Pesona Pidato Khofifah

Edukasi Pilkada Jatim

Oleh: Yusron Aminulloh

SURABAYAONLINE.CO — Di Partai Persatuan Pembangunan dulu, saya ingat ada dua sosok mempesona dalam berdiplomasi politik. Yang senior adalah KH Hasyim Latief dan yang yunior Khofifah Indar Parawansa.

Kiai Hasyim Latief, tokoh NU, sering jadi juru bicara dalam persoalan politik nasional. Beliau santun, arif tapi terlihat tegas. Sementara Khofifah anak muda cerdas dan berwawasan luas. Gaya bahasanya cermat, diksinya kuat.

Tahun 90 saat saya aktif sebagai wartawan, beberapa kali sempat wawancara. Ada yang istimewa dalam berdiplomasi memang Khofifah muda ini. Tapi kemudian lama tak jumpa, dan hanya mengamati di media.

Tapi ada yang saya ingat satu dari Khofifah. Meski wanita, dia “gagah” bahkan kalau tidak cermat bisa disebut sombong. Bahasa tubuhnya kurang merunduk. Ada kesan menunjukkan dia hebat. Super percaya diri. Itu kesan saya waktu dia muda.

Setelah 20 tahun tidak bertemu, saya tidak lagi mengamati detail. Tapi saya lihat sisa-sisa mudanya masih terbawa. Sampai hari ini bicaranya tetap mempesona. Diksinya cerdas, dan pemahaman akan masalah cukup bagus.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa pesona Khofifah tidak mampu mengantarkan dia menjadi Gubernur Jatim selama dua kali Pilkada ?

Tim dan semua lini digarisnya pasti menjawab, karena dicurangi oleh lawannya dalam dua Pilkada tersebut. Sehingga Khofifah gagal menjadi Gubernur.

Sementara kubu yang seberang mengatakan, memang elektabilitas Khofifah kalah dengan Pakde Karwo sebagai lawannya dalam dua kali Pilkada tersebut.

Meski kalau memakai terminologi ilmu jawa, Khofifah memang belum dapat “pulung”. Belum dapat amanah dariNya. Belum ketiban “bejo”, alias masih “apes”.

Lantas bagaimana dengan peluang mengikuti Pilkada ketiganya kali ini ? Ada beberapa catatan saya tawarkan :

Pertama, kekalahan dua kali kalau betul disebut dicurangi, saya kira sudah tidak akan terjadi. Karena pihak yang disebut “mencurangi” yakni kubu Pakde Karwo, sekarang ada dikubunya.
Artinya, rentan problema itu sudah tidak ada.

Sudah seharusnya “opsi” curang tidak lagi menjadi fokus. Kini gilirannya memperkuat tim dari hulu hingga hilir. Dengan kekuatan partai yang lengkap, minimal dua partai besar Golkar Demokrat, tinggal menunggu sejauhmana mereka solid.

Kedua, melihat dan mencermati gerak kubu lawan boleh. Tetapi bekerja maksimal jauh lebih utama. Fokus memperkuat jaring-jaring yang ada. Meski harus menjadi catatan, dua kali berlaga di Pilkada Jatim dulu, Khofifah punya “jimat”. Yakni sosok KH Hasyim Muzadi. Yang dikenal “menguasai” NU Jatim sampai ke lini terbawah.

Posisi dan peran itu sekarang diambil Gus Sholah dan Kiai Asep yang menjadi penjaga garis Nadliyin. Disamping puluhan kiai lainnya. Khofifah menjadi yakin karena ada beliau-beliau “jimat” barunya pengganti Hasyim Muzadi.

Ketiga, dalam konteks Muslimat, dalam pertarungan Pilkada sebelumnya, Khofifah mampu mengerahkan total kekuatan Muslimat Jawa Timur. Karena PKB waktu itu mendukung Khofifah.

Namun, di Pilkada 2018 ini, ada kendala yang dihadapi karena banyak tokoh Muslimat Jawa Timur dan beberapa tokoh Muslimat di Kabupaten/Kota adalah anggota DPRD dari PKB. Artinya kesetiaan mereka bisa tidak lagi tunggal. Memilih Ketum Muslimat, atau memilih jagonya PKB. Ini tidak mudah karena menyangkut posisi dan jabatan kedepan.

Keempat, Khofifah punya kekuatan pendukung dari garis Emil Dardak. Hal ini juga menjadi kekuatan baru Khofifah bertarung dalam Pilkada 2018.

Fakta menunjukkan, dua kali gagal juga faktor Wagub yang lemah dan tidak banyak memberikan kontribusi suara. Posisi Wagub adalah hal yang ikut menentukan.

Kelima, pidato Khofifah yang mempesona adalah modal. Tetapi pidato tidak boleh berhenti menjadi retorika. Ia harus mampu menjadikan pidatonya bukan sekadar kata-kata. Namun, ia sungguh mengejawantah menjadi jawaban atas masalah Jawa Timur. Pakde Karwo adalah contoh tidak jago pidato, tapi jago membangun visi dan jago kerja..

Pada sisi lain, gaya Khofifah yang kurang “merunduk” semoga bisa ia ubah. Bahasa tubuhnya harus luwes, tidak boleh kaku. Karena pemimpin itu harus luwes, merangkul pada rakyat. Konsep akhir merunduk adalah tawadhu.
Disana ada gambaran tidak merasa hebat, tidak merasa paling bisa, tidak merasa paling unggul.

Zaman sedang membutuhkan pemimpin yang menyatu dengan rakyat tidak dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran dirinya, hatinya dan hasil kerjanya. ***

Penulis Peneliti Sosial, Founder MEP Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *