Kids Zaman Now (2) – CAPEK DEH !

SURABAYAONLINE.CO – Bismillahhirohmanirrohiim. ANTARA Orang Tua dan Anak Zaman Now tak pernah nyambung. Ortu bicara ngalor (Utara), Anak jawabnya Ngidul (Selatan). Bila kita amati benang merahnya sebenarnya hanya persoalan Beda Zaman saja.

Ortu selalu menasihati putra-putri, bercerita tentang masa lalu bahwa anak Zaman Old tak ada yang berani membantah. Apa jawaban Anak Now ? “Itu dulu Ma, sekarang udah beda !”

Masyaallah, Lahaula walaquwwata Illa billa hil ‘aliyyil aadziim. Mengapa Anak berani mengucapkan demikian ? Cobalah kita melakukan perenungan kembali, yang salah apakah Anak atau Ortu?

Dalam Kamus Psikologi Anak, bila terjadi perilaku anak yang diluar kewajaran, hal itu lantaran akibat Ortu SALAH ASUH. Lhah ! Pasti kita sebagai Ortu tidak mau menerima justifikasi seperti itu. “Mana ada Ortu salah ?” Demikian sebagian besar jawaban beberapa Ortu, mengelak untuk disalahkan.

Jika demikian, SIAPA YANG SALAH ? Anak jelas, tidak mau selalu disalahkan. Sedang Ortu merasa lebih pengalaman dan merasa paling benar. Akhirnya yang menjadi sasaran kesalahan, mulai Lingkungan, Sekolah, Pesantren, dan pihak-pihak lain.
Padahal bila kita renungkan secara jernih, apapun baik tidaknya perilaku anak, kontribusi pendidikan karakter anak tergantung pada Ortu. “As fathers, we should have a desire to be active participants in our children’s lives.” (Sebagai seorang ayah, kita seharusnya memiliki keinginan untuk aktif mengambil bagian dalam hidup anak-anak kita)

Terkadang kita (Ortu) tidak sadar, dihadapan anak menunjukkan perilaku kurang layak untuk dijadikan contoh. Misal, antarortu (kaum ibu-ibu) bila sedang berkumpul, asyik GOSIP. Ada saja bahan pembicaraan. Bahkan saking seriusnya nggosip, ketika ada anak-anak ikut nimbrung langsung di usir : “Sana, sana, sana. Hai anak kecil, jangan ikut-ikut urusan orang tua. Sana, pergi sana,” bentak Ortu.

Kids Jaman (Zaman) Now  ternyata memperhatikan tingkah polah Ortu. Belum lagi hal-hal kecil lainnya, yang Ortu tidak memberi contoh baik kepada putra-putrinya. Malahan hal-hal tersebut seringkali dianggap sepele. Contoh, menyuruh anak sholat. Ortu asyik nonton Sinetron.

Jadi jangan salah bila putra-putri kita, ketika bertemu dengan rekan sebayanya bicara meme soal Ortu. Dulu ada pepatah : “Anak Polah, Bopo Kepradah” (Anak Bertingkah, Ortu Kena Getah). Sekarang menjadi MEME : “Anak Polah, Bopo Gelisah.” (Anak Bertingkah, Ortu Galau)

Coba kalau kita yang ngrumpi, lanjut cerita, kemudian Ortu datang. Kita balas : “Sana, sana, sana, ini urusan anak-anak. Mama pergi sana ! So pasti kita disebut anak yang kurang ajar, tidak punya sopan santun, tak bermoral. Capek deh … ?!!

Coba kalau kita balek, gantian kita yang mengusir Ortu, kemudian menyebut Ortu kurang ajar. Wah habis deh kita. Iya nggak, iya nggak teman-teman ?” Demikian meme Kids Zaman Now, suatu saat ketika ngrumpi bersama teman-teman sebayanya.

Belum lagi, lanjut ngrumpi anak-anak, : “Baru pulang sekolah, langsung suruh cuci tangan dan tidur. Malam selesai belajar, baru saja mau bermain, ehh langsung disuruh cuci tangan dan tidur.
Masak kita disuruh tidur melulu. Trus kalau kita sudah tidur, Ortu mau ngapain, hayo. Ortu mungkin lupa, kita ini anak-anak. Dunia kita dunia anak. Dunia banyak bermain ketimbang tidur. Mungkin Ortu kita kurang piknik kali.” Obrolan mereka, sambil disambut geer oleh rekan lainnya.

“It is easier for a father to have children than for children to have a real father. Fathers, like mothers, are not born. Men grow into fathers and fathering is a very important stage in their development. To a father growing old nothing is dearer than a daughter.

By the time a man realizes that maybe his father was right, he usually has a son who thinks he’s wrong. By the time a man realizes that maybe his father was right, he usually has a son who thinks he’s wrong.”

Lebih mudah untuk seorang ayah memiliki anak daripada anak memiliki ayah yang sesungguhnya. Ayah, seperti ibu, tidak terlahir begitu saja. Pria tumbuh menjadi ayah dan ayah merupakan tahap yang sangat penting dalam perkembangannya.

Bagi seorang ayah bertambah tua, tidak ada yang lebih berharga dari anak perempuannya. Pada saat seorang pria menyadari bahwa mungkin ayahnya benar, dia biasanya memiliki anak laki-laki yang menganggapnya salah.

Yang menjadi pertanyaan, sebenarnya seperti apakah keingingan kita (Ortu) agar anak-anak menjadi sholih dan sholihah ? Masih idealkah perilaku Anak Zaman Old, diaplikasikan pada Anak Zaman Now ?

Siapakah yang paling berperan terhadap perubahan perilaku Anak Zaman Now ? Sudahkan diri kita (Ortu) menyadari sepenuhnya bahwa dunia Anak Zaman Now adalah dunia baru yang dikelilingi Hitech ? Mari kita jadikan bahan perenungan bersama ! (*/kangmas bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *