Injury Time” dan Ilmu Bejo Gus Ipul

 

SURABAYAONLINE.CO — Nasib orang sudah dicatat sebelum kejadian hari ini. Tapi yang mencatat Allah, sehingga manusia tak mampu membacanya.

Tapi nasib juga dapat ditentukan oleh ikhtiar manusia. Meski sebenarnya itu bukan nasib. Tapi karya yang dibangun oleh kesungguhan. Maka orang Jawa punya pendekatan bahasa yang berbeda antara bejo dan apes.

Orang bejo bisa jadi kadang tidak karena “hasil keringatnya” tetapi karena keberkahan. Dan bahasa awan menyebut sesuai amal perbuatan. Sedangkan orang “apes” kadang sudah berjuang habis-habisan tetapi tetap tidak dapat pulung bejo.

Tapi dalam filosofi ilmu. Orang bejo di dunia belum pasti berakibat baik di akhirat. Bisa jadi orang yang apes, selalu kalah dalam kehidupan sebenarnya sedang dimenangkan Allah kelak diakhirat. Apalagi dunia ini hanya “mampir ngombe”.

Maka, dalam konteks politik, dan khususnya Pilkada Jatim, apakah mundurnya Mas Azwar Anas dari pasangan Gus Ipul itu sebuah berkah atau bencana ? Mari kita dalami dengan ilmu jawa soal bejo dan apes.

Kalau melihat sejarah 10 tahun yang lalu, munculnya Saifullah Yusuf menjadi Cawagub Pakde Karwo juga pada detik-detik terakhir. Wacana sejumlah nama tiba-tiba hilang karena kehadiran Gus Ipul.

Kehadiran Gus Ipul bisa jadi juga bejo. Baik untuk Pakde Karwo maupun untuk Gus Ipul sendiri. Minimal indikatornya 10 tahun pasangan Karsa ini mampu membangun Jawa Timur dengan sukses. Dan aman damai tanpa konflik berkepanjangan seperti pasangan di daerah lain.

Kehadiran Gus Ipul di “Injury Time” 10 tahun lalu, ternyata hari ini ditunjukkan dengan mundurnya mas Azwar Anas. Apalagi konon arus bawah PDI-P adem ayem mendukung, karena konteks Merah Hijaunya, terlalu dominan hijau.

Maka, catatan saya ada tiga hal :

Pertama, apakah mundurnya mas Azwar Anas ini menjadi “bejo” bagi Gus Ipul, atau sebaliknya menjadi apes ? Saya melihatnya sebagai bejo. Dengan sejumlah argumen. Minimal dari sisi arus bawah PDI-P.

Malah beberapa pihak mimpi Gus Ipul akan berpasangan dengan Masfuk atau Kang Yoto biar kombinasi NU dan Muhammadiyah kental membangun Jawa Timur. Meskipun itu berat karena faktor PDI-P yang tidak mungkin rela.

Kedua, apakah mundurnya Azwar Anas ini bencana atau berkah bagi Gus Ipul ? Ilmu mengatakan, disetiap musibah ada hikmah kebaikan dan disetiap kegembiraan ada bencana yang sedang menunggu hadir.

Artinya, tergantung dalam 2 atau 3 hari ini bagaimana PDI-P menentukan. Meski saya pribadi menilai, misalnya penggantinya Bu Risma, secara elektoral bisa jadi sejajar dengan Anas, tetapi berat bagi Gus Ipul kalau pasangan ini jadi kelak. Karena typikal bu Risma agak sulit menjadi orang nomor dua. Maka, Kanang Bupati Ngawi, Ipong Bupati Ponorogo atau tokoh lain, bisa jadi berat diputaran pemilihan, tetapi ideal pasangan untuk harmonisasi kepemimpinan 5 tahun kedepan.

Ketiga, Gus Ipul selama 15 tahun yang saya kenal. Memang punya bakat bejo. Bagaimana saat Gus Dur sakit sebelum jadi Presiden, dialah yang setia mendampingi Gus Dur. Baik sebagai keponakan, sopir dan asistennya.

Saat itulah dia menemukan “dunia politik”. Saat itulah ia memposisikan dirinya secara cepat. Sehingga dengan mudah mengumpulkan “Gus Gus” muda yang adalah anak anak konglomerat Indonesia.

Sebagai Ketua Umum Anshor tiba tiba dia dapat “pulung” mampu manjadi magnet bagi generasi ketiga atau keempat pengusaha papan atas Indonesia. Sejak hari itu sekitar 1996-1997 sebagai orang yang pernah bekerja bersama di PT Info Halal Multimedia, saya kehilangan sosok Saifullah muda. Ia menjadi “tua” karena keadaan.

Lagi-lagi ia memiliki ilmu “Injury Time”. Ia anak bejo. Meski bejonya juga karena kerja keras dan kepandaian memainkan peran dan memanfaatkan momentum.

Lantas bagaimana dengan Pilkada Jatim 2018 ini ? Kita tungu. ***

Penulis Pembaca Gejala Sosial dan CEO MEP Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *