Imajiner Interaktif (4) – HISBUTH TAHRIR

SURABAYAONLINE.CO – “Gus, kulo pamit rumiyin. Gus, kulo nggih pamit. Gus, kulo nggih sekalian (Gus saya pamit ya). Ehhh, Cak Bahar to iki mau. Dur aku tak balek pisan yo ? Cak Sampeyan mampir yo  ?” KH Faqih Langitan, KH Dhamim Jazuli (Gus Miek),  Mbah KH Liem Klaten, Mbah KH Dalhar Watucongol Magelang, Mbah KH Sholeh Darat Semarang, dan beberapa rombongan tamu lainnya.

“Ngapunten Gus, ingkang panjenengan maksud menopo (Maaf apa yang dimaksud) Hisbutz Tahrir Indonesia (HTI) ? Front Pembela Islam (FPI) ? Kelompok Syiah ? Kelompok Wahabi. Atau Kelompok-kelompok Islam garis keras lainnya ?” Tanya penulis untuk ber-tabayyun (klarifikasi), berkaitan situasi tersebut.

“He…he…he…!!??? Sampeyan Wartawan tahu sendiri. Nek menurut analisa sampeyan piye Cak ? Baik sisi Jurnalis, Hukum dan Keagamaan ? Sampeyan selain Jurnalis, Ahli Hukum, sekarang kan istiqomah di jalur Keagamaan (Majelis Dzikir, red) ?” Gus Dur balik lempar bola. Pertanyaan Gus Dur ini, bisa jadi ngetest.

“He…he… Dalem (Saya) masih belum apa-apa Gus, kapasitas ilmu dibanding dengan panjenengan. Maaf Gus, kalau dari kacamata Jurnalistik, kami diajari tidak mempunyai kapasitas untuk menilai benar dan salah. Tugas Jurnalis kan hanya menyajikan FAKTA bukan OPINI. Tulisan harus Cover Both Side (Berimbang). Tidak memihak kepada siapun, dan pihak manapun. Netral, dan tidak punya ekpektasi apapun. Soal menentukan mana yang benar dan mana yang tidak, biarlah pembaca yang menilai.” Tukas Penulis.

Kalau sisi Keagamaan, lanjut penulis, kami kira selama orang itu masih berpegang teguh pada Kalimatullah Haq : Laa Ilaha Ilallah, Muhammaddur Rasulullah SAW. “Mbokbilih nggih taksih sami-sami sedherek (Bisa jadi masih sama-sama) Islam. Manakala terjadi perbedaan pendapat dalam bersyari’at, itulah indahnya Islam sebagai Agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin.”

Yang penting tidak tukaran, saling menjatuhkan, apalagi saling sesama muslim mengafirkan. Hendaknya kita saling ingat mengingatkan dan nasihat menasihati. Manusia itu oleh ALLAH SWT distempel : “Al Insanu Mahalul Khoto Wa Nisyian (Kita hanyalah Manusia yang tak luput dari Khilaf dan Dosa. Antar sesama NU saja masih tukaran, apalagi yang lainnya.”

“Menurut kami, konsep Islam, khususnya warga NU, yang perlu dibangun untuk menuju Kaffah adalah : Ukhuwah Nahdliyin, Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Insaniyan, dan Ukhuwah Wathoniyah (Persaudaraan sesama Nahdliyin, Sesama Islam, Sesama Manusia, dan Sesama Warga Negara). Dan Ukhuwah Bathoniyah (Memperkuat TAUHID).”

Insyallah negeri kita akan menjadi Baldatun Toyyibun Warofun Ghofuur atau Gemah Ripah Loh Jinawi. Aman, Tenteram dan Bahagia. Amiiin. Dunia ini ada tiga model. Ada Negeri yang Aman, tapi Tidak Iman (Negara Maju). Ada Negeri Iman Tapi Tidak Aman (Negara Teluk atau Timur Tengah). Dan ada Negeri Yang Aman dan Juga Iman. Itulah Indonesia !” Mbokmenawi mekaten nggih (Mungkin begitu) Gus, demikian penjelasan kami sok bergaya ‘Ahli Agama’.

Gus Dur, mung manthuk-manthuk (Mengangguk-angguk). Entah apa hanya ingin melegakan penulis saja, atau menertawakan. Yang tahu hanya Gus Dur dan ALLAH SWT.  “Ya…ya…ya… Kalau sisi Hukum Legal Formal ?” Lanjut Gus Dur.

Dalam kajian Hukum Formal, soal HTI yang dibekukan pemerintah RI, misalnya, lanjut penulis, ada pelanggaran Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas). Pencabutan dilakukan sebagai tindaklanjut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 yang mengubah UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Ideologi Ormas HTI tidak sesuai dengan apa yang tertera dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Dalam AD/ART yang diajukan, yang mencantumkan ideologi mereka adalah Pancasila. “Walaupun dalam AD/ART mencantumkan Pancasila sebagai ideologi untuk Badan Hukum Perkumpulannya, namun fakta di lapangan, kegiatan dan aktivitas banyak yang bertentangan dengan Pancasila dan jiwa NKRI. Ini jelas melanggar Undang Undang,” demikian sudut pandang pribadi penulis.

UU Nomor 17 Tahun 2013, Pasal 2 disebutkan, asas ormas tidaklah boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Sementara dalam Pasal 3 tertulis, ormas dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita ormas yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Pasal 21 UU Nomor 17 tahun 2013 menyebutkan, organisasi kemasyarakatan adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila.

Sedangkan berdasarkan pasal 59 dan 69 UU No. 17 Tahun 2013, organisasi kemasyarakatan dilarang melakukan berbagai kegiatan yang antara lain menyebarkan rasa permusuhan seperti SARA, melakukan kegiatan separatis,mengumpulkan dana untuk parpol dan menyebarkan paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Atas dasar itu, ormas berbadan hukum dapat dicabut status badan hukum dan status terdaftarnya. Secara lengkap Pasal 3 UUD 1945, menyebutkan: (1) Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar; dan (2) Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.

Apa perbedaaan mendasar ideologi Hizbut Tahrir Indonesia dan NKRI ? UUD 1945 dengan jelas menyebutkan bentuk dan kedaulatan negara Indonesia. Dalam Pasal 1 disebutkan: (1) Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik; dan (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar; serta (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. Berbeda dengan pemerintahan khilafah yang kekuasaannya ada di tangan umat dan dipimpin oleh khalifah, Pasal 3 UUD 1945 menjelaskan kekuasaan pemerintahan NKRI dipegang oleh presiden.

Apa yang dilakukan HTI dengan mengusung negara untuk dipimpin khilafah sendiri telah menyalahi UUD 1945 dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dianggap tidak melaksanakan peran positif organisasi massa dalam kerangka untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan.

Khilafah sendiri digagas oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama alumni Al-Azhar Mesir dan pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina. Kegiatan Hizbut Tahrir secara keseluruhan adalah kegiatan yang bersifat politik dengan cara mengemukakan konsep-konsep Islam berserta hukum-hukumnya untuk diwujudkan dalam pemerintahan.

Gerakan ini tak hanya ada di Palestina, Hizbut Tahrir berkembang ke seluruh negara Arab di Timur Tengah, termasuk di Afrika seperti Mesir, Libya, Sudan dan Aljazair. Juga ke Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya hingga ke Amerika Serikat, Rusia, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Australia, Maroko, Malaysia dan Indonesia.

“Hampir semua negara membekukan kegiatan Hizbut Tahrir, lantaran cenderung mengarah untuk menggulingkan kekuasaan,” jelas penulis. (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *