Dongkrak Ranking Inovasi Global

SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Meskipun pendidikan hanya salah satu unsur dalam menopang level Global Innovation Indez (GII), perannya berdampak banyak (domino effect). Itu sebabnya, human capital merupakan kunci utama dalam inovasi. Baru saja melihat Indeks Inovasi Global, dan tahu Indonesia ranking ke 7 di bawah Singapore, Malayisa, Thailand, Brunaidarussalam, dan Filipina.
Jika ditinjau secara global, maka Singapore urutan ke 7 dunia, Malaysia ke-37, Viet Nam ke-47 dunia, Thailand ke-51, Brunaidarussalam ke-71, Filipina ke 73, Indonesia ke 87, dan kemudian Kamboja ke-101.
Pendidikan tinggi (PT) sebagai salah satu penopang tingkat kemajuan inovasi dalam Global Innovation Index (GII). Ada beberapa faktor dalam penentuan skor GII, misalnya infratsruktur dan Sumber Daya manusia (SDM), dan bahkan kondisi sosial politik (social and political condition). Artikel ini mengulas fungsi dosen dalam kementrian riset d[teknologi dan pendidikan tinggi (Ristekdikti).
Pendidikan masuk dalam faktor SDM. Mulai pendidikan dasar dan menengah sampai peguruan tinggi atau pendidikan tinggi (Higher Education). Khusus di level PT ini, pendidikan dinilai juga jumlah pendaftar yang masuk di PT. Di samping itu, peserta didik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) termasuk matematika di dalamnya.
Jika dilihat kriteria pengukurannya, ada beberapa pilar data evaluasi tingkat GII ini. Ada lima pilar input, yaitu unsur-unsur ekonomi nasional sebagai pendorong inovasi. Adapun elemen tersebut mencakup (1) Institusi, (2) Modal Manusia dan penelitian, (3) Infrastruktur, (4) Kecanggihan pasar, dan (5) Kecanggihan bisnis.
Di samping input, kriterianya juga dilihat dari sisi output. Khusus ooutput ini dijadikan indikator kongkret inovasi: (6) Output pengetahuan dan teknologi dan (7) hasil kreatif. Di sisi output inilah, bangsa mana pun memerlukan pencermatan agar tidak terjebak indikator fisik formalitas belaka. Dampaknya harus nyata bukan sekadar dokumen dan kegiatan.
Indek inovasi ini bagi peguruan tinggi (PT) ada juga terkait dengan penelitian dan pengembangan (litbang). Unsurnya juga termasuk pengeluaran biaya (expenditure) dan outputnya. Dua sisi masukan dan luaran itu dijadikan dasar skor untuk level indeks inovasi setiap negara.
Khusus PT sebagai tonggak dalam inovasi, pemerintah butuh perubahan sikap dengan strategi dua kutub. Satu strategi topn down dan kedua strategi bottom up. Dari sisi pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah sudah bagus selama ini. Tindakannya dibuktikan dengan berbagai strategi dari atas, misalnya kementiran pendidikan nasional yang dulu hanya satu dan sekarang menjadi dua.
Dua kementrian ini diharapkan mampu mendonkrak level yang lebih tinggi agar GII nya bisa semakin naik. Namun, dicermati pula misalnya dosen di PTS maupun PTN yang masih memiliki tugas banyak. Tridarma: pendidikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ada pula di antara mereka memangku jabatan administratif. Untuk mendongkrak ranking indek di dalam GII, pemerintah perlu mengkaji secara baik bottom up maupun top down.
Faktanya saat ini, meski sudah top down strategy nya baik, di tataran 8 negara ASEAN di GII itu saja, Indonesia ranking ke 7 di bawah Filipina. Itu sebabnya, harus ada perhatian khusus karena sumber daya manusia (SDM) itu kunci utama. Kemudian, jumlah PTN dan PTS pun sangat besar.
Outputnya, secara kuantitas sudah sangat baik. Cotoh saja, marak para dosen meneliti dan menerbitkan artikel di jurnal ilmiah. Namun, ini baru taraf fisik kuantitas, misalnya ditingkatkannya dengaan ukuran sitasi atau kutipan dan indek jurnalnya. Jumlah sitasi atau kutipan dijadikan tolak ukurnya.
Terus terang, bidang ini kita sudah spektakuler. Indonesia paling cepat dalam tiga tahun terakhir ini. Tidak heran kalau banyak teman di luar negeri, merasa heran ketika saya paparkan baru-baru ini di Malaysia. Namun, jika dilihat dalam GII, kita masih di bawah jauh.
Langkah selanjutnya, akan lebih tepat andaikata indikator output di dalam GII itu dikaitkan dengan dampak sosial ekonomi yang nyata dalam kehidupan negeri ini. Begitu juga, peningkatan anggaran bidang pendidikan memerlukan perhatian sesius.
Secara kuantitas, tren perkembangan penelitian dan penerbitan artikel nasional dan internasional sangat pesat dan mencengangkan. Tetapi, perlu langkah cepat berpacu pada kualitas. Efek domino positif mutu pendidikan sebagai output harus berdampak nyata terhadap kehidupan, ekonomi, sosial, dan politik. Wujudkan dan ditata rapi sesuai dengan kriteria GII agar dapat mendongkrak ranking Indonesia di GII.
Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya