Menunggu Diksi Cerdas Khofifah dan Puti Soekarno

Edukasi Pilkada 2018

Oleh : Yusron Aminulloh

SURABAYAONLINE.CO — LANGKAH Pilkada Jatim bergerak. Bahkan agak cepat ritmenya karena kehadiran Puti Guntur Soekarno. Kalau Azwar Anas yang kalem dan elegan, Puti sebagai pengganti Azwar Anas sebagai Cawagub Gus Ipul, terlihat meledak-ledak, powernya kuat, tegas dan terkesan “gagah”.

Khofifah

Kemampuan public speaking Azwar Anas dengan Puti jauh berbeda. Bukan berarti Anas kalah unggul dengan Puti Guntur. Tapi hanya beda gaya, bukan berarti ada yang kalah dan menang. Tapi hanya soal daya tarik yang berbeda.

Maka, hari ini saya ingin membahas edukasi Pilkada Jatim menggunakan pendekatan ilmu public speaking. Salah satu cabang ilmu komunikasi.

Dalam pengertian umum, Public Speaking adalah komunikasi lisan berupa pidato, ceramah, presentasi, dan jenis berbicara di depan umum (orang banyak) lainnya.

Public Speaking juga diartikan sebagai “pembicaraan publik” yang maksudnya adalah berbicara di depan orang banyak juga.

Lantas bagaimana membacanya kaitan calon-calon Pilkada Jatim ?

Kalau kemarin Azwar Anas jadi maju, ia akan seimbang dengan Emil Dardak. Keduanya kalem, tanpa banyak bicara. Tapi setiap kata dan kalimatnya pasti dan berisi. Karena keduanya anak muda cerdas, memahami masalah birokrasi dan solusinya, karena keduanya adalah Bupati yang berprestasi.

Keduanya diprediksi akan seimbang kalau dalam perdebatan didepan public maupun dalam diplomasi saat berhadapan dengan media.

Sementara, posisi Gus Ipul dengan Khofifah diperkirakan akan tidak seimbang. Bukan berarti Khofifah jago pidato dan Gus Ipul pidatonya normatif.

Namun gaya keduanya memang beda. Khofifah tangkas berkata-kata, orator bahkan mampu memilih diksi yang pas dalam setiap membahas sebuah masalah. Ini karena Khofifah memang “singa” podium sejak muda, saat dia menjadi Anggota DPR RI dimasa mudanya.

Sementara Gus Ipul yang latar belakangnya organisatoris, bahkan jurnalis. Ia jago loby, jago mempersatukan banyak pihak, maka ia gunakan bahasa yang luwes. Ia tidak meledak-ledak. Bahkan karena luwesnya, ia dinilai banyak orang “cengengesan”, tidak serius. Padahal itulah alat dia menembus batas-batas protokoler. Ia mampu menemui tokoh sesulit apapun dengan gayanya.

Dengan kehadiran Puti Soekarno, Pilkada Jatim akan berwarna. Kita akan melihat keseimbangan berdebat, berdiplomasi. Bukan antara Gus Ipul dengan Khofifah. Tetapi antara Khofifah dan Puti Soekarno. Sama-sama perempuan, sama-sama orator meski berbeda latar belakang.

Andaiakan dua tokoh kita ini mampu memilih diksi (pilihan dan kata dan kalimat) yang cerdas, maka waktu lima bulan ini bukanlah drama satu babak yang meninggalkan luka karena kata dan kalimat hinaan. Melainkan pembelajaran langsung tentang demokrasi, kepemimpinan bahkan masyarakat diajak memahami masalah Jawa Timur dan solusinya.

Tapi sebaliknya, apabila dua orator ini tanpa mampu mengendalikan diri, mudah marah, reaktif, atau membuka permusuhan awal dengan pilihan kata-kata yang tidak edukatif. Maka, pilkada akan meninggalkan luka. Sesuatu yang tidak kita inginkan.

Bahkan, sedikit kata permusuhan hendaknya tidak muncul. Meski orang Jawa Timur terbuka, terus terang kalau marah, tapi itu dalam obrolan harian, bukan dipanggung-panggung politik.

Penulis misalnya mengamati, dalam deklarasi awal di Surabaya, Puti Soekarno masih menggunakan diksi yang tidak menarik bagi warga Jawa Timur. Ia sempat bilang, memenangkan pertarungan. Sebuah diksi gagah, tapi tidak menarik.

Puti belum mampu membedakan ia bicara kepada masyarakat luas, atau kepada kader PDIP. Ia harus mampu belajar empan papan. Dimana ia bicara dan kepada siapa. Dalam ilmu public speaking itu menjadi salah satu ilmu kunci.

Mantan Anggota DPR ini mengucapkan siap menerima tugas yang diberikan untuk mendampingi Gus Ipul sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Timur. “Saya siap menerima tugas ini, saya siap bertarung. Mengapa saya katakan siap karena kekuatan itu ada karena kita sekarang bersama-sama bergotong-royong untuk memenangkan Gus Ipul dan saya, “ ucapnya.

Sebuah kalimat yang seharusnya diucapkan didepan panggung kampanye, bukan dalam jumpa pers. Tidak ada sedikitpun ia menyapa masyarakat Jawa Timur. Pada tokoh-tokoh senior, pada masyarakat kecil didesa-desa yang tidak peduli Pilkada karena sibuk mencari sesuap nasi.

Kalau banyak orang menyebut Puti jago pidato karena titisan Bung Karno, tetapi dalam pidato awal ia tidak seperti kakeknya yang suka menyebut dan menyapa rakyat kecil, petani, tukang becak dan lainnya.

Bahkan, karena ia orator, tanda rendah hatinya kurang. Ia “gagah” , tegas. Tapi hari ini masyarakat juga membutuhkan pemimpin yang tegas tapi rendah hati.

Lihatlah sejumlah kelemahan Jokowi perlahan hilang, karena masyarakat melihat kerendahhatian Jokowi. Melihat gaya bicaranya, tekstur tubuhnya, mimik wajahnya, orang menjadi menyayangi. Dan orang lupa dengan sejumlah kelemahannya dalam sisi kebijakan pembangunan.

Khofifah juga typikalnya hampir sama dengan Puti Soekarno. Jago pidato, tangkas dalam berkalimat. Selalu menarik dalam orasi-orasinya. Namun jam terbang mendidik Khofifah. Ia mulai menggunakan ilmu dalam public speking. Ia tahu kata dan kalimat sangat penting. Tapi ia sudah mulai memahami empan mapan. Lihatlah saat pidato di KPU. Dia menangis. Kalimatnya bukan siap memenangkan, tetapi ia berterima kasih kepada masyarakat, bahkan memohon doa.

Maka, harapan kita semua sekarang. Esok hari dan seterusnya, Khofifah dan Puti hendaknya melakukan edukasi kepada masyarakat dengan logika yang benar, dengan bahasa yang santun dan tegas. Tetapi tanpa menihilkan kawan

Dalam teori public speaking terbaru, kata dan kalimat yang dihasilkan dari pikiran pembicaranya akan sampai dipikiran manusia umumnya. Sedangkan olah kata dan kalimat yang diucapkan dengan getaran hati pembicaranya, akan sampai ke hati yang mendengarkan. ***

Penulis Peneliti, dan Founder MEP Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *