Apa yang harus di-NU-kan dari Ustad Abdul Somad?

SURABAYAONLINE.CO-DALAM diskusi terbatas bersama teman-teman muda aktivis Islam moderat di Bali beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman penulis yang memutar video rekaman ceramah agama Ustad Abdul Somaddi youtube. Dialog pun terjadi antara penulis dan seorang teman tersebut.

“Pak, suka ya dengerin ceramahnya Ustad Abdul Somad?”, tanya penulis.

“Iya, Pak. Beliau da’i yang sedang naik daun sekarang bukan karena sensasi tapi memang kedalaman ilmunya yang luar biasa. Saya kira semua kalangan Islam memuji beliau mulai dari kiai muda hingga kiai sepuh, bahkan para habaib ”, balasnya dengan semangat.

“Saya setuju. Saya juga kagum dengan kealiman beliau. Di beberapa rekaman ceramahnya beliau memang terlihat tegas namun juga lugas, dan sederhana serta tawadhu’. Mungkin itu yang membuat beliau disukai oleh semua kalangan Islam, dari yang moderat hingga yang radikal”, jawab penulis lagi.

“Tapi saya kasihan atas beberapa kejadian pencekalan beliau kemaren”. Imbuhnya.

“Ya mungkin ada faktor kesalah pahaman dari orang-orang awam dan mungkin juga faktor politik, Pak”. Jawab penulis.

“HHhhhmmmmm”, gumamnya panjang.

Obrolan kami berlangsung cukup lama yang intinya memuji bakat ceramah dan kedalaman ilmu agama yang dimiliki Ustad Abdul Somad.

Fenomena Ustad Abdul Somad ini memang luar biasa di kalangan umat Islam khusunya yang aktif dengan media sosial. Ada banyak rekaman ceramah beliau yang bisa dibagikan kapan saja dan ditonton jutaan orang setiap hari. Banyak yang memuji beliau namun juga beberapa kalangan sering tidak sependapat dengan ceramah yang beliau sampaikan.

Dalam beberapa kesempatan, beliau mampu menjelaskan sumber-sumber klasik keislaman mulai dari persoalan fiqih hingga sejarah ketatanegaraan. Referensi kitab-kitab yang beliau pahami juga luas, bahkan–menurut penulis—retorika dan kemampuan beliau dalam ceramahnya bisa dikatakan melebihi KH. Zainuddin MZ. Keduanya sama-sama lucu, blak-blakan, bedanya KH Zainuddin MZ hafal informasi literatur keislaman sedangkan Ustad Abdul Somad hafal hingga nama-nama dan pengarang kitabnya.

Jika dikaitkan dengan dunia organisasi keislaman di Indonesia, Ustad Abdul Somad bisa dikatakan mewakili semua semangat dakwah organisasi-organisasi Islam di Indonesia. Misal, menurut beberapa peneliti sejarah Islam di Indonesia, semangatnya yang pro-Khilafah disukai HTI, ceramahnya tentang keharaman hari Ibu dan ucapan selamat hari Natal disukai kelompok Salafy-Wahabi, keseringannya mengucapkan non Muslim sebagai kafir disukai FPI, ceramahnya yang moderen dan maju mewakili Muhammadiyah, dan dukungannya terhadap tradisi tahlil dan maulid Nabi dicintai masyarakat nahdliyin (NU).

Kaitannya dengan Nahdlatul Ulama, ada beberapa berita di media sosial yang nampaknya membenturkan beliau dengan para elit struktural NU, khususnya dengan KH. Said Aqil Siraj. Contoh nyata adalah berita pengcekalannya di Hongkong beberapa waktu yang lalu. Dalam kejadian tersebut, KH. Said Aqil Siraj menjadi bulan-bulanan di media sosial dan difitnah sebagai pelaku pencekalan atas Ustad Abdul Somad ketika hendak menghadiri ceramah di Hongkong.

Sejatinya, kedua ulama tersebut tidak ambil pusing dengan pemberitaan di media sosial. Namun, berita tersebut memberi efek panjang bagi kalangan bawah masyarakat nahdliyin sendiri dan kelompok di luar nahdliyin. Bisa jadi berita hoax tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang yang senang mengadu domba keduanya.

Secara kultural sebetulnya Ustad Abdul Somad adalah orang NU. Sanad keilmuannya juga sama dengan kiai-kiai NU lainnya. Namun, yang ingin penulis fokuskan dalam tulisan kali ini bukan mengenai NU kultural, apalagi struktural. Lalu, apa yang harus di NU-kan dari Ustad Abdul Somad?

Dalam konteks Islam di Indonesia, sejak zaman kemerdekaan telah terjadi perebutan peran dalam mengisi ketatanegaraan, antara yang islam dan nasionalis. Ir. Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan menginginkan keduanya berjalan bersama. Menurut beliau Islam yang diisi dengan semangat nasionalisme akan kuat dan nasionalisme yang diisi dengan nilai-nilai Islam akan terarah, damai, dan sejahtera. Maka, Indonesia sejak dulu disepakati sebagai negara religius-nasionalis yang berdasarkan ideologi Pancasila.

Semangat Pancasila ini dikawal betul oleh Nahdlatul Ulama, terutama elit struktural dari ranting hingga pengurus pusat. NU bergerak dengan Islam moderatnya melawan sikap politis ormas-ormas Islam lain yang menginginkan Indonesia menjadi khilafah, atau nama lainnya bersyariah. NU juga melawan islamisasi dari kelompok puritan Salafy yang tidak mentolerir tradisi dan budaya dalam peribadatan umat Islam.Dalam pengawalan ini, tentu NU menghadapi banyak tantangan baik dari luar maupun dari dalam masyarakat nahdliyin itu sendiri.

Kaitannya dengan Ustad Abdul Somad, beliau cukup rentan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang berlawanan dengan NU. Apalagi di era serba internet ini, perlawan kelompok-kelompok oportunis dan politis yang mengatasnamakan Islam lebih kuat berada di media sosial. Ini kemudian yang disebut dengan ‘perang ideologi (ghozwul fikr)’.

Ustad Abdul Somad lebih menunjukkan independensi keilmuan ketimbang afiliasinya dengan ormas-ormas tertentu. Tentu hal ini mengandung nilai positif dan negatif. Aspek positifnya adalah beliau diterima oleh semua golongan, dan aspek negatifnya adalah ormas-ormas berkepentingan akan lebih leluasa memanfaatkan beliau untuk membenturkan ideologi satu dengan yang lainnya.

Penulis berpendapat bahwa keniscayaan untuk berafiliasi kepadasalah satu ormas Islam di Indonesia baik secara struktural maupun kultural tidak dapat dihindari. Seperti yang telah penulis paparkan di atas bahwa perang pemikiran antara yang moderat, radikal, dan liberal sudah cukup kuat dan berlangsung lama di Indonesia, utamanya melalui peran media sosial.

Beberapa ceramah Ustad Abdul Somad yang dengan mudah mengkafirkan seseorang karena beda agama dan yang baru-baru ini mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak berhasil (selesai) membawa Islam Rahmatan Lil Alamin cukup menuai kontroversi. Di kalangan intelektual muda NU sendiri, ceramah tersebut mendapat sorotan dari Nadirsyah Hosen, Rois Syuriah PCINU Australia-Selandia Baru. Di lain pihak, Felix Siauw yang sudah sejak lama mengampanyekan Khilafah di Indonesia mendukung apa yang disampaikan Ustad Abdul Somad tersebut. Respon berbeda kedua tokoh tersebut merupakan satu diantara ‘perang pemikiran’ yang saat ini berlangsung di Indonesia.

Mungkin dapat dikatakan bahwa fenomena Ustad Abdul Somad ini kurang lebih sama dengan apa yang melanda NU sejak beberapa tahun belakangan ini. Di NU sendiri, misalnya, terdapat banyak kiai yang secara tegas bersebrangan dengan pemikiran para elit struktural PBNU di Jakarta. Sebut saja KH. Luhtfi Basori dari Malang, Ustad Idrus Romli dari Jember, dan KH. Najih Maimoen (Gus Najih) putra ulama besar KH. Maimoen Zubair dari Rembang serta KH. Salahuddin Wahid cucu pendiri NU dari Jombang. Bedanya Ustad Abdul Somad lebih terkenal dan tenar ketimbang para kiai pesantren tersebut.

Perbedaan pendapat di kalangan mereka adalah lumrah sebagimana di zaman kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid dulu, ketika KH. As’ad Syamsul Arifin sampai-sampai menyatakan ‘firoq’ dengan beliau. Yang harus digaris bawahi adalah adanya independensi keilmuan Ustad Abdul Somad ini akan rentan dimanfaatkan ‘orang-orang ketiga’ yang penulis paparkan di atas.

Mengakhiri tulisan ini, bahwa keniscayaan untuk mewarnai dakwah melalui afiliasi ormas Islam di Indonesia baik struktural maupun kultural saat ini dirasa penting demi menjaga Islam moderat yang menjadikan Indonesia tetap aman dan damai tidak terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, dan sosial yang mengatasnamakan agama (Islam).

Di luar ini semua, sebagai seorang pemuda yang aktif dalam kegiatan Islam moderat, penulis juga mengagumi kedalaman ilmu keislaman yang dimiliki Ustad Abdul Somad. Bahkan, kealiman beliau diselimuti dengan sikap rendah hati, sederhana, dan yang pasti lucu.

Akhirnya, pendapat ini boleh jadi benar boleh jadi salah. Pembaca berhak setuju ataupun tidak. Kiranya meng-NU-kan Ustad Abdul Somad sekarang ini sangat pentingsebagaimana uraian yang telah penulis paparkan dalam artikel ini. Jika bukan sekarang, lalu kapan lagi? Ya sekarang!( M. Faruq Ubaidillah, S.Pd)

*Penulis adalah aktivis Islam moderat, juga berminat pada kajian politik dan bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *