Puti Mampu “Luluhkan Hati” Gus Sholah ?

Edukasi Pilkada Jatim

Oleh : Yusron Aminulloh

Surabayaonline.co — Pesantren Tebuireng sering menjadi saksi sejarah. Bahkan sejarah politik. Puluhan tahun lalu, saat penulis jadi wartawan, pernah menjadi saksi saat konflik keras berlangsung di PPP. Dulu ada kubu KH Cholil Bisri (Rembang) dengan KH Yusuf Hasyim (Tebuireng).

Dan konflik bulanan dimedia cetak itu akhirnya “selesai” begitu KH Cholil Bisri, Kiai kharismatik dari Rembang yang kakak KH Mustofa Bisri itu datang ke Tebuireng. Diawali ziarah ke KH Hasyim As’ari, akhirnya “dikawal” puluhan wartawan masuk ndalem kasepuhan, dan menemui KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).

Dua tokoh besar itu tanpa banyak bicara langsung berpelukan bak sahabat yang lama tidak jumpa (padahal tiap hari debat keras di koran). Hari itu tidak ada kata kasar yang keluar, kecuali saling memuji. Maka, debat keras dimedia cetak berakhir mulai hari itu. Inilah kelebihan “politik kyai NU”.

Itulah yang disebut politik tidak pernah hitam putih. Karena dinamisasi waktu, semua sangat mungkin menjadi penuh warna. Bahkan menjadi pelangi. Baik dukungan formal partai, apalagi dukungan tokoh dan mozaik masyarakat yang sangat mungkin berubah.

Langkah Puti

Mari kita membaca sejumlah “adegan” dibalik pertemuan Puti Cawagub Gus Ipul dengan Gus Sholah, pimpinan Pesantren Tebuireng yang selama ini dikenal menjadi kyai utama pendukung Khofifah, hari Minggu kemarin.

Sepeninggalan KH Hasyim Muzadi sebagai pendukung utama Khofifah, maka posisi KH
Salahuddin Wahid (Gus Sholah) seolah menjadi amunisi baru bagi Khofifah. Meski “the real politik” jaringan pak Hasyim jauh lebih kuat dibanding Gus Sholah. Namun stempel Tebuireng juga sebuah legitimasi kuat.

Maka, Puti paham posisi politik itu. Bukankah itu Kandang lawan ? Bukankah itu sesuatu yang tidak mudah ? Dan jalan mana yang kemudian dipakai Puti membuka pasword untuk diterima hangat Gus Sholah ?

Logika politik, masuknya Puti ke ndalem Tebuireng ada empat jalan. Jalur PDIP Jatim, PDPI Jombang dan tentu dari jalur PDIP Pusat. Dan yang satu jalur Gus Ipul sebagai keponakan Gus Dur yang bagi orang tidak paham, dianggap juga keponakan Gus Sholah, karena Gus Sholah adalah adik Gus Dur.

Empat pintu sempat buntu. Dan ada satu pintu tol yang bisa dilakukan Puti (kalau mau). Yakni menggunakan bapaknya, Guntur yang punya ikatan emosional dengan Gus Sholah sesama alumnus ITB. Tapi Puti tidak mau disebut anak bapak. Ia tetap gunakan jalur prosedure partai.

Untung ada solusi. Berkat kedekatan hati seorang anggota DPR RI dari PDIP asal Jombang, pintu ke Gus Sholah terbuka. Tapi dengan syarat pengurus Partai tidak boleh ikut.

Maka, saat pertemuan berlangsung. Semua Pengurus DPD PDIP Jatim maupun DPC PDIP Jombang, hanya sampai dihalaman Pesantren Tebuireng. Bahkan Gus Syaf, cabup dari PDIP Jombang, juga menunggu diluar saat Puti dan Gus Sholah dialog yang hanya diikuti 5 orang.

Dalam penjelasan ke media, Puti secara diplomatis menyebut tidak ada dialog soal Pilkada Jatim. Tetapi “cctv penulis: menyebut, banyak pesan khusus lewat Puti agar disampaikan kepada Gus Ipul. Sebuah pesan agak pedas, tetapi itu menunjukkan sebuah perhatian dan kasih sayang Gus Sholah yang “tersisa” untuk Gus Ipul.

Kehadiran Puti jangan dianggap kunjungan biasa. Itu simbol kuat untuk menunjukkan bahwa pasangan Gus Ipul-Puti bukanlah pasangan yang layak dimusuhi apalagi dibenci. Posisi Puti menjadi perekat baru. Kalau Gus Ipul sama Azwar Anas, Gus Sholah masih berani “meremehkan”, namun dengan kehidiran Puti ada rasa “sungkan” dari hati yang dalam.

Kedatangan Puti dengan kerendahan hati, dan semangat belajar tinggi, mampu meluluhkan hati Gus Sholah. Bukan untuk pindah ke lain hati dengan mendukung Puti dan meninggalkan Khofifah, namun hati Gus Sholah mau menerima dengan hati lapang pasangan Gus Ipul-Puti sebagai rival Khofifah-Emil. Ini sesuatu yang baru, karena ndalem kasepuhan Tebuireng selama “sangat keras” menolak pencalonan Gus Ipul. Bahkan selama ini menolak kehadiran Gus Ipul yang ingin sowan.

Apalagi kedatangan Puti juga menyambungkan ikatan emosi ayahnya (Guntur) dengan Gus Sholah sebagai sesama alumnus ITB. Orang tua itu, bicara masa lalu, adalah hiburan yang tak ternilai harganya.

Maka, kita akan tunggu efek sosial dan psikologis yang dilahirkan di esok hari.

Akankah Gus Sholah mau menerima Gus Ipul di dalem kasepuhan Tebuireng, sebagaimana KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) menerima KH Cholil Bisri dulu ?

Kalau itu terjadi, maka politik betul-betul hanya menjadi kendaraan sementara yang tidak meninggalkan ukhuwah sejati dalam kehidupan. ****

Penulis Peneliti Sosial, Founder MEP Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *