Tiga Cawabup Jombang, Menguatkan atau Melemahkan Cabup ?

Edukasi Pilkada Jombang

Oleh : Yusron Aminulloh

Surabayaonlie.co —- BANYAK realitas di pilkada yang menempatkan komposisi calon Wakil Gubernur, calon Wakil Bupati/Walikota dengan pertimbangan strategis. Itu adalah hal wajar dan harus dilakukan.

Lihatlah Pilkada Jatim, banyak analisa mengatakan Khofifah tumbang dua kali salah satu faktornya adalah wakilnya yang lemah. Maka munculnya nama Emil Dardak adalah pertimbangan matang dari semua sudut ilmu. Baik karena muda, sehingga bisa menyasar pemilih pemula, pintar dan kepala daerah. Meski tidak dapat dipungkiri juga pertimbangan politis.

Betapa hebohnya saat Azwar Anas harus mundur menjadi Cawagub Gus Ipul. Posisi Gus Ipul menjadi “stagnan” karena Anas bagaimanapum punya posisi menguatkan. Sampai akhirnya menemukan calon pengganti Puti Soekarno, dengan ragam pertimbangan strategis.

Sekarang, mari kita baca bersama, bagaimana posisi sosial dan politik 3 Cawabup di Pilkada Jombang. Sebagaimana kita ketahui, ada tiga nama. Yakni Subaidi Muchtar yang mendampingi Nyono Suharli, Sumrambah yang mendampingi Munjidah Wahab dan Khairul Anam mendampingi Cabup Syafiin.

Tiga Cawabup tersebut mana yang dalam posisi candidate strengthening (calon menguatkan) atau sebaliknya menjadi candidate weakening (calon melemahkan).

Pertama, saya ingin membaca calon dari Syafiin. Yakni Khoirul Anam. Anggota DPRD Jombang dari PDIP. Namanya tidak banyak dikenal masyarakat. Meski dikalangan kader PDIP tentu saja familier.

Kalau pertanyaannya apakah dia menjadi candidate strengthening ? Dari sisi legitimasi jelas iya. Karena PDIP mau mendukung Syafiin, karena ada nama Anam. Namun dari sisi elektabilitas jelas Anam menjadi candidate weakening (calon melemahkan). Karena popularitasnyan minim. Apalagi realitas gerbong ini, donatur utamanya hanya dari jalur Cagub Syafiin.

Khoirul Anam akan mampu menjadi penguat Syafiin kalau mesin partai jalan. PAC bergerak masif mendukungnya. Sementara kita dengar PAC PDIP di Jombang sempat mau boikot, meskipun akhirnya diam. Dan konon kabarnya terjadi mute communication (komunikasi bisu). Kita tunggu waktu sisa 6 bulan, apakah kandidat ini mampu mencairkan suasana.

Kedua, posisi Subaidi Muchtar bagaimana ? Anak muda aktivis ini memang cukup lama malang melintang di Jombang. Meski bukan asli kelahiran Jombang, Subaidi sebagai kader PKB cukup dikenal. Dan posisi politis Subaidi menguatkan Nyono, karena kursi PKB masuk dalam gerbong ini.

Cuma masa lalu mencatat, Nyono Suhaili pernah gagal menjadi bupati Jombang saat menggandeng Halim Iskandar. Padahal nama Halim jelas “diatas” Subaidi dalam elektabilitas maupun popularitas. Trah kyainya Halim jelas. Kekuatan pesantrennya pasti.

Yang menjadikan Subaidi “Candidate Strengthening” hanyalah kalau dia mampu menggaet pemilih muda, kalangan pendidikan digaris Nadliyin. Lagi-lagi masih ada waktu untuk menguatkan posisinya. Orang Jombang tahu, Subaidi bukan orang kaya yang mampu mendukung modal kampanye. Maka posisi Nyono menjadi pemodal utama.

Ketiga, sedangkan nama Sumrambah, mantan anggota DPRD Jatim, secara politik formal tidak punya kekuatan berarti mendukung Cabup Munjidah Wahab. Karena Sumrambah sebagai “Kader Merah” sudah tidak ada dalam struktur. Dan ia bukan kader partai secara formal.

Tapi Sumrambah punya posisi sosial bagus. Ia sebagai adiknya Bupati Jombang Suyanto dua periode, masih memegang jaringan bawah yang kuat. Ada kader setia yang siap mendukungnya. Sehingga kader merah dan arus bawah itu, akan menguatkan jaringan Muslimat yang menjadi modal utama pasangan ini. Konon yang membuat Sumrambah kuat juga karena disokong keluarga besarnya yang memiliki “modal” cukup untuk bertarung.

Akankah posisi Sumbrambah menjadi “Candidate Strengthening” Munjidah Wahab ? Kita menunggu kecerdasan timnya untuk memainkan potensi yang ada. Kalau terlalu percaya diri dan lengah, maka posisi menguatkan itu akan melemahkan.

Jadi pemilih Jombang sebaiknya perlahan menunggu 3 cawabup ini memainkan perannya. Menunggu action kongkrit, menyapa rakyat dengan janji yang realistis. Dan terutama menyapa dengan hati, rendah hati. Bukan dengan kegagahan dan kesombongan. ***

Penulis peneliti sosial dan Founder MEP Institute.