2 Pelajar Bondowoso Didiagnosa Kecanduan Smartphone, Ditangani Ahli Jiwa

SURABAYAONLINE.CO- Dua pelajar di Bondowoso harus mendapatkan penanganan khusus di Poli Jiwa RSU dr Koesnadi. Dari diagnosis sementara dokter spesialis jiwa di rumah sakit itu, dua pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA itu mengalami guncangan jiwa akibat kecanduan smartphone.

“Keduanya diantar langsung oleh orang tuanya masing-masing,” ujar psikiater RSU Dr Koesnadi Bondowoso dr Dewi Prisca Sembiring, Sp KJ, saat dihubungi detikcom, Sabtu (19/1/2018).

Alasan keduanya dibawa ke poli jiwa, dituturkan Dewi, karena orang tuanya merasa khawatir atas perubahan perilaku anaknya belakangan ini. Yakni, mulai tak mau bersekolah dalam beberapa bulan terakhir karena dilarang menggunakan smartphone.

“Bahkan si anak sampai membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok kalau tak diberi gawai. Dan ini bentuk kecanduan yang cukup mengkhawatirkan,” ungkap Dewi.

Diimbuhkan Dewi, kasus dua siswa yang kecanduan smartphone itu hanya yang tampak di permukaan. Bisa jadi, masih banyak anak yang mengalami hal serupa. Namun orang tua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit.

“Mereka para orang tua mungkin merasa malu membawa ke poli jiwa, atau tak menyadari persoalan yang dihadapi si anak,” tandas Dewi.

Berdasarkan hasil psikotest pada salah seorang pasien tersebut, dituturkan Dewi, menunjukkan bahwa pasien itu telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh.

“Parahnya lagi, dari hasil tes itu orang yang paling dibenci si anak adalah orang tuanya sendiri. Karena dianggap sebagai penghalang dirinya untuk menggunakan smartphone,” pungkasnya. (detik.com)