Berfilsafat Politik dari perspektif Status questionis

Oleh : Dr. Alexandre Pires – Pakar Ilmu Politik

 

SURABAYAONLINE.CO —- Berfilsafat poltik untuk mengagas tata hidup bersama dari sudut makna yang mendalam. Politikus umumnya memiliki dedikasi tinggi dalam mengelola dan menata partainya, memperjuangkan ideology dan prinsip dasarnya, merebut kekuasaan dan membedakan secara terus menerus. Tidak sedikit politikus yang menjangkau kiprahnya hingga pada wilayah makna. Dedikasi para politikus memiliki idealism makna yang mendalam terhadap lawan politik tampak kurang disadari. Keterlibatan personal pada satu partai politik, menunjukkan bahwa saya dipanggil untuk menerjemahkan kiprahnya dalam pencarian kedalaman arti tata hidup bersama dalam suatu bangsa (maubere) Maubere yang sesunggunya digunakan sebagai instrumen musiman pesta demokrasi. Cakupan ruang dan wilayah begitu luas sehingga politikus perlu rasionalitas. Hari-hari dinamis politik di Negara Timor Leste mengalami perubahan,makna. Makna politik menjadi ketidak pastian hukum, dan saat ini hanya mengadopsi hukum suka-suka bukan berdasarkan pada Konstitusi. Perbincangan, perdebatan, isu perang politik di medsos, yang digulirkan seperti bola guling tidak ada kepastian arah karena adanya egoism dan tidak mampu melakukan loby, sehingga waktu 6 bulan hanya gunakan untuk membentuk berbagai isu-isu di kalangan masyarakat, dan opini dimedsos. Maka dengan demikian saya kategorikan politik deksifasi dan bukan saintifikasi ( scientification) politik. Reduksifasi merupakan sebuah wujud dari proses pendakalan untuk membentuk pemerintah. Kedangkalan tersebut sudah terbaca dari awal pelantikan para Menteri-Menterinya, dimana hamper setiap bulan melakukan pelantikan para Menteri, hal ini menjukkan kelemahan untuk melakukan pendekatan kepada partai lain, untuk brkolaborasi dari pemerintah. Kongres Partai CNRT sudah memutuskan jika tidak menang absolut maka akan menjadi Oposisi. Sudah jelas memberikan peluang kepada partai Pemenang untuk membentuk Pemerintah. Fakta berkata lain, sejarah berkata lain, waktu 6 bulan bukan kesempatan melainkan kesimpitan. Saya menyebut reduksifasi merupakan sebuah wujud dari proses pendangkalan bukan ajektif” reduksif” untuk memberik artikulasi pada proses pendangkalanya dalam proses pembentukan Perintahan yang ke VII. Karena reduksifasi, politik yang bermakna mendalam sebagai tata kelola hidup bersama dalam membentuk pemerintah yang ke VII atau tata kelola bersama, terasa babak belur oleh dominasi, arogansi, perkara-perkara rekan dan atau rekayasa yang tidak bermutu. Pembubaran parlamen oleh Presiden Republik mencerminkan ketidak mampuan partai pemenan dalam mengelola dan menata perintah, dan proses pembentukan pemerintah sepertinya terjebak dalam wilayah virtual. Bukan hanya itu, makna politik yang memiliki cakupan kedalaman pengalaman hidup manusia secara menyeluruh ter reduksifasi pada nama-nama personal sepertinya cicak buaya. Politik memiliki pengalaman hidup manusia, sebab didalamnya dikelola budaya untuk membentuk pemerintah, kecedasan dalam membangun partnership politik, relasi personal-komuniter. Dalam ranah filsafat politik reduksifasi menjadi cetusan konkret kenaifan. Saya katakana naïf, sebab reduksifasi adalah sebuah kesempitan dalam membentuk pemerintah. Masalah politik dikatakan seolah-olah dikamuflase oleh kepentingan sempit dan dimikanya. Saya mengadopsi pandangan dari Prof. Armada Ryanto” Dalam fenomenologis sejarah merupakan perjalanan. Tetapi, bukan sebuah perjalanan personal yang memiliki awal ( kelahiran) dan akhir ( kematian). Sejarah societas adalah sejarah peradaban. Pertanya kemana societas Timor Leste melangkah di era postmodern? Saya memandag Timor Leste berada dalam track yang benar, yaitu mengapai cocietas negosiatif, societas dialogal, societas.