Mutu Proses Kunci Sukses Pendidikan

SURABAYAONLINE.CO —- Jika kita ditanya, mana yang lebih utama dalam peningkatan pendidikan? Input, proses, atau output? Tiga unsur ini sering menjebak para pelaku pendidikan dan pengambil kebijakan. Berbicara tentang system dan proses pendidikan, tiga unsur itu memang saling kait mengait. Itu sebabnya, tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, tidak bisa dikesampingkan salah satu di antara ketiga unsur itu.
Namun, jika pembobotan baik segi anggaran dan perhatian, maka proses merupakan yang sentral. Proses itu mencakup, sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini guru. Proses juga melibatkan sarana penunjang pembelajaran misalnya teknologi pendidikan dan media pengajaran. Proses juga melibatkan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang dikelola guru.
Itu sebabnya, input yang jelekpun jika dikelola dengan proses bermutu tinggi, maka input yang jelek bisa jadi lebih baik. Nilai outputnya lebih tinggi. Sebagai analogi, ketela rambat (telo) yang hanya dimasak saja, menjadi ketela masak (telo godhog). Sebaliknya, jika ketela diproses dengan mutu tinggi, misalnya bisa jadi Bak Po Telo, Jus telo, Keripik Telo, dan masih banyak produk hasil Telo menjadi makanan bergengsi.
Jadi, input telo dengan proses yang berbeda hasilnya juga berbeda. Itulah nilai tambah (value added) jika proses pendidikan itu sangat tinggi. Apalagi jika inputnya baik, maka jika diproses dengan baik, hasilnya pasti terbaik. Sebaliknya, meskipun input baik, jika prosesnya jelek, maka hasilnya lebih jelek.
Yang lebih parah lagi, jika input sudah jelek dan prosesnya juga jelek. Jika ada sekolah dengan model kondisi seperti itu, maka peserta didik tidak punya harapan bernilai tambah. Malah, mereka jadi parah. Itu sebabnya, jika terpaksa disuruh memilih salah satu di antara ketiganya, maka proses yang baik itu kuncinya.
Mengapa demikian? Karena kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Keluarga peserta didik berasal dari berbagai latar belakang, termasuk latar belakang sosial dan ekonomi. Anggap saja, inputnya jelek, tetapi prosesnya baik, maka mereka masih tetap menjadi output lulusan yang bernilai tambah.
Bagaimanakah pengambil kebijakan terhadap kondisi sekolah selama ini? Maka upgrade guru-gruru agar kreatif dan berwawasan luas merupakan kunci utama. Anggaran untuk peningkatan mutu guru bisa ditingkatkan. Guru adalah kunci pengendali mutu proses. Itulah, semua pengambil kebijakan, kepala sekolah, pemerintah daerah dan pusat bisa mengatur anggaran yang lebih besar pada peningkatan proses pendidikan.
Jika anggaran pendidikan ada peningkatan, maka pemerintah harus mengawasi untuk prioritas mutu proses. Mutu proses dimulai dari mutu guru-guru. Mereka memerlukan peningkatan kedalaman keilmuan mereka. Mereka memerlukan peningkatan keterampilan bidang pendekatan, metode, dan teknik pengajaran.
Lebih dari itu, guru-guru juga perlu peningkatan pedagogis lainnya, misalnya pembuatan alat tes. Memahami jensi-jenis tes dan tujuan dari setiap jenis tes. Test diagnosa, tes penempatan, tes hasil belajar dan berbagai jenis tes sangat penting bagi mereka.
Proses sangat vital dalam pendidikan. Input itu akan mengikuti prosesnya. Jika proses baik, input dijamin baik. Namun, jika sebaliknya, maka pemndidikan tidak akan pernah mencapai tujuan yang sebenarnya.
Djuwari, M.Hum-Pengamat Pendidikan dan Sosial,President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris, STIE Perbanas Surabaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *