Imajiner Interaktif Gus Dur(3) DIKIT-DIKIT KAPIR !

SURABAYAONLINE.CO – “NUWUN sewu Gus, setelah ditinggal panjenengan situasinya mulai kacau. Ada yang methentheng (ngotot) NKRI Harga Mati. Ada pula yang methentheng mengarah untuk merubah pondasi NKRI. Pancasila disebut Thoghut. Ada yang kemana-mana bawa-bawa dalil. Dikit-dikit KAPIR. Dikit-dikit HARAM. Pripun nggih (Bagaimana) Gus ?” ucap penulis menarik nafas dalam.

“Hee…hee…he… Sampeyan kok yo melu (ikut) tegang. Gitu aja kok repot. Sekarang sudah terbukti kan, kenapa saya dulu dilengserkan dari kursi Presiden RI. Coba kalau manut (nurut) saya, bagaimana cara mengatur negara dengan baik. Insyallah, tidak sering gaduh.  Ketika jadi Presiden, saya dianggap nyleneh, membingungkan, dan bla…bla…bla… Lho justru yang bingung itu, para pecundang politik. Berarti bukan saya yang salah to ? Mangkane Cak, Sing Waras Ngalah Wae (Yang waras mengalah) ?” He….he…

“Mereka (Para Petualang Politik) tidak sabar menahan ambisinya. Lihat saja, orang-orang yang jatuhkan saya nanti nasibnya bagaimana. Mestinya saya selesai dulu lima tahun. Sekarang terbukti kan, sampeyan bisa lihat sendiri.”

Negara berpotensi terjadi konflik. Bertahun-tahun saya berjuang sekuat tenaga agar negara kita tetap bersatu. “Bagi NU, PANCASILA dan NKRI sudah final, Titik ! Itu yang merumuskan bukan orang sembarangan. Perjuangannya berdarah-darah. Itu para ULAMA, tokoh-tokoh Islam. Bukan para penyamun,” ujar Gus Dur, dengan nada sedikit tinggi.

“Jelasnya gimana sih Gus. Saya kurang mudheng (gagal faham). Apa kaitan pelengseran dengan potensi konflik ?” Kejar penulis penasaran.

“Begini, agenda kerja Pertama saya, menyatukan keberagaman masyarakat. Kemudian mematahkan argumen kelompok-kelompok yang merasa sok pintar, sok suci, dan ngalor ngidul jual agama. Kalau dulu, zaman Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Tholib karomallahu waj’ha, dikenal dengan kelompok Khawarij.”

Kemana-mana jualan ayat-ayat. Dakwahnya memang mempesona, seolah ingin mengidupkan zaman Nabi SAW. Tapi senang mecah umat. Cuma ujungnya, semua orang dikafirkan. Mereka itu hanya berkedok untuk kepentingan politik. “Itulah Para Penyamun tadi. Teriak-teriak, La Hukma Illa Lillah !”

Padahal, lanjut Gus Dur : “Dhawuhe Sayyida Ali ra, memang benar kalimatnya HAQ. Namun digunakan pengelabuhan untuk sesuatu yang bathil.  Dengan dibungkus istilah Negara Zaman NOW. PANCASILA tak sesuai Syari’at Islam. Ya, itu pandainya Neo Khawarij. Anak muda yang pengetahuan Agamanya lemah (terutama di kampus-kampus), pasti mudah dipengaruhi.”

“Mereka ini kerjaan-nya dakwah kesana kemari  dengan nerangke hukum sakpenak udele (semaunya sendiri). Ingat, Hukum Fiqih itu tidak mutlak. Masing-masing Madzab cara pandangnya berbada, dan tidak saling menyalahkan. Tapi saling memperkuat persaudaraan  Ummat. Boleh berpendapat, tapi jangan mudah nyalahke orang. Ngafirke  yang tak sepaham. Jangan sok merasa suci. Kok ngalah-ngalahi Gusti ALLAH SWT,” tukas Gus Dur kesal.

Penulis teringat Syiir Gus Dur yang berjudul Syiir Tanpa Wathon (Lagu Tanpa Judul). Tekasnye berbunyi : “Akeh Wong Hafal, Qur;an Hadits-se. Seneng Ngafirke, Marang Liyane. Kafire Dhewe Gak Digathekke. Mulo Atine Petheng Lan Nistho. (Banyak yang Hafal Al-Qur’an dan Hadits. Senang Mengkafirkan Orang. Kafirnya Sendiri Tak Pernah Diperhatikan. Karena Hatinya Masih Kotor.”

“Mengutip dhawuh Kanjeng Nabi SAW : Man Faroqol Jama’ah Summa Mata, Maitatan Jahiliyah. Bukan Mati Sahid. Tapi Mati Sangit ! Menopo mekaten Gus ?” Tanya penulis menegaskan.

“Ya, ya. Betul. PANCASILA disebut Thoghut. Itu jelas BATHIL ! Berarti Ayah saya, Kakek Saya dan Ulama Pejuang lainnya KAFIR ? Panglima Jenderal Sudirman KAFIR ?  Bung Karno KAFIR ? Bung Hatta KAFIR ? Bung Tomo KAFIR ? Karena merumuskan PANCASILA ? ITU NGAWUR ! Kalau dibiarkan makin ngawur. Negara harus bertindak tegas. Bubarkan !” Tukas Gus Dur sambil meremas-remas kedua tangannya, gregetan.

Indonesia itu, ujar Gus Dur : “Dar as-shulkhi. Negara Damai. Jangan coba-coba memecah belah bangsa. Orang-orang NU yang di kampung-kampung selama ini diam, bukan berarti mereka takut. Warga Nahdliyin masih sabar, karena manut sama komando Kiainya masing-masing. Para Kiai, terus mencermati dan membiarkan Negara yang mengambil langkah hukum dulu. Ini saya dapat informasi dan tanya-tanya kepada beberapa Kiai yang ada di daerah (Trenggalek, Pacitan, Kediri, Jombang) sampeyan, ” katanya.

“Kalau sudah dibubarkan, apakah gerakan mereka kemudian mati, Gus ?” Sela penulis.

“Tidak. Mereka tetap hidup. Sayidina Ali ra, ujar Gus Dur, ketika mendapat laporan Kelompok Khawarij sudah diberantas, mengatakan TIDAK !. Namun setiap kali muncul seorang pemimpin di antara mereka, ia akan terpotong. Sehingga mereka akhirnya hanya tinggal sebagai penyamun-penyamun.”

Di mana-mana, terang Gus Dur, gerakan mereka sudah dilarang. Baik di Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Tinggal Negara Inggris yang dijadikan pusat pergerakan. Termasuk Indonesia, yang masih lunak. Kalau di Arab, kepala mereka sudah ditembak. Kata Sayyidina Ali ra, “Demi ALLAH SWT, mereka tetap hidup. Mereka ada dalam sulbi-sulbi kaum pria dan rahim- rahim kaum wanita.” (*/kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *