Isyarat Beda Jokowi ke Khofifah dan ke Airlangga Hartanto

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim

SURABAYAONLINE.CO —- Ada yang menarik dalam adegan politik hari-hari ini. Kalau pekan lalu Jokowi langsung menerima Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian yang “meminta restu” mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar dalam Munaslub bulan depan, tetapi mulai kemarin, bahkan tadi pagi, ada kabar Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa berkirim surat perihal mencalonkan diri menjadi Cagub Jatim.

Hal ini juga diakui langsung, Presiden Joko Widodo sudah menerima dan membaca surat yang dikirimkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Surat tersebut terkait permintaan izin dari Khofifah untuk maju sebagai bakal calon gubernur dalam Pilkada Jawa Timur 2018.

“Ya suratnya kemarin sudah sampai ke meja saya. Sudah saya baca,” ujar Jokowi di Lapangan Monas, Jakarta, Rabu (29/11/2017) kepada media.

Akan tetapi, Jokowi belum bisa langsung memutuskan apakah ia akan memberikan izin bagi Khofifah untuk maju bertarung di Pilkada Jatim atau tidak.

Coba bandingkan dengan langkah Airlangga Hartarto, minggu lalu. Tanpa surat, langsung menghadap dan clear. Jokowi memberi isyarat mendukung Airlangga. Public tanpa statemen Jokowi bisa menyimpulkan sendiri.

Apa yang menarik dari bahasa tubuh, bahasa politik dan sikap Jokowi, atas perlakuan beda antara Airlangga dan Khofifah ? Ada beberapa kemungkinan terjadi.

Pertama, Jokowi dan Khofifah adalah orang dekat. Baik karena anak buahnya di kabinet, Khofifah dikenal tim sukses Jokowi. Kedekatan ini seharusnya tidak lagi ada batas. Langkah formal dan normatif harusnya terlewati.

Pertanyaannya, kenapa Khofifah harus memakai surat sabagai prolog pertemuan ? Bandingkan dengan Airlangga Hartanto sama sama menteri, langsung menghadap dan clear dibaca publik. Bisa jadi faktor Luhut sebagai “pengantar” menjadi penentu, sementara Khofifah mungkin “pengantarnya” tidak ada dan baca bagaimana sikap Yusuf Kalla pada sisi yang lain. Tentu ini juga menjadi faktor.

Kedua, bisa jadi posisi Jokowi hati-hati karena menyangkut strategi politik dan menjaga hati bu Mega. Karena keputusan Jokowi mengizinkan Khofifah maju jadi Cagub Jatim (Apalagi tanpa harus mundur dari Mensos) adalah sikap krusial yang punya banyak dampak. Karena berarti akan melawan jago PDI-P.

Maka, Jokowi membutuhkan legitimasi formal lewat surat. Bukan hanya lisan. Apapun keputusan Jokowi punya dasar, sehingga kelak ada dasar yang dipakai pedoman. Atau sebaliknya, Khofifah diberi sinyal oleh Jokowi bahwa keputusan atas Khofifah beda jauh dengan Airlangga, meski Khofifah juga didukung Golkar pada Pilgub Jatim.

Ketiga, kita masih menunggu keputusan Jokowi malam ini atau besok. Apakah jawabannya juga normatif, mempersilahkan Khofifah melangkah sebagai hak anak bangsa, atau diembel embeli harus mundur dari kabinet atau tidak. Dua keputusan berbeda yang akan memberi dampak berbeda.

Apalagi sejumlah kalangan menyebut, Khofifah disiapkan Jokowi menguasai Jatim agar Pilpres 2019 langkahnya lebih ringan. Sementara de facto kemenangan Jago PDI-P, yakni Gus Ipul – Azwar Anas bisa jadi juga disiapkan untuk Jokowi, karena jelas-jelas tim ini tidak akan condong ke Capres lain misalnya Prabowo.

Tapi semua adalah asumsi. Kita lihat betapa rentannya politik. Betapa menit dan detik bisa sangat berarti.

Penulis Master Traininer MEP dan Analis Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *