Imajiner Interaktif (5) – PANCASILA DAN ISLAM

SURABAYAONLINE.CO – Subhanallah ! Meskipun Gus Dur adalah seorang Tokoh Kaliber Internasional, beliau sangat menghargai pendapat yang berbeda. Apa yang penulis sampaikan, disimak serius tanpa ada komentar papapun dari Sang Guru Bangsa.

Gus Dur menunjukkan kelasnya, sebagai sosok yang memandang manusia sebagai makhluk ciptaan ALLAH SWT. “Piye nurut sampeyan Cak ? Apakah Ideologi Pancasila sudah pas diterapkan di Indonesia ? Atau mungkin punya pandangan lain ? Dulu (Tahun 1987-an), kalau tidak salah, sampeyan kan keliling ke beberapa negara riset tentang ideologi berbagai bangsa ?” Ujar Gus Dur.

“Waduh, buka Rahasia Gus. Injih Gus, waktu itu saya diperintah Pak Harto untuk melakukan riset mulai Negara Eropa, Timur Tengah, Rusia dan Amerika Serikat. Mungkin yang perlu dijlentrehkan tentang terminologi IDEOLOGI dan NEGARA. Meski beragam pendapat ahli tata negara, namun secara umum, pengertian Ideologi adalah suatu kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis dengan arah dan tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.”

Cita-cita yang dimaksud, lanjut penulis,  adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau paham. Menurut pendapat C.C. Rodee yang menyatakan ideologi adalah sekumpulan yang secara logis berkaitan dan mengidentifikasi nilai-nilai yang memberi keabsahan bagi institusi dan pelakunya.

Sedang Prof DR Teguh Prasetyo SH M.Hum, Guru Besar penulis Filsafat Pancasila (Anggota DKPP), menyebut ideologi adalah sebagai keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati oleh suatu kelompok, suatu kelas sosial, suatu bangsa atau suatu ras tertentu.

Secara etimologis istilah ’NEGARA’ merupakan terjemahan dari kata-kata asing, yaitu State (Bahasa Inggris), Staat (Bahasa Jerman dan Belanda), dan Etat (bahasa Prancis). Kata State, Staat, dan Etat itu diambil oleh orang-orang Eropa dari bahasa Latin pada abad ke-15, yaitu dari kata Statum atau Status yang berarti keadaan yang tegak dan tetap, atau sesuatu yang bersifat tetap dan tegak. Istilah Negara ini muncul bersamaan dengan munculnya istilah Lo Stato yang dipopulerkan Niccolo Machiavelli lewat bukunya II Principe. Saat itu, Lo Stato didefinisikan sebagai suatu sistem tugas dan fungsi publik dan alat perlengkapan yang teratur dalam wilayah tertentu.

Di Indonesia sendiri, istilah ‘Negara’  berasal dari bahasa Sansekerta Nagara atau Nagari, yang berarti kota. Sekitar abad ke-5, istilah Nagara ini sudah dikenal dan dipakai di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh adanya penamaan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, selain istilah Nagara  juga dipakai sebagai penamaan Kitab Majapahit Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca.

Jadi, istilah NEGARA sudah dipakai terlebih dahulu di Indonesia jauh sebelum bangsa Eropa. “Intinya, Negara adalah suatu bentuk pergaulan manusia atau suatu komunitas. Negara itu memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu daerah tertentu, rakyat tertentu, dan memiliki pemerintah.”

Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW, sebenarnya telah memberi acuan sebuah KONSEP NEGARA. Beliau sangat faham bagaimana memisahkan antara persoalan NEGARA dan AGAMA. Meski di Madinah masa itu Kaum Muslim lebih dominan, namun Nabi Muhammad SAW tidak kemudian membangun Konsep Negara Islam, Negara Arab atau Negara Agama.

“Konsep beliau adalah Tsaqofah (Kemajuan bidang intelektual), Hadloroh (Kemajuan bidang kehidupan). Titik berat di kedua bidang ini disebut Mutamaddin atau Madinah. Mboten mekaten njih Gus ?” Tutur penulis, yang kemudian diikuti Gus Dur manggut-manggut.

Pemilihan bentuk sebuah Negara ini tentu disesuaikan dengan berbagai faktor yang ada di masyarakat, antara lain Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan (Ipoleksosbud Hankam).  Dalam Al-Qur’an Surah al-Anbiya’ ALLAH SWT menegaskan : “Wa Ma Arsalnaka Illa rahmatan Li al-Alamin. Tiadalah Ku-utus Engkau Ya Muhammad SAW, kecuali sebagai pembawa persaudaraan bagi umat manusia.”

Islam, menurut penulis, memberikan ruang terbuka dalam pandangan Teori Kepemimpinan Negara. Misalnya saja, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra dipilih oleh Dewan Elit yang berbaiat kepadanya. Kemudian Sayyidina Umar bin Khattab ra, dipilih dengan penunjukan oleh Sayyidina Abu Bakar ra, sebelum beliau wafat. Sayiidina Ustman bin Affan ra, dipilih oleh Dewan Elit (Tim Formatur), yang ditunjuk oleh Umar. Dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra, dipilih oleh Dewan Elit Muslim.

Bila ada yang beralasan, bahwa La islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah, adalah sebuah sistem dalam bernegara, sah-sah saja. Akan tetapi sistem itu, menurut pandangan penulis, tidaklah spesifik pada Sistem Islami. Dengan kata lain, sistem tersebut dapat digunakan untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam sebuah masyarakat.

Islam itu ruh, esensi, dan nilai universal. Negara dengan berbagai sistem politik, sejarah, dan struktur kekuasaannya tidak menjadi penting, sebab yang terpenting adalah esensi nilai Islam yang dikandungnya.

“Kulo kinten (saya kiira) Islam tidak mengingkari eksistensi kebudayaan, kebangsaan, maupun kesukuan umatnya. Ini digarisbawahi oleh Al Qur’an bahwa ALLAH SWT menciptakan manusia lelaki dan perempuan, dan dijadikan terdiri suku-suku, dan bangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Paradigmanya adalah, bahwa perbedaan Suku, Ras, Agama dan Antargolongan bukanlah untuk dijadikan alat permusuhan, namun sebagai alat persatuan. Udkhulu fi al-silmi Kaffah,” tukas penulis.

Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 256, menegaskan : “Tidak ada paksaan dalam beragama, karena telah jelas mana yang lurus dan mana yang palsu.” Kemudian ALLAH SWT dalam Surah Al Kafirun Ayat 6 : “Lakum Dinukum Wa Liyadin. Bagi kalian agama kalian dan bagi-Ku agama-Ku.”

UUD Amerika Serikat saja yang sudah berumur 200 tahun, masih menimbulkan perdebatan berkepanjangan antara Presiden ke III Thomas Jefferson dan Menteri Keuangan Alexander Hamilton sampai sekarang. Asas negara mayoritas muslim di dunia menggunakan asas yang berbeda-beda.

Di Indonesia berasas politik tunggal dalam bentuk Pancasila. Di Iran, secara definitif didirikan Republik Islam. Di Aljazair, sebuah negara ‘Arab Sosialis’ menyatakan secara formal dalam UUD nya bahwa agama resmi negara adalah Isam. Sedangkan di Arab Saudi dinyatakan Al Qur’an sebagai konstitusi, walaupun negaranya sendiri bukan negara Islam formal.

“Jadi Konsep PANCASILA dan NKRI sudah sangat tepat diterapkan dan diaplikasikan Negara kita. Substansi Pancasila sudah ada sejak Tujuh Abad silam. Pada Era Zaman Pemerinthan Majapahit, Empu Tantular pernah mengeluarkan semboyan, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu. Ibarat makanan, Pancasila sudah dikunyah dan ditelan sekian lama, kok baru sekarang dibahas halal-haramnya ?”

Demikian penjelasan penulis kepada Gus Dur, dan lamat-lamat terdengar Suara Speaker dari Masjid Fatkhurrohim, depan rumah, panggilan Gus Dur lewat Syiiran Tanpa Waton (Tak Ada Judul). Sekaligus penulis berpamitan, karena waktu sudah menjelang Sholat Shubuh.

“Sampun njih (Sudah ya) Gus, dalem pamitan. Insyallah lain waktu bisa sowan (datang) kembali,” pamit penulis, yang kemudian diantar sampai ‘Gerbang Lorong Waktu’. Sambil mengangkat kedua tangan (tanda pamitan), penulis melihat wajah Gus Dur sumringah.

“Yaa Rasulullah Saalamun ‘Alaik. Yaa Rofi’asy-syaani Wad-daaroojid. Athfatan Yaa Jiirotal’aalami  Yajiid Rotan ‘Alaami. Ya Uhailal Judi Wal Karomi. Ngawiti Ingsun, klawan syiiran …..”

“Ash-shalaatu was-salâmu ‘alaayk. Yaa imaamal mujaahidîn. Yaa Rasûlallaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk. Yaa naashiral hudaa. Yaa khayra khalqillaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk. Yaa naashiral haqqi Yaa Rasuulallaah. Ash-shalaatu was-salaamu ‘aalaayk. Yaa Man asraa bikal muhayminu, laylan nilta maa nilta wal-anaamu niyaamu. Wa taqaddamta lish-shalaati fashallaa kuulu man fis-samaai wa antal imaamu. Wa ilal muntahaa rufi’ta karîman. Wa ilal muntahaa rufi’ta karîman wa sai’tan nidaa ‘alaykas salaam. Yaa kariimal akhlaaq yaa Rasûlallaah. Shallallaahu ‘alayka wa ‘alaa aalika wa ashhaabika ajma’iin.”(*/kangmas_bahar/Tamat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *