Tes TOEFL/IELTS/TOEIC di Indonesia: Akademis atau Politis?

SURABAYAONLINE.CO-Dalam tulisan artikel sebelumnya yang terbit pada tanggal 28 Desember 2017, telah penulis paparkan fakta pemahaman ‘tradisonal-konservatif’ yang masih hidup di tengah-tengah para pengajar bahasa Inggris (red, guru) dan paradikma baru yang harus mereka percayai. Hal tersebut walaupun kontroversial tetap perlu didiskusikan dalam forum-forum ilmiah seperti workshop dan konferensi guru agar basis keilmuan dan cara pandang para guru dapat sesuai dengan kebutuhan lokal siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris saat ini dan perubahan peta globalisasi dalam pengajaran bahasa Inggris itu sendiri. Jangan sampai belajar bahasa asing lalu identitas lokal berubah menjadi ‘asing’!

Dalam tulisan kali ini, penulis akan memaparkan satu isu yang lebih khusus dan, mungkin bagi sebagian kalangan terutama para penyelenggara tes, cukup ‘nakal’ untuk dibaca dan dipercaya. Sekali lagi, penulis sampaikan bahwa tulisan ini berniat untuk menambah wawasan keilmuan para pembaca dalam isu-isu politik dan bahasa, bukan untuk memprovokasi, apalagi mengintimidasi!

Baca: Pengajaran Bahasa Inggris Kita: Sebuah Refleksi

Jamak kita pahami bahwa posisi bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional sungguh tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bahkan, jauh dari fungsi komunikasi, seseorang yang bisa berbahasa Inggris aktif baik tulis maupun bicara akan dengan sendirinya terlihat lebih ‘bergengsi’ di tengah-tengah masyarakat. Maka, tidak heran sekalipun bahasa Inggris telah diajarkan di sekolah-sekolah formal, antusiasme para pembelajar untuk mengikuti kursus bahasa Inggris masih besar, mulai dari yang baru masuk kelas satu SD hingga yang telah tamat kuliah.

Biasanya, dalam setiap kesempatan, mahirnya seseorang dalam bahasa Inggris dilihat dari hasil skor ujian bahasa Inggris mereka yang diadakan oleh lembaga internasional yang diakui, semisal IIEF, IALF, dan British Council. Sertifikat hasil ujian ini sangat banyak digunakan untuk melamar pekerjaan di perusahan bonafit dan atau melamar beasiswa kuliah, utamanya ke luar negeri.

Produk ujian bersertifikat internasional ini di antaranya adalah, untuk menyebut beberapa saja– TOEFL (Test of English as a Foreign Language), IELTS (International English Language Testing System), dan TOEIC (Test of English as an International Communication). Untuk biaya mengikuti ujian ini juga bervariasi, namun rata-rata bisa dikatakan mahal. Penulis rasa sudah banyak yang tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk mengikuti satu kali tes bahasa Inggris tersebut.

Yang menjadi masalah dan akan dikupas oleh penulis dalam tulisan ini adalah bukan tentang biaya ujiannya, melainkan bentuk tes yang—kalau mau jujur, cukup‘bias’terhadap kemampuan bahasa Inggris orang-orang di negara berkembang (yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris).

Pertama, mengapa penulis katakan ‘bias’, setidaknya semua bentuk tesyang telah disebutkan tadi, memuat soal listening (mendengarkan) yang pembicaranya adalah penutur asli (native speaker). Masalahnya ada di sini. Secara logika, tidak mungkin produk dan ujian tersebut dapat menunjukkan hasil yang benar jika karakter ‘A’ diuji dengan karakter ‘B’. Karakter A merupakan jenis, variasi, logat, dan kemampuan bahasa Inggris orang-orang dari negara berkembang, sedangkan karakter B adalah dari negara Barat (yang katanya pemilik penuh bahasa Inggris). Apakah ini dapat dikatakan bersifat akademis, ataukah politis? Tentu pada kecakapan kemampuan lainnya yaitu reading, speaking, grammar, dan writing juga mengalami hal yang sama. Ukuran tingkat kemampuannya adalah bahasa Inggris yang digunakan oleh para penutur asli (native speaker).

Perlu rasanya mengutip pendapat Profesor Kumaravadivelu, seorang pakar dalam teori ‘post-method’ dalam pembelajaran bahasa asing di dunia. Dalam penelitiannya, beliau mengatakan bahwa negara-negara Barat memang ingin melanggengkan status quo kekuasaan mereka atas bahasa Inggris melalui empat jalur, yaitu scholastic (akademik), linguistic (kebahasaan), cultural (budaya), dan economic (ekonomi). Dalam aspek scholastic inilah produk tes tersebut sengaja menggunakan penutur asli dari negara Barat (utamanya Amerika dan Britania Raya) dan dipasarkan ke seluruh negara berkembang melalui organisasi industri bahasa.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa adanya produk tes bahasa Inggris tersebut nampaknya lebih bersifat politis ketimbang akademis. Kemampuan bahasa seseorang di satu daerah dengan daerah lainnya adalah unik, menurut Profesor Bradj Kachru dan Profesor Suresh Canagarajah. Keunikan berbeda dan selalu berkembang, tidak mungkin dapat disamakan.

Yang terjadi adalah setiap tahunnya, tak kurang dari seratus pelajar yang mengikuti ujian kemampuan bahasa Inggris ini sebagai syarat pendaftaran beasisiwa kuliah ke luar negeri. Semakin banyak yang mengambil tes tersebut, tentunya posisi dan kekuatan bahasa Inggris yang dipasarkan melalui industri tes juga semakin kuat. Fakta ini sesuai dengan apa yang Profesor Phillipson katakan dalam penelitiannya, ‘linguistic imperialism’, yaitu bentuk penjajahan aspek-aspek bahasa dari penutur asli terhadap proses pemerolehan bahasa kedua penutur di negara berkembang.

Sebagai sebuah refleksi, perlu adanya penelitian-penelitian baru mengenai tujuan dipasarkannya produk tes ini dalam konteks Indonesia dan dampaknya terhadap proses pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah formal maupun perguruan tinggi. Penulis berpendapat, hingga saat ini, tujuannya masih bersifat politis ketimbang akademis

Akhirnya, tulisan ini, sekali lagi, tidak bermaksud memprovokasi apalagi mengintimidasi siapapun. Penulis hanya ingin mengajak para pembaca khusunya guru-guru dan dosen-dosen serta para peneliti bahasa untuk memikirkan ulang konsep tes bahasa Inggris yang lebih tepat dan terukur untuk yang bukan penutur asli bahasa Inggris, seperti di Indonesia. Sekalipun sudah ada lembaga yang mencoba membuat bentuk tes bahasa Inggris dengan memanfaatkan penutur dari negara berkembang di bagian listening-nya, hal ini masih tidak begitu populer di kalangan mahasiswa, dosen, dan guru. Perlu adanya kompromi lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait mengenai keberlangsungan konsep yang penulis terangkan di atas. Hal yang mudah diucapkan namun sulit direalisasikan, bukan?(M. Faruq Ubaidillah S.Pd)

*Penulis adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Universitas Udayana dan Jolly Roger Education, Denpasar, Bali. Disamping mengajar, penulis aktif di kegiatan budaya dan dialog lintas agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *