Gairah Santri dalam Pilkada Jombang

Sebuah Catatan Edukasi

Oleh : Yusron Aminulloh

SURABAYAONLINE.CO —- Jombang kota santri. Tidak hanya identitas yang diakui warganya, tapi publik nasional bahkan internasional mengakui. Ini karena sejarah membuktikan di kota inilah embrio NU didirikan.

Bahkan realitas hari ini, memang pantas Jombang disebut kota santri. Dari segala penjuru pesantren berdiri tegak. Arah timur, barat, selatan dan utara, kota dikepung oleh pesantren.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa Jombang sebagai kota santri sudah hampir 15 hingga 20 tahun tidak ada santri yang tampil sebagai Bupati Jombang ? Atau kalau mau disebut partai yang identik dengan santri (PKB, PPP, PAN) belum pernah menduduki pucuk pimpinan kota ini.

Memang pernah kader PAN (santri perkotaan) Ali Fikri menjadi Wabup mendampingi Suyanto (PDIP), demikian juga Bu Nyai Munjidah Wahab menjadi wabup mendampingi Nyono (Golkar). Tapi posisi tetap nomor dua. Tidak memiliki peran maksimal.

Ada banyak penjelasan tentang kondisi ini. Argumentasi filosofis maupun historis. Tapi yang mudah dibaca orang adalah bahwa tokoh yang representasi santri memang belum PEDE tampil. Maka sejarah Jombang (Ijo-Abang) dalam realitasnya 15 tahun jadi (Abang-biru) dan 5 tahun (Kuning-Hijau).

Gairah Baru

Namun Pilkada 2018 kayaknya ada gairah baru. Ada sesuatu yang terpendam tiba-tiba muncul. Dalam berbagai diskusi santri dan aktivis sosial, demikian juga WAG sejumlah kelompok santri di Jombang topik pilkada tiba-tiba hangat dibahas.

Entah siapa yang memulai, kajian-kajian politik lokal dan kepemimpinan menjadi topik hangat beberapa minggu ini. Debat mereka lumayan mencerdaskan. Bukan hanya menjelekkan lawan dan memuji habis kawan, tapi sudah mulai masuk ke substansi.

Perdebatan soal keberpihakan kepemimpinan juga menjadi ulasan menarik. Meski mereka juga mengkritisi diri mereka sendiri. Bahwa kader santri, tidak akan mungkin mampu menghindari orientasi materialisme, sehingga ukuran pembangunan diukur dengan mata telanjang. Maka, infrastruktur tetap menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan tidak dapat dihindari.

Namun, yang menarik banyak kajian kawan-kawan santri muda, usia 20 hingga 30 tahun justru membahas soal kepemimpinan Bupati Nyono. Baik gaya kepempinannya yang artifisial maupun sejumlah kebijakan “pungutan” masif dari level bawah hingga atas. Sehingga jangan bicara pembangunan SDM di Jombang. Karena manusia yang dimanusiakan saja langka. Manusia Jombang (terutama birokrasi dari level desa hingga pejabat atas) dijadikan “alat bantu” melanggengkan kekuasaan.

Lihatlah masalah E-KTP saja tidak selesai-selesai. Masalah perizinan yang menjadi momok, masalah pungutan seragam sekolah yang seolah-olah benar, hingga ragam problema rendahnya perhatian pada PK5, UKM yang semua jalan tanpa peran pemerintah yang berarti.

Yang menjadi pertanyaan, akankah kondisi ini dibiarkan terus berlanjut ?.

Sejumlah kalimat menarik ada didiskusi WAG.

“Saatnya santri bangkit. Saatnya mengembalikan marwah Jombang sebagai kota terhormat, saatnya hilangkan budaya pungli. ” Dan banyak statemen menarik lainnya dalam perdebatan pagi atau malam.

Rupanya sosok bu Nyai Munjidah Wahab yang 5 tahun diam, ngalah ditengah situasi “tidak diperankan” “dipinggirkan” oleh Bupati Nyono menjadi salah satu pemicu gairah santri. Bahwa kemudian harus berpasangan dengan Sumrambah, tokoh muda yang dikenal dari garis “Abang” adalah realitas sosial dan politik yang harus dilakukan.

Dan dalam banyak diskusi nama Sumrambah juga dipuji karena rajin silaturahmi, bahkan sekarang hadir dalam pengajian-pengajian. Sebagai adik mantan Bupati Suyanto, mas Rambah punya posisi politik yang cukup signifikan. Apalagi keluaga besar sudah mendukung penuh. Sebagai pribadi ia punya jaringan tani dan pemilih fanatik mas Yanto.

Seorang santri di diskusi WAG menulis sebuah kalimat indah :

“Saatnya santri Jombang bangkit. Tidak ada waktu lagi menjadi penonton pembangunan. Saatnya berbuat ikut melawan kezaliman kekuasaan. Rakyat harus dimudahkan, santri yang memimpin harus menjadi pelayan masyarakat. Bukan dilayani masyarakat.”

Seseorang membalas :

“Andaikan ada santri dan menjadi pemimpin Jombang, melakukan kesalahan, saatnya anak muda santri zaman now, berani tampil mengingatkan dengan pedoman akhlakul karimah.”

Dan yang menarik, seorang santri menulis yang mendapatkan jempol ratusan orang.

“Kembalikan sejarah Jombang. Saatnya kombinasi kepemimpinan Jombang sesuai sejarahnya. Jombang (Ijo – Abang) saatnya bangkit. Pasangan Munjidah Wahab sebagai representasi Hijau (ijo) dan Sumrambah mewakili Abang (Merah) hadir dalam momentum yang tepat.”

Yang menjadi pertanyaan, mampukah pasangan ini mewujudkan dan menangkap gairah santri tersebut ? Jangan-jangan keinginan santri itu juga “ditangkap” oleh Bupati Nyono sebagai Patahana yang juga klaim berpasangan dengan PKB Subaidi Muchtar, selama ini sebagai Wakil Ketua DPRD Jombang juga merasa mewakili santri.

Apalagi calon lainnya, seorang perwira polisi, Kombes Pol Syafiin yang dikenal keponakan Kyai dan dalam kampanye dan promosinya juga menyebut dirinya Gus Syaf.

Jadi siapakah sesungguhnya yang mewakili santri ? Kita cermati bersama. ****

Penulis Peneliti, dan Founder MEP Institute.