang petani harus cermat dalam mengelola usahanya agar memperoleh panen yang bagus dan tidak dirundung kekurangan pangan pada masa paceklik. Seorang petani juga harus taat pada aturan siklus musim agar tidak gagal panen.

Mereka juga harus jujur, karena mengurangi sedikit saja perlakuan yang mesti diberi kepada tanamannya (misalnya mengurangi/mengkorupsi pupuk), akan berdampak pada pengurangan hasil.

Kerja keras merupakan modal utama bagi seorang petani, agar tahapan-tahapan pekerjaanya tepat musim dan bebas dari gangguan hama (mulai menanam, memupuk, menyiangi, menjaga dari ancaman hama, memanen dan mengelola hasil panen).

Budaya pertanian juga lekat dengan semangat keguyupan atau saling membantu antara satu sama lain dalam mengolah usaha pertanian maupun ketika dalam menghadapi  masa-masa sulit.

Sorang petani juga dituntut inovatif memaksimalkan lahan yang dimilikinya agar memperoleh hasil maksimal. Begitu pula dalam hal toleransi mutlak diperlukan dalam masyarakat ini.

Bertindak semaunya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan dan kebutuhan lingkungan sekitar, akan merusak harmoni seluruh lingkungannya.

Sebagai contoh riil adalah pengaturan pergiliran pembagian air untuk kebutuhan sawah. Apabila tidak saling toleran, maka percekcokan antar petani tidak bisa dihindarkan.

Masyarakat pertanian juga dikenal sangat religius. Hal itu dicerminkan dengan banyaknya ritual-ritual permohonan do’a untuk capaian hasil usaha tani yang bagus.

Ritual-ritual itu merupakan cerminan pengakuan dan penyandaran hasil kerja kerasnya pada kepastian takdir penguasa tertingi, Tuhan Yang Maha Esa, ALLAH SWT. (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *