Membaca Peta Politik di Pilbup Kabupaten Probolinggo

SURABAYAONLINE.CO-Suasana politik menjelang pemilihan umum bupati di Kab. Probolinggo mulai terasa hangat. Hal ini ditandai dengan bergabungnya Demokrat-PKB yang mengusung kandidat Malik-Muzayyan sebagai cabup dan cawabup Pilbup Kab. Probolinggo dan terdaftarnya calon pasangan lewat jalur independen yaitu Sumanto-Imaduddin dengan dukungan KTP sejumlah 83.331.

Di tempat lain, incumbent, yaitu Puput Tantriana Sari-Timbul Prihanjoko (Hati Jilid II) semakin memperkuat dukungan dari banyak partai penguasa kursi parlemen di Kab. Probolinggo. Dukungan tersebut berasal dari NasDem dengan jumlah kursi 14 di parlemen, Golkar 5 kursi, PPP 5 kursi, dan PDIP 5 kursi. Maka jumlah total dukungan Hati Jilid II adalah 29 kursi.

Sementara itu, sisa dua partai yang belum secara resmi menentukan dukungan mereka yaitu Gerindra dan Hanura. Kendatipun begitu, parta Gerinda nampaknya akan ikut mendukung incumbent (red, Hati Jilid II) setelah adanya pernyataan dari ketua DPC Partai Gerindra, Jon Junaidi, dalam wawancara dengan Jawa Pos Radar Bromo beberapa waktu yang lalu.

Begitu pula Partai Hanura, ketua DPC Partai ini juga siap mendukung incumbent dalam merebut kembali kursi nomor 1 di kabupaten. Meski begitu, lagi-lagi, pernyataan ini belum secara formal turun dari DPP masing-masing partai. Politik itu dinamis. Apa pun dapat terjadi dalam waktu yang cepat.

Dalam analisis singkat kali ini, penulis mencoba untuk melihat dua kekuatan ‘non-partisan’ yang dapat mempengaruhi hasil Pilbub di tahun 2018 nantinya.Dua kekuatan ini adalah Pesantren dan Pemilih Pemula.

Kabupaten Probolinggo merupakan daerah yang dapat dikatakan hampir 100% dihuni oleh warga nahdliyin. Fakta ini dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah yang berafiliasi kultural kepada ormas NU serta pondok pesantren yang para kiainya juga aktif di dalam kepengurusan NU Jawa Timur.

Sebagai contoh, pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan dipimpin oleh KH. Hasan Mutawakkil Alallah yang juga merupakan ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur. Pesantren Nurul Jadid dipimpin oleh KH  Zuhri Zain.  Beliau Rois Syuriah PWNU dan memiliki wibawa yang cukup tinggi di kalangan masyarakat nahdliyin Kab. Probolinggo.

Dua pesantren besar ini memiliki pengaruh yang—menurut hemat penulis—luas di tengah masyarakat untuk menyumbangkan suara yang banyak kepada calon yang memiliki lobi politik masyarakat. Selain dua pesantren besar ini, juga terdapat banyak pesantren yang menjadi basis kantong suara warga nahdlyin, yaitu pesantren Nurul Qodim, MAIS, Masduqiyah, Salafiyah-Syafiiah Sentong, dan juga Badridduja. Khusus yang terakhir ini sudah barang tentu akan mendukung calon Malik-Muzayyan karena Gus Muhammad Muzayyan Badri merupakan anggota keluarga pondok pesantren Badridduja, Kraksaan.

Selain pesantren, ada juga kekuatan Pemilih Pemula yang penting untuk diperhatikan. Mereka terdiri dari para pensiunan TNI dan Polri serta anak-anak muda yang sudah memegang KTP dan siap untuk memilih di Pilbup tahun 2018 nanti. Menurut data dari KPU Kab. Probolinggo, jumlah Pemilih Pemula ini adalah39.509 orang. Jumlah ini cukup banyak dan kemungkinan mereka belum menentukan akan mendukung calon yang mana.

Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap dua kekuatan non-partisan ini? Ketiga kandidat calon yang akan bertanding di Pilbup nanti perlu melakukan lobi-lobi politik dan pendekatan kultural, terlebih kepada ‘masyarakat pesantren’ yang masih belum terlihat jelas akan mendukung calon yang mana. Siapa cepat, dia dapat. Konsep ini juga berlaku dalam politik.

Dalam hal lobi politik, nampaknya incumbent, Hati jilid II, banyak diuntungkan. Betapa tidak, salah satu kader partai pendukung incumbent merupakan mustasyar PCNU kota Kraksaan yang tentunya telah menyiapkan lobi terbaiknya untuk mengambil hati beberapa ulama NU dan masyarakat nahdliyin lainnya, melalui pengaruh struktural organisasi. Tidak heran jika PCNU dan Muslimat kota Kraksaan telah secara resmi menyatakan dukungannya kepada incumbent.

Kandidat calon Malik-Muzayyan juga cukup diuntungkan. Cawabup Muzayyan dipandang memiliki reputasi yang baik di mata keluarga dan masyarakat sekitar pesantren Badridduja kota Kraksaan. Ini dapat dimanfaatkan untuk menggalang suara lebih banyak dari masyarakat nahdliyin lainnya. Maka, tidak heran jika di beberapa media berita kandidat Malik-Muzayyan mengaku telah mendapat restu dari beberapa kiai atau ulama NU di Kab. Probolinggo.

Yang cukup menyulitkan adalah bagi kandidat calon dari jalur independe yaitu Sumanto-Imaduddin. Pasangan ini harus bekerja keras untuk meraih simpati dua kekuatan besar tadi. Para pendukung calon ini harus mulai bergerilya melobi para pemilih pemula dan juga kiai-kiai pesantren lebih cepat. Hal ini cukup sulit karena dua calon lainnya sudah terlebih dahulu menarik simpati dua suara ini, khususnya masyarakat pesantren.

Akhirnya, analisis singkat ini merupakan hitung-hitungan sederhana peta politik yang ada di kabupaten Probolinggo. Sebagai orang asli kabupaten Probolinggo yang sekarang tinggal di Denpasar, Bali, penulis sangat senang dengan tidak adanya calon tunggal dalam Pilbup tahun 2018 nanti. Ini menandakan bahwa nilai-nilai demokrasi tetap hidup di kabupaten Probolinggo dan mampu terhindar dari konspirasi sesaat para elit politik. Siapapun yang menang, kabupaten Probolinggo harus bersih dari korupsi dan kemiskinan juga harus dapat dientaskan. Itulah tujuan utama perebutan kursi Bupati di kabupaten ini. Jika bukan itu, lalu apa lagi?(M. Faruq Ubaidillah, S.Pd)

*Penulis adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Universitas Udayana dan Jolly Roger Education, Denpasar, Bali. Selain mengajar, penulis juga aktif di forum-forum budaya dan dialog lintas agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *