Puti Soekarno “Lomba Pesona” Melawan Emil Dardak

Edukasi Pilkada Jatim :

Oleh : Yusron Aminulloh

SURABAYAONLINE.CO — Warga Jatim sampai malam ini, masih menunggu siapa pengganti Azwar Anas. Akankah kader PDIP Kanang (Bupati Ngawi), Ipong (Bupati Ponorogo) atau calon dari “poros tengah” yang dipelopori PAN, PKS dan Gerindra yang juga disodorkan ke Gus Ipul.

Namun sore ini tiba-tiba ada sosok baru yang muncul. Dialah Puti Guntur Soekarno, anak tunggal Guntur Soekarno. Tokoh yang dulu “ditenggelamkan” Orde Baru.

Kalau betul Puti yang dipilih mendampingi Gus Ipul dalam Pilkada Jatim 2018, ini menunjukkan Megawati mencari pengganti Azwar Anas dalam konteks calon yang representasi “Generasi Now.”

Karena Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri atau lebih dikenal dengan Puti Soekarno, seorang anggota DPR periode 2009–2014 dan 2014−2019 yang juga cucu dari Presiden Soekarno, adalah anak muda yang mewakili zamannya.

Mari kita hitung bersama plus minus kehadiran Puti Soekarno. Karena apapun pilihan selalu mengandung dua sisi itu.

Pertama, yang menjadi nilai minus Puti Soekarno adalah dia belum masuk dalam radar elektabilitas dan popularitas papan atas di Jawa Timur. Bahkan kalau survey dilakukan hari ini, bisa jadi ia menjadi cawagub dilevel bawah, karena masyarakat Jawa Timur minim informasi sepak terjang Puti.

Minus yang kedua, ia tak “moncer” kayak Azwar Anas karena prestasinya. Anas tanpa banyak memperkenalkan diri, 7 tahun memimpin Banyuwangi dengan ragam prestasi adalah gambar nyata yang menempel diotak dan hati warga Jawa Timur.

Sementara Puti Soekarno, meski Anggota DPR RI, warga Jawa Timur tidak mengenal kiprahnya apalagi karya dan prestasinya. Maklum Puti dapilnya di Jawa Barat.

Ketiga, ia keturunan Sunda. Bukan arek Jawa Timur. Budayanya beda. Konon sejarah masa lalu budaya mataram (Jawa) tidak pernah bisa menyatu dengan Pasundan (Sunda). Meski itu boleh disebut mitos.

Lantas dimana plusnya ?

Pertama, Puti cucu Soekarno. Cucu Biologis dan Ideologis menjadi satu. Apalagi anaknya Guntur. Sosok yang menjadi idola generasi old. Dulu orang sangat mengharap Guntur tampil melawan orde baru. Tapi ia memilih diam dan tak melawan saat Orde Baru melarangnya tampil.

“Klangenan” generasi old dengan Guntur akan terobati dengan tampilnya Puti. Tapi dengan syarat, kecerdasan Puti terlihat, kemampuan pidatonya mempesona, gaya tegasnya terbaca. Kalau itu dimiliki Puti, waktu 4 bulan membangun nama dia tidaklah sulit. Kerinduan orang akan sosok Bung Karno dan Guntur terobati.

Kedua, untuk melakukan keseimbangan gerakan Emil Dardak yang didukung Arumy Bachin istrinya “manyapa” pemilih muda, maka kehadiran Puti adalah alternatif. Terutama pemilih muda yang suka cantik dan modis.

Anak anak muda Surabaya dan Malang yang dikenal solid digaris PDIP akan merasa “segar” karena calonnya yang cantik. Apalagi Sunda yang secara historis sebuah kelemahan, bisa berbalik menjadi kelebiha karena kecantikannya. Untuk pemilih ini, pintee nomor dua, cantik nomor satu. Asal tim suksesnya mampu membangun image Puti dengan baik, Puti menjadi idola baru.

Ketiga, dibanding Kanang (Bupati Ngawi) yang bagus dilevel bawah, namun 30 persen pemilih muda tak akan tersentuh. Karena Gus Ipul dan Kanang dan bu Risma sekalipun adalah representasi generi old.

Maka, memilih Puti adalah alasan utamanya meraih pemilih muda. Meskipun itu tidak muda, karena kemampuan Puti yang akan menjawab keadan.

Karena generasi now modern yang medsos menjadi acuannya, tidak lagi cukup diberi pesona wajah. Mereka butuh juga iso otaknya.
Kalau Puti bisa bicara tegas, kalimatnya cerdas, pengetahuan tentang permasalahan daerah dan solusinya ia miliki, bisa jadi ini akan diviralkan oleh anak anak generasi now ini. Namun sebaliknya bisa menjadi korban “bully” dan melahirkan hatter yang banyak.

Sebaliknya, kalau sosok Puti lembut, keibuan, tidak banyak bicara model sepupunya (Puan Maharani) , sulit meladeni wartawan yang suka “ngetes” dengan sejumlah pertanyaan, maka posisi ini akan menyulitkan Gus Ipul. Bukan menambah suara, malah mengurangi.

Namun kawan, tidak baik kita menilai terlalu jauh. Sebelum keputusan pasti dari Ketum PDIP. Dan tidak elok kita menilai sosok Puti sebelum ia menunjukkan jati dirinya.

Jadi kita tunggu esok, apa yang akan terjadi.**

Penulis Peneliti Sosial, Founder MEP Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *