Akankah Fenomen “Donald Trump” Hadir di Jatim ?

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada 2018

SURABAYAONLINE.CO – Begitu Khofifah – Emil Dardak resmi melaju pada Pilkada Jatim 2018 bersaing dengan pasangan Gus Ipul – Azwar Anas. Maka timbul pertanyaan baru, akankah muncul poros Jakarta yang disebut sebut sebelumnya, yang digagas Gerindra-PKS dan PAN.

Sampai hari ini belum ada kabar. Tapi cobalah keliling Jawa Timur, kita akan menemukan realitas, ada sosok cagub yang kepung Jatim dengan Baliho. Dialah La Nyalla Matalitti, pengusaha dan tokoh pemuda Pancasila Jawa Timur.

Bahkan, saya mendapat informasi dari banyak Kyai dan tokoh daerah, La Nyala tidak hanya hadir dalam baliho dan spanduk. Tetapi 6 bulan ini, La Nyalla hadir langsung ke pondok pondok, ke kelompok masyarakat untuk memperkenalkan diri.

Dalam banyak baliho, La Nyalla malah tampil bersama Ketua Umum Gerinda Prabowo. Ini kemudian melahirkan banyak pertanyaan yang langsung ia jawab.

“Tidak mungkin saya berani pasang foto pak Prabowo tanpa restu beliau,” tegasnya kepada media. Ini memberi sinyal politik atas lampu hijau yang ia peroleh dari Gerindra-1.

Maka wajar kalau Gerindra tidak pernah tertarik masuk dalam gerbong Gus Ipul – Azwar Anas atau Khofifah – Emil Dardak. Bahkan menggandeng PAN dan PKS berencana membuat poros Jakarta menirukan keberhasilan angkat Anies – Uno.

Tapi betulkah poros baru ini punya “nyawa” sama dengan gegap gempita Anis Uno lawan Ahok Djarot ? Jelas jauh sekali. Dengan pendekatan apapun tidak akan ketemu pembenarannya.

Mininimal saya catat dalam tiga hal :

Pertama, dikotomi dan sinteman agama, tidak ada dalam Pilkada Jatim. Kubu pro Ahok dan Anti Ahok tidak ada di Jawa Timur. Dua pasangan yang sudah ada bukan identik dengan Ahok-Djarot, sehingga perlu ada calon baru yang harus melawan.

Artinya isu Pilkada DKI akan premature kalau dibawah ke Jawa Timur. Termasuk sentimen Partai. Kalau ada yang menyebut pasangan Gus Ipul dan Azwar Anas akan ditolak kalangan muslim non NU, karena dicalonkan PDI-P, juga akan gugur, karena pasangan Khofifah-Emil Dardak juga didukung Nasdem yang ketua Fraksinya diduga menghina ummat Islam dan sedang diproses hukum. Dan Golkar dengan Setnov yang menghancurleburkan logika masyarakat. Jadi tidak ada calon yang steril dari imbas Partai.

Kedua, kalau poros Gerindra-PKS-PAN bergabung, siapakah yang layak dan kapabel sebagai Gubernur dan siapakah Wagub. Mungkinkah masyarakat bisa menerima Cagub La Nyalla dan Cawagup Masfuk ? Bukankah harus sebaliknya misalnya ? Dan mungkinkah pemilik kursi dominan akan mau mengalah ?

Fenomena Sandiago Uno yang kerja keras dulu mengalah pada Anies yang tanpa partai dan datang belakangan, mungkinkah terjadi di Jawa Timur ? Sementara Presiden PKS tiba-tiba memuji Azwar Anas apakah sinyal akan mendukung ?

Ketiga, andaikan poros Jakarta terwujud, dengan Cagub La Nyalla Matalitti, maka inilah sebuah fenomena baru. Sosok pebisnis, tidak pernah di Birokrasi, tanaman sosialnya masih kalah dengan Gus Ipul atau Khofiah, Masfuk, Kang Yoto, dan tokoh lainnya, tapi bisa melaju menjadi Cagub Jatim.

Kalau itu terjadi, fenomena pemilihan umum presiden Amerika Serikat dimana Donald Trump bisa tampil bahkan akhirnya mengalahkan Hillary Clinton yang hebat, cerdas. Meski saya yakin warga Jawa Timur bukanlah warga AS.

Penulis adalah Founder Menebar Energi Positif (MEP) Institute