Karya Tulis, Medsos, dan Personal Branding

SURABAYAONLINE.CO, Surabaya –— Penulis yang rajin dan konsisten akan membangun citra diri (personal branding). Itu sebabnya, jika penulis memberikan gambaran lain selain bidang yang digeluti, dia harus menerapkannya atau menghubungkannya tema lain itu ke bidangnya. Contoh saja, jika bidang penulis adalah seniman, seni lukis, misalnya, maka dia senantiasa menulis topik tentang seni lukis.

Jika dia mencoba menulis tentang topik lain, misalnya pendidikan, maka arah tulisannya akan lebih baik dikaitkan dengan pendidikan seni melukis. Meskipun topik dan temanya bukan seni, pendidikan terkait seni lukis bisa digabungkan. Di sini, terbukti bahwa, multidisiplin ilmu juga lebih baik jika dibandingkan dengan monodisiplin ilmu.

Artiya, bidang ilmu yang ditekuni tetap digali sedalam mungkin, tetapi tidak menutup seorang penulis itu juga membaca-baca tentang bidang lain. Keterkaitan antara pendidikan dan seni lukis di atas merupakan sintesis dari proses analisis bidang pendidikan dan seni lukis, menjadi pendidikan seni lukis.

Intinya, personal branding bisa digali dengan berbagai bidang, namun visi tulisannya tetap mengarah pada bidang keahliannya. Bagimana jika temanya terkait dengan suasana politik? Bisa saja, gaya politik dikreasikan dengan gaya retorika seni lukis. Warna-warni bahasa dalam kampanye bisa dimainkan dengan teori kompisisi seni lukis. Teori komposisi seni itu mirip dengan bahasa. Intinya, seni komposisi dapat dikaitkan dengan teori retorika kampanye politik.

Jadi, seni dan politik bersintesis setelah mengalami pembahasan atau analisis. Di sinilah, multidisiplin ilmu itu penting. Dengan monodisiplin, kemudian belajar ilmu lain, disintesiskan menjadi bentuk baru. Dalam teori teknologi, hasil baru dari perpaduan gagasan itu bisa dinamakan inovasi. Intinya, personal branding itu tetap dijalankan namun disiplin ilmu bisa diberi “warna” dengan ilmu lain dan dipadukan menjadi sintesis baru. Jangan sampai seperti kacamata kuda. Keindahan di kiri aknan tidak terlihat indah.

Di samping konsistensi, personal branding juga bisa dimulai dengan redefinisi. Mislanya saja, pada media sosial (medsos). Jika postingannya lebih banjak terkait disiplin ilmunya, maka personal branding itu akan terbentuk. Namun, medsos berupa gambar dan foto itu kadang berbeda-beda. Bisa saja karena tag-tag teman lain di tagline kita.

Jika terlalu banyak gambar atau foto yang tidak terkait dengan brand image diri, maka personal branding tidak akan terbentuk. Identitas seseorang tersebut kabur karena tidak konsisten. Di sinilah, para pemilik akun medsos harus toleransi ketika me-tag gambar atau foto kepada teman lain yang mungkin tidak relevan. Jika terlalu banyak, itu tidak baik. Namun jika hanya secara insidentil, mungkin itu belum mempengaruhi personal branding akun seseorang yang ditauti gambar atau foto.

Jika sudah terjadi seperti itu, maka kita dapat melakukan redefinisi. Ini dapat dilakukan dengan cara membersihkan semua gambar atau foto serta postingan yang tidak relevan dengan bidang kita. Namun, itu tidak harus semua. Yang penting proporsinya tidak melebihi brand image kita.

Tulisan kreatif dalam media masa atau di medsos juga merupakan kita ciri membangung personal branding. Tulisan-tulisan kreatif tidak harus di media koran saja. Tulisan-tulisan kreatif dapat dilakukan di semua jenis medsos. Namun, konsistensi isi tulisan juga memerlukan manajemen tersendiri. Tema atau topik bole berbeda-beda, Namun, dikaitkan terus dengan bidang disiplin yang ditekuni.

Jadi, personal branding itu dapat kita lakukan melalui tulisan-tulisan kreatif dan postingan-postingan gambar atau foto. Boleh bervartiasi namun proporsinya lebih dikelola agar terdapat konsistensi pola dan warna gambar-gambar atau foto-foto.

Personal branding akan lebih mantab lagi jika kita mampu mengelola banyak media sosial. Misalnya saja, Personal Website, LinkedIn, Twitter, Facebook, Google+, YouTube, Vimeo, Tumblr, SlideShare, dan lain-lain. Masih banyak lagi jenis-jenis media sosoal. Namun, jika terlalu banyak bisa saja kita tidak mampu mengelolanya sehingga ada yang pasif. Jika ini terjadi, maka ketidakatifan media sosial akan mengurangi tingkat personal branding kita.

Intinya, yang lebih baik adalah buatlah akun-akun yang dapat dikelola (workabl) daripada terlalu banyak tetapi tidak aktif. Jadi, personal branding melalui tulisan juga dapat dilakukan. Namun, jika itu dalam media sosial, maka tulisan dan foto-foto serta gambar dan postingan lain perlu dikelola dengan baik. Identifikasi ciri dan bidang kita sendiri lebh penting.

Konsisten dan sintesis dengan bidang lain. Menulis akan lebih baik karena topiknya bisa disintesiskan dengan berbagai momen dan topik sesuai perkembangan zaman.
Penulis adalah Managing Editor dan Penerbitan Jurnal dan Buku di STIE Perbanas Surabaya; Pengamat Pendidikan dan Sosial; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER) (Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *