Kids Zaman Now (5) – SALAH KAPRAH

SURABAYAONLINE.CO – Bismillahhiroohmanirrohiim. Anak adalah merupakan sebuah anugerah yang telah diberikan oleh Sang Khaliq, ALLAH SWT. Anugerah yang membuat sepasang hati (Suami dan Istri) semakin bertambah bahagia dalam kehidupannya.

Kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan harta-benda. Anak adalah rizki dari ALLAH SWT, maka sudah sepantasnya pasangan suami istri bersyukur atas rizki yang ALLAH SWT berikan.

Dalam Kitab Al-Qur’anul Kariim Surah Asy-Syuro Ayat 49-50, ALLAH SWT berfirman yang artinya : “Kepunyaan ALLAH SWT kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya). Dan Dia menjadikan mandul siapa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Maka itu salah satu bentuk rasa syukur adalah memperhatikan hak-hak anak, sehingga dengan demikian, terjalinlah hubungan yang harmonis di dalam keluarga. Terciptalah anak-anak yang taat kepada orang tuanya, serta terbentuklah watak-watak anak soleh yang siap membangun agama, bangsa dan negara.

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Islam telah mengajarkan seluruh aspek kehidupan. Islam telah mengajarkan hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya.

Kita sebagai orang tua terkadang SALAH KAPRAH. Menyangka putra-putrinya adalah miliknya, sehingga bebas diperlakukan sesuka hati. Padahal sebenarnya ANAK itu adalah  hanya titipan ALLAH SWT yang sewaktu-waktu akan kembali pada ALLAH SWT.

Atau AMANAH ALLAH SWT. Sebagai titipan, tentu saja kedudukan kita adalah harus menjaga AMANAH tersebut, sebagaimana yang telah diajarkan oleh ALLAH SWT dalam AL-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.

Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW, dalam Hadits Riwayat Imam Bukhari dalam Kitab Hadits Shohihain Imam Bukhari dan Muslim, menjelaskan :

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinan.  Orang laki-laki (Suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.”

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khaththab ra, kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel,” tuturnya kesal.

Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada ALLAH SWT  karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu ?”

Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak ?”

Sayyidina Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni : Pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut, kita bisa mengetahui bahwa ketika hendak menikah, jangan hanya memilih calon suami atau istri, tapi juga memilih calon ayah dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak. Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mencarikan calon orangtua terbaik untuk anak kita kelak, sama saja kita telah melanggar hak anak untuk dilahirkan dari rahim seorang ibu yang baik, dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dari sang ayah.

Memberinya nama yang bagus dan berarti baik, karena : “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (Hadits Riwayat Imam Abu Dawud)

Dari Samurah bin Jundab, ia berkata bahwa Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi)

Nabi Muhammad Rasulullah SAW, sebagaimana dijelaskan Hadits Imam Tirmidzi, diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (Patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau  mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.” (Al-Qur’an Surah Al-Baqara Ayat 233)

Banyak penelitian ilmiah dan penelitian medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaaan. Ibnu Sina, seorang dokter kenamaan, menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya,

“Bahwasanya seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.”

Jika memang air susu ibu tidak keluar, maka carikanlah ibu susu dengan akhlak yang baik sebagaimana ibunda Nabi Muhammad SAW melakukannya. Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi SAW bersabda, “Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”

Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin Samurah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bahwa salah seorang di antara kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’ setiap hari kepada orang-orang miskin.”

Saudaraku yang dimuliakan ALLAH SWT, mari kita ajarkan kepada anak-anak kalian, yakni mencintai Nabi Muhammad SAW, mencintai keluarga dan menerangi rumah dengan membaca Al-Qur’an.

Kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran Al-Qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar. Semoga ALLAH SWT merahmati keluarga kita semua. Aamiin Yaa Robbal’alamiin. (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *