‘Kasus Kejahatan Seksual Anak’ Ditemukan di 10 Lokasi Wisata Indonesia

SURABAYAONLINE.CO-Penelitian terbaru di 10 lokasi tujuan wisata di Indonesia -antara lain Bali, Bukit Tinggi, Lombok hingga Pulau Seribu- mengungkapkan anak-anak masih menjadi korban praktik kekerasan dan eksploitasi seksual.

Persoalan serupa sangat mungkin ditemui di berbagai lokasi kunjungan wisata lainnya di Indonesia, seperti dijelaskan pejabat pemerintah terkait.

Kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak ini masih terjadi -seperti disimpulkan oleh satu penelitian bersama pemerintah dengan lembaga pegiat- juga disebabkan karena orang tua, masyarakat, dan otoritas setempat lebih mengejar keuntungan ekonomi ketimbang memahami wisata yang ramah anak.

“Karena ada peluang dan kesempatan, tempat mencari keuntungan ekonomi di destinasi wisata ini mudah dilakukan dengan cara cepat, jadi anak-anak tergiur, misalnya jadi pemandu wisata,” kata Rini Handayani, Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kepada BBC Indonesia, Senin (01/01).

Menurutnya, kenyataan seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku pedofil yang menyamar menjadi wisatawan.

“Pelaku wisata ada yang datang benar-benar seperti wisatawan, tapi ada yang juga masuk ke Indonesia sudah berpikir akan mencari mangsa anak-anak di destinasi wisata,” tambah Rini.

Penelitian dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama sebuah lembaga pegiat eksploitasi seksual komersial anak, ECPAT Indonesia, di 10 wilayah kunjungan wisata.

Daerah tersebut adalah Karang Asem (Bali), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Toba Samosir (Sumatra Utara), Bukit Tinggi (Sumatra Barat), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Kefamenanu (Nusa Tenggara Timur), Jakarta Barat serta Pulau Seribu (DKI Jakarta).

emuan penelitian mengungkapkan tidak semua wilayah tersebut memiliki peraturan daerah tentang perlindungan anak dan sebagian warga di beberapa wilayah itu disebutkan bahkan tidak memahami kejahatan seksual.

“Ada sebagian masyarakat (di salah-satu lokasi penelitian) menganggap ‘tidak ada masalah anak-anak kami diperlakukan seperti itu, karena tidak ada yang hilang pada dirinya dan tidak akan hamil dll’, padahal anak yang terkena kasus pedofilia ini dampak traumanya luar biasa,” jelas Rini Handayani.

Ditambahkannya apabila pariwisata dikelola dengan baik dan anak-anak mendapat pola pengasuhan yang tepat, maka kasus-kasus kekerasan seksual dan eksploitasi terhadap anak dapat dicegah lebih dini.

Kesimpulan penelitian ini kemudian merekomendasikan agar pemerintah lebih serius melakukan perlindungan terhadap anak dari ancaman eksploitasi seks, khususnya di kawasan tujuan wisata.

Saran tersebut mencakup edukasi bagi usaha wisata, keluarga hingga anak-anak itu sendiri, serta pengawasan yang ketat bagi wisatawan mancanegara.

Dan Rini Handayani menegaskan sebagian upaya itu sudah dilakukan dan akan terus ditindaklanjuti.(bbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *